Tulang Rusuk Part 9
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Aku baru tau kalau kalian saling cinta. Jadi, apa salahnya aku melepaskan Arum untuk adikku sendiri."
***
Tulang Rusuk -> Part 9
Karya: ZahidahHM
Gemerlap bintang pada langit malam menemani seorang gadis yang sedang duduk menopang dagu di balik cendela. Pikirannya melayang pada masa kanak-kanak bersama orang terkasih dalam hidupnya. Tak terasa, cairan bening menyembul seenaknya. Ada rasa rindu terdalam untuk sosok Abah dan Umma.
"Abah, Umma, gadis kecil ini sudah menjadi istri seseorang sekarang. Apakah kalian bahagia?"
Bulir bening kembali keluar. Arumi Khadijah mengingat moment terberat dalam hidup dimana ia harus memutuskan dengan siapa hatinya akan berlabuh seumur hidup. Tepat seperti pertanyaan yang sudah mengoyak hati sebelumnya, ketiganya kembali bertemu tuk berbicara tentang topik yang sama di taman kampus.
"Arum, saya dan Syafiq sudah bicara. Semua keputusan ada di tanganmu. Apapun itu, kami menerima," ucap Zuhan dengan mantap.
Raut gadis yang ditanya terlihat segar, tak menunjukkan beban. "Tetap sama. Arum akan melanjutkan rencana pernikahan dengan Pak Zuhan."
Bukan hanya Syafiq, kakak dari pria yang dicintai Arum pun ikut merasakan sakit. Ada ketakukan tersendiri jika hubungannya kelak tak bisa bertahan lama.
"Apa alasannya, Rum? Bukankah kamu mencintai adikku? Begitupun Syafiq, dia juga sudah lama ingin mengkhitbahmu."
"Kenyataannya, Pak Zuhan yang lebih dulu datang dan Arum sudah menerima." Tak ada keraguan yang nampak saat kalimat itu terucap. Entah bagaimana dengan hatinya.
Syafiq menganga mendengar jawaban yang menusuk jantung. Ia tak mau jika hanya diam dan mendengarkan.
"Arumi, apa bisa dipertimbangkan lagi?"
"Maaf, Mas Syafiq. Ini keputusan final."
Final decision, itulah yang Arum katakan pada dua pria yang singgah dalam kehidupannya.
"Rum, masih belum tidur?"
Suara bariton menyapu gendang telinganya hingga ia harus keluar dari lamunan tentang memori 1 bulan yang lalu. Ia menoleh dan mendapati Zuhan yang berdiri dengan tangan kanan di saku celana.
Lelaki itu mendekat ke arahnya. Ada sedikit rasa takut serta gugup menyergap hati Arum. Tangan yang mulanya bersembunyi kini keluar dan melayang tepat di atas kepala. Refleks, gadis yang masih duduk mematung itu memejamkan mata sedang tangan suaminya menarik gagang kecil cendela dan menutupnya rapat.
"Saya cuma mau nutup cendela." Lelaki itu masih berkutat dengan cendela dan gorden.
"Besok lagi, kalau mau duduk-duduk di sini, jilbabnya di pakai, Rum."
Menyadari kekonyolannya, Arum membuka mata dan meraba rambut yang tak tertutup kain sama sekali.
"Maaf, Pak, lupa. Lagipula, ini malam hari."
"Siang atau malam, siapa saja bisa lewat dan melihat mahkotamu. Kamu mau?"
Dia hanya menggeleng, menyesal akan kelalaiannya. Sedang Zuhan berjalan menuju ranjang, menata bantal serta guling.
"Tidurlah, Rum. Sudah malam, jangan begadang!"
Mata gadis itu memandang sebuah jam karakter yang bertengger di dinding kamar. Rupanya, jarum pendek menunjuk angka 10 sedang kantuk yang mulanya Arum rasakan hilang begitu saja. Ia pun mendekat dan menaiki spring bed berukuran sedang. Tanpa ragu, gadis yang mengenakan homydress itu merebahkan diri. Ditutupnya seluruh tubuh dengan selimut tipis namun mata masih terbuka lebar.
"Kenapa Pak Zuhan belum tidur?" tanyanya saat melihat Zuhan yang membuka tas hitam.
"Ada beberapa kerjaan. Tidurlah!"
Tak mau menciptakan dialog panjang lebar, Arum mencoba memejamkan mata meskipun begitu susah. Dalam setiap tarikan napasnya, wajah sendu Zuhan dan Syafiq muncul tanpa sungkan bahkan bergelayut seenaknya. Berkali-kali, ia mengucap doa hingga terpejamlah mata sayu itu tepat pada jam 10.30 malam. Damai, tenang, seperti itulah caranya tertidur hingga tak terusik sedikit pun. Mungkin, acara siang tadi membuat tubuhnya terlalu lelah.
Salah. Nyenyaknya tidur Arum tak berlangsung lama. Kali ini, matanya kembali melebar dengan tangan meraba ke samping kiri. Ia menoleh dan tak mendapati pria yang mulanya berada di sampingnya. Tak mau larut dalam rasa penasaran, dia memaksa bangun dan betapa terkejutnya saat pria yang disebut sebagai suami tidur sembari menahan dingin di bawah tanpa sehelai selimut.
"Pak Zuhan?" Arum segera turun dan membangunkannya. "Pak, ayo, pindah ke atas."
Zuhan mengerjap dan menatap Arum dengan mimik sedikit terkejut. "Ada apa, Rum? Jam berapa ini?"
"Baru jam 1, Pak. Kenapa tidur di bawah?"
"Nggak apa-apa. Ranjangnya kecil."
Arum mendelik mendengar penuturan Zuhan. "Jangan menghina, Pak! Biar begini, tempat ini bisa menghilangkan lelah."
Bantahan gadis yang mengerucutkan bibir itu membuat dosen sekaligus suaminya terkekeh meski sangat pelan.
"Bercanda. Sengaja tidur di bawah agar kamu tidak terganggu."
"Saya tau alasannya. Ini bukan kisah-kisah di novel, Pak. Saya tidak mungkin membiarkan suami saya tidur kedinginan di bawah."
Ada rasa nyeri saat mengucap kalimat ini. Apa daya, dia harus melakukanya karena memang tabiat seperti inilah yang wajib diterapkan seorang istri.
Perdebatan masih terus berlangsung. Zuhan tetap bertahan dengan posisi tidur di atas karpet bulu milik Arum. Merasa lelah, gadis yang masih menahan kantuk itu pun kembali ke ranjang. Dengan sigap, ia memungut bantal dan selimut. Tak disangka, tanpa ragu ataupun sungkan, istri dari Dosen Matematika itu tidur bersebelahan dengan selimut menutup tubuh hingga atas dada.
Lelaki yang tengah berbaring seketika menatapnya tanpa kedip. Perasaan kaget bercampur bahagia menari-nari tak sopan di hatinya. Dipandangnya serius sosok yang masih menerawang ke atas tanpa memejamkan mata.
"Kenapa tidur di sini, Rum? Ke atas, gih!"
Pertanyaan serta perintah itu membuat Arum menoleh dan memandangnya sejenak.
"Nggak sopan, Pak. Arum tidur duluan. Maaf ya, Pak, Arum hadap kanan membelakangi Pak Zuhan."
Tanpa menunggu jawaban, gadis yang sudah merebahkan diri itu pun berbalik dengan arah yang berlawanan. Rupanya, ia tak tidur melainkan menahan air mata yang terlihat sudah mengintip di sudut indera penglihatan. Gagal. Cairan itu lolos lagi setelah bersusah payah ia mencegahnya. Kini, kerongkongannya terasa sakit akibat menahan isakan. Sungguh, dirinya takut jika suaminya mendengar dan berpikir yang tidak-tidak.
'Maaf, Pak. Arum masih sedikit kaget dengan semua ini. Semoga Pak Zuhan bersabar,' batinnya lirih.
'Saya tau kamu sedang menangis, Rum. Andai diizinkan, saya ingin merengkuh dan menenangkanmu.'
Ah, rupanya, Zuhan memahami betapa istrinya kini menahan sakit sendiri. Namun, dirinya pun ikut merasakan pedih saat menyadari alasan dibalik rapuhnya Arumi Khadijah. Bukan hanya dia, melainkan adik kandung yang selama ini ia jaga sepenuh hati.
"Kak, Syafiq pikir yang kakak lamar itu Zulfa."
"Bahkan Arum juga berpikir seperti itu. Ini salahku, Fiq. Aku bilang ke Abah kalau ingin melamar anaknya Abah Hasan jadi mereka mikirnya Zulfa."
"Terus, apa maksud omongan kakak di kampus tadi?"
"Aku baru tau kalau kalian saling cinta. Jadi, apa salahnya aku melepaskan Arum untuk adikku sendiri."
"Apa Kak Zuhan ikhlas?"
"Berusaha ikhlas."
Memori itu berputar ulang. Nyatanya, Zuhan lah yang tetap memiliki Arum. Sayang, hati wanitanya sudah penuh akan nama Syafiq. Mungkin, ia akan kuat jika harus mengikhlaskan cintanya untuk sang adik. Tapi, ia terlalu lemah jika harus hidup bersama wanita yang hatinya masih terikat dengan masa lalu. Lihat! Kali ini, lelaki yang dikenal tegar itu sangat rapuh. Sama halnya Arum, ia pun menahan tangis.
Hingga setengah jam, keduanya masih bertahan dengan posisi masing-masing tanpa memejamkan mata. Merasa lelah, Zuhan berbalik arah bebarengan dengan Arum yang juga merubah posisi tuk menghadapnya.
"Rum?"
"Pak?"
Diam. Keduanya saling tatap kehabisan kata. Napas yang berhembus saling bersahutan. Detak jantung bertalu-talu kencang. Canggung. Ya, pada akhirnya keduanya merasa canggung dan saling menundukkan pandangan.
"M-maaf, Rum. Kenapa belum tidur?" tanya Zuhan memecah keheningan.
Bukannya menjawab, Arum balik bertanya dengan gugup. "B-bapak sendiri kok belum tidur?"
"Nggak bisa tidur."
"Sama."
Hanya keheningan malam yang menemani. Sesekali, suara jangkrik memecah tiap pergulatan pikiran yang terbawa oleh angin malam. Sayup-sayup, kicauan burung dari kejauhan terdengar merdu. Hingga lima belas menit, mata yang mulanya menyala itu mulai redup, semakin redup.
Dan ... gelap. Baik Zuhan dan Arum pun menjelajahi mimpi masing-masing. Salah. Lelaki itu belum tidur melainkan kembali membuka mata. Ia menatap lekat gadis yang sedikit meringkuk di balik selimut. Tangannya naik turun ingin sekali menyentuh meski sekedar ujung rambut sebagai pengobat rindu.
"Maaf, Rum."
Jemarinya bergetar saat membelai rambut halus milik Arum. Ia pun bangkit dan menutup kaki jenjang istrinya yang sedikit terlihat. Tak mau terlalu larut dan semakin merindu, lelaki dengan kaos oblong putih itu pun bangkit, berjalan keluar entah kemana.
"Maafkan Arum, Pak Zuhan," monolognya singkat dan kembali memjamkan mata.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar