Tulang Rusuk Part 8
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Assalamu'alaikum, Zaujaty."
💕💕💕
Tulang Rusuk -> part 8
Karya: ZahidahHM
Terhitung sudah 1 bulan keputusan yang telah diambil Arumi Khadijah. Kini, tiba saatnya upacara sakral sebagai tanda awal mula kehidupan baru untuknya. Dalam sebuah kamar, gadis bergaun putih itu tengah duduk termenung sembari meremas ujung himar yang dikenakan. Tampak bibir yang terpoles pewarna pink tipis itu tak henti-hentinya mengucap doa. Mata bening tampak mengembun saat mulai terdengar krasak-krusuk di lantai bawah.
"Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijahaa bil mahril madzkuur."
Tes
Ia tak kuat dan menitikkan air mata. Rasa haru, takut, kecewa, bahkan muncul juga rasa bahagia, semua menyeruak menggerogoti ketenangan batin. Entahlah, apakah itu air mata bahagia? Atau justru wujud dari kata luka?
Hingga terdengar suara sepatu beradu yang semakin jelas di indera pendengaran. Dadanya berdebar tak karuan dibarengi rasa resah. Keringat menyelimuti seluruh telapak tangan. Hawa panas dingin menjalar hingga ubun-ubun.
"Assalamualaikum, Zaujaty."
"Waalaikumsalam," jawabnya sangat pelan.
Suara itu, suara lembut yang sudah mengusik hati dan harinya. Meski menunduk, ia sungguh tahu bahwa pria halal itu berdiri memandangnya. Tak ada kata, hanya suara napas keduanya yang terdengar berhembus syahdu. Mendongklah Arum dan menatap lelaki yang telah mengubah status lajangnya. Setetes embun jatuh sempurna tepat saat tangan sosok suami menyentuh ubun-ubun dengan mengucap doa untuk kebaikannya.
"Allahumma inni as’aluka min khoirihaa wa khoirimaa jabaltahaa ‘alaih. Wa a’udzubika min syarrihaa wa syarrimaa jabaltaha ‘alaih."
Lelaki itu membangunkannya, berdiri saling berhadapan. Terasa jemari halus menyapu pipi yang sudah basah.
"Tersenyumlah! Ini hari bahagia."
Pengantin wanita itu tak tahan dan menyenderkan kepala pada dekapan pria halal. Isakan kecil terdengar menggambarkan bagaimana keadaan hati Arumi Khadijah sekarang. Percayalah! Andai tak malu, ia ingin sekali menangis sesenggukan hingga mencapai rasa kepuasan dan kelegaan. Sedang sang pria mengelus kepalanya pelan sembari menahan rasa sakit. Ya, sakit, karena masih terlihat jelas adanya ketidakrelaan di mata wanitanya.
"Ayo, ke bawah. Semua tamu sedang menunggu kita."
Dengan wajah yang tenang, lelaki itu menggandeng Arum tuk menemui seluruh kerabat di ruang tamu. Semua tampak memandang dengan senyum bahagia terlebih pria paruh baya dengan juba abu. Gadis yang berdiri di samping mempelai pria itu asyik memindai tiap wajah. Hingga netranya masuk ke dalam manik mata seseorang yang sudah begitu sayu. Cukup lama, mereka terdiam dan saling pandang sedang pria di samping Arum melihat dengan jelas bagaimana keduanya merasakan kerinduan.
"Rum, usahakan jaga pandangan apalagi dilihat banyak orang. Nggak baik," bisiknya pelan.
Arum menegang dan mengangguk takut. "Maaf."
"Maasyaa Allah! Menantu Abah sangat cantik. Barakallah, nak!"
Menyadari Abah umar telah berdiri di depannya, Arum beserta suami sungkem ta'dzim memohon restu.
"Semoga bahagia selalu."
Kali ini, Arum tersenyum. Sayang, hanya 5 detik langsung musnah saat seseorang mendekat dan menatapnya lekat. Ingat perkataan pria yang telah menjadi imamnya, ia mengalihkan pandangan. Tanganya gemetar sedang hatinya begitu sesak. Entah kekuatan dari mana, jemari mungil Arum meraih tangan sang suami. Ah, rupanya genggaman itu terbalaskan hingga tampak keduanya seperti sepasang kekasih paling romantis.
"Kak, selamat. Semoga bahagia selalu." Beralihlah pandangan menatap jelmaan bidadari. "Arumi, selamat atas pernikahan kalian."
Ah, gadis itu tak tahan dan meneteskan air mata. Disekanya langsung sebelum sang suami menyadari betapa tidak baiknya apa yang ia lakukan.
Hari yang melelahkan, akad serta resepsi dilaksanakan dalam 1 hari full tanpa jeda meski sederhana. Sanak saudara, teman perkuliahan, hingga kerabat jauh pun ikut meramaikan. Kini, keduanya duduk di atas kursi pelaminan sembari menyaksikan semua orang bercengkrama dan menikmati hidangan.
"Apakah kamu tersiksa dengan semua ini, Rum?" tanya Zuhan pelan.
Yang ditanya menoleh seketika. "I-insya Allah, tidak, Pak."
Jam 18.30, rasa lelah serta kantuk menyergap gadis yang sedang duduk di depan kaca. Mata dengan bulu lentik itu terlihat cekung ke dalam menandakan bahwa ia butuh istirahat sejenak. Kakinya pun beranjak ke ranjang, bersiap merebahkan badan.
"Rum, di dalam?"
Sial. Rencana tuk tidur sejenak harus gagal saat suara Zulfa memekik gendang telinganya. Ia pun duduk dengan wajah frustasi dan berteriak kencang agar kakak sepupunya segera masuk. Tampak gadis dengan gamis hijau lumut membawa segelas susu hangat kesukaan Arum. Wajah ayu itu membuat istri dari Zuhan kembali merasa tertampar.
"Mbak Zulfa ...." Dipeluklah erat saat Zulfa duduk di ranjang.
"Ya Allah, Rum. Ada apa?"
Ia menggeleng dan menatap Zulfa dalam. "Mbak Zulfa baik-baik saja?"
Lihat! Munafik jika melepaskan orang tersayang itu mudah. Kenyataannya, ada yang mengiris-iris hati putri Hasan meski sedari tadi tersenyum riang. Sekarang, ia tak lagi bisa membendung tangisan. Beban itu terlalu berat.
"Mbak berusaha baik-baik saja, Rum," jawabnya dengan mengelap linangan air di pipi. "Lupakan Mbak! Bagaimana denganmu?"
"A-arum, Arum ...." Hanya ucapan terbata yang keluar sedang Zulfa paham apa yang akan adiknya katakan.
"Arum pasti bisa. Suatu saat, cinta itu akan tumbuh dengan sendirinya. Pak Zuhan sangat baik, Rum. Jangan sakiti beliau atau..."
"Jangan teruskan, Mbak!"
Zulfa terkekeh namun gadis yang mengenakan gamis motif bunga itu justru ketakutan.
"Pak Zuhan masih di bawah. Bincang-bincang sama adiknya. Kamu nggak mau turun?"
Syafiq? Bahkan dirinya saja menghindari tatapannya. Ah, Zulfa belum sepenuhnya mengerti bagaimana Arum menahan rasa dan beban ini sendiri. Hingga pintu terbuka dan menampakkan seorang lelaki dengan kemeja putih tipis, keduanya menunduk. Zulfa berbisik dan segera berpamitan keluar.
"Belum tidur, Rum?" tanya Zuhan yang masih berdiri hendak menuju kamar mandi.
"Nunggu Isya' dulu, Pak."
Tampak lelaki itu menatapnya heran. "Saya pikir sudah sholat."
"Saya seorang makmum, jadi saya akan sholat jika imam saya sudah siap."
Kalimat biasa, tetapi membuat lelaki itu berdebar. Dengan gerakan cepat, ia mengangguk dan menuju kamar mandi, bergantian dengan Arum yang juga hendak bersuci. Keduanya menggelar sejadah biru dan melaksanakan sholat dengan khusyu'.
4 rakaat wajib dilengkapi 2 rakaat sunnah telah usai. Gadis berbalut mukenah putih dengan morif bunga di tiap sisi kain mencium ta'dzim tangan sosok pria yang ia sebut sebagai imam sholat. Meski sedikit terpaksa, Arum berusaha tersenyum demi baktinya pada suami.
"Trimakasih. Sekarang, tidurlah!" ucapnya sembari mengelus kepala sang istri.
"Pak Zuhan tidak tidur?"
"Nanti menyusul."
Kesempatan emas karena memang dirinya begitu lelah. Arum segera melepas mukenah tanpa sungkan meski rambut hitamnya terlihat tepat di mata Zuhan.
"Kamu tidak malu membuka jilban di depan saya?"
"Kenapa harus malu, Pak? Cepat atau lambat, Pak Zuhan pasti akan tau. Lagipula, tidak berdosa, kan?"
"Tidak." Sesaat, lelaki itu menyadari satu hal. "Sebentar, Rum."
Zuhan berdiri dan mengambil sesuatu di atas laci milik Arum. Ia kembali duduk tepat di belakang gadis yang masih memegang lipatan mukenah serta sejadah.
"Begini lebih baik," ucap Zuhan sembari melepaskan ikat rambut.
Ia menyisirnya dengan lembut hingga membuat Arum semakin salah tingkah.
"Kalau tidur, usahakan melepas ikatan rambut. Ini mahkota yang harus dijaga."
"H-hubungannya?" tanyanya gugup.
"Folikel rambut bisa rusak parah kalau kebiasan seperti ini terus dilakukan, Rum. Lagi pula, kamu lebih cantik dengan rambut tergerai."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar