Tulang Rusuk Part 7
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
"Baiklah, diamnya kalian menandakan 'ya.' Rum, masih ada waktu 1 bulan sebelum hari H. Saya tidak mau menyiksamu. Sekali lagi, saya tanya, apa kamu serius dengan hubungan ini?"
💕💕💕
Tulang Rusuk -> Part 7
Karya: ZahidahHM
Diam-diam berjumpa dalam doa, berharap Allah segera mengijabah. Akankah Allah menjawab 'Ya' atau justru sebaliknya? Ah, insan hanya berusaha melangkah, namun tetap Tuhan yang menentukan keputusan finalnya.
Arumi Khadijah, gadis riang dengan otak cemerlang bersandar di kursi teras depan. Gadis itu menikmati hembusan angin sore sembari memandangi remaja santri yang memenuhi ramainya jalanan.
"Ngajinya sudah selesai kan, Rum? Ayo masuk!"
Lagi, Hasan seolah mengintai tiap aktivitasnya. Gadis itu menghela napas dan mengangguk pasrah.
"Sebentar, Pakdhe. Arum-"
"5 menit, nggak ada alasan!" Ujar pria 50 tahunan yang langsung melenggang masuk.
'Sebentar saja, Pakdhe. Arum ingin melihatnya,' batinnya lesu.
Tepat sekali, sosok bersarung hitam dengan koko biru laut berjalan beriringan dengan seorang kawan. Arum mendongak namun segera menunduk saat sang Pria telah lewat tepat di depan rumahnya. Ah, rupanya gadis itu tak mampu menahan. Ia mendongak kembali dan menatapnya. Sempurna! Netra keduanya bertemu dalam 3 detik. Setelahnya, Syafiq tersenyum menunduk.
'Maasyaa Allah, Mas Syafiq tersenyum.' Ia membatin kegirangan.
"Arum!"
"Mas Syafiq ..."
Ah, rupanya Arum bermimpi. Bukan, tepatnya mengenang masa-masa mengagumi anak Adam dalam diamnya. Ia terduduk dengan peluh yang membasahi pening. Sesak kembali menyerang hingga menimbulkan tangisan yang tertahan. Rasa sesal juga hadir mengejeknya. Saat ini, ia terisak merasakan kesakitan.
Tanpa disadari, seseorang mengamati sedari tadi. Tampak sosok yang berada di depan pintu memainkan ponsel. Mengirimkan pesan? Mungkin. Hanya itu, ia yang mulanya mematung mengamati Arum pun beranjak pergi.
Drrt drrrrt
Arum yang mulanya membenamkan wajah pada tangan yang bertumpu pada lutut itu mendongak seketika. Terlihat layar ponsel yang tergeletak di sampingnya menyala dengan menampakkan nama Pak Zuhan. Ia berdecak sebal namun berusaha bersikap wajar. Diambilnya benda pipih sembari menata hati.
"Assalamualaikum," ucapnya dengan suara serak.
"Waalaikumsalam. Kenapa, Rum? Lagi sakit?"
"Nggak."
"Sudah makan?"
"Sudah."
"Kamu nggak pandai berbohong, Rum. Makanlah, jangan menyiksa diri."
Diam. Hanya itu yang dilakukan sembari mencerna kata yang Zuhan lontarkan. Apakah pria itu tahu segala tentangnya? Entahlah, gadis yang masih memegang ponsel itu hanya mampu bertanya dalam hati.
"Rum?"
Kaget dengan panggilan, ia mengerjap. "Eh, i-iya, Pak. Assalamualaikum."
Tak terdengar jawaban salam dari lelaki di ujung sana karena icon telepon merah langsung ia tekan tanpa aba-aba. Dengan gerakan cekatan, Arum merebahkan tubuh sembari memejamkan mata. Hening. Pikirannya melayang, mengingat akan sikapnya pada Zuhan. Ah, rupanya, ia tak bisa jika abai dan meninggalkan jejak luka pada orang yang begitu lembut dalam memperlakukannya.
Kembali gadis itu duduk dan membawa ponsel dalam genggaman. Tampak nama Zuhan dalam deretan daftar kontak, ia memberanikan diri menekan icon telepon berwarna hijau. Nada panggilan terus berbunyi namun tak kunjung diangkat. Hingga panggilan yang ke tiga kali, terdengar bagaimana suara hembusan napas seorang pria.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Ada apa, Rum?"
"Pak, maaf. Tadi, Arum-"
"Nggak apa-apa. Sudah makan?"
"Sebentar, Pak." Ia beranjak dari ranjang, keluar, dan turun ke lantai bawah. Kakinya melangkah pasti menuju sebuah ruangan yang penuh dengan perkakas beling dan sekawanannya. Tangannya lihai mengambil sebuah wadah beserta sajiannya.
"Rum, kenapa?"
"Sebentar, Pak. Arum tutup dulu."
Tak menghiraukan pertanyaan Zuhan, Arum berkutat dengan makanan dan membawanya ke kamar. Ia menggelar karpet tipis dan duduk dengan meletakkan sepiring nasi serta lauk di hadapannya. Gadis itu merogoh ponsel dan mengambil potret hidangan. Perfect!
Send *Pict*
[Arum makan, Pak]
Pak Zuhan
[Alhamdulillah. Selamat makan.]
Arum
[Pak Zuhan sudah makan?]
Pak Zuhan
[Sudah. Semoga suatu saat bisa makan berdua.]
Arum
[Aamiin]
Mungkin emot yang ia kirimkan menunjukkan senyuman. Kenyataannya, yang ia rasakan adalah kekecewaan yang berujung tangisan. Apa daya, dirinya sendirilah yang mengambil keputusan maka resiko pun harus dihadapi dengan tegar tanpa menganggapnya sebagai beban. Entah sampai kapan akan bertahan? Sembari meraba makna sebuah keikhlasan, Arum berusaha mengunyah dan menelan makanan. Sesekali, ia meneguk air agar masuk ke kerongkongan. Semua terasa tawar, begitulah batinnya.
Ting
Pak Zuhan
[Besok tetep masuk kuliah. Jangan bolos lagi!]
***
Mentari menyapa, menghangatkan seluruh isi dunia, namun, tidak dengan hatinya. Semua masih sama, beku dengan segala rasa yang menyiksa jiwa raga. Ia berjalan gontai, mengabaikan panggilan seorang perempuan yang mengejarnya pelan dengan sepeda matic berwarna putih.
"Arum! Astaghfirullah." Zulfa terpaksa menghadangnya hingga Arum berhenti dengan tatapan tajam.
"Kenapa sih, Mbak?"
"Kamu yang kenapa? Mbak manggil dari tadi. Ayo, berangkat bareng!"
Terpaksa menuruti kemauan sang kakak agar tak ada lagi perdebatan. Dua gadis dengan selisih umur 5 bulan itu pun berangkat menuju kampus tuk mengais ilmu.
Kini, tepat jam 10, seorang pria berjas abu memasuki ruangan tempatnya belajar. Dengan susah payah ia menelan saliva saat menyadari bahwa dirinya harus berkutat dengan mata pelajaran yang diampuh seorang dosen yang tak lain adalah calon suaminya sendiri. Tegang sekaligus kalut membuatnya terus menunduk. Siapa sangka, sosok Zuhan mampu menciptakan suasana mengesankan.
"Arumi Khadijah? Sehat?" tanyanya seolah tak tau apa yang sedang terjadi pada gadis penyandang nama Arumi.
Ia mendongak dengan tatapan sendu. "Sehat, Pak."
Well, lupakan sejenak tentang perasaan Arum! Beralihlah keheningan dalam ruangan, menyisakan suara Zuhan yang menggema. Penjelasan demi penjelasan yang diselipi quiz sedikit membuat hatinya yang mulanya kacau semakin membaik. Setidaknya, ada kesibukan dan keramaian yang membantu melupakan segala masalah.
"Arum, tolong nanti bawa lembaran quiz teman-teman ke ruangan saya!"
"Baik, Pak."
See! Semua seolah terlihat normal seperti percakapan guru dan murid. Ah, bukankah itu benar adanya? Sesuai perintah, Arum mengambil tumpukan kertas dan membawanya ke sebuah ruangan. Tampak sepi, hinga ia enggan masuk dan hanya berdiri dengan berdehem berulang-ulang.
"Masuk, Rum."
Rupanya, sosok yang ada di dalam menyadari kedatangannya. Mau tak mau, ia melangkah masuk sembari mengucap salam. Dengan gugup, Arum duduk di hadapan Zuhan yang terhalang sebuah meja persegi.
"Ini hasil quiz teman-teman, Pak. Saya permisi."
"Tunggu, Rum!"
Langkahnya terhenti bebarengan dengan detak jantung yang berlari kencang. "Kenapa, Pak?"
Yang ditanya hanya memainkan ponsel. Selang 3 menit, pria berwajah menenangkan itu menatapnya sekilas.
"Ikut saya ke taman sebentar!"
"B-buat?"
"Nanti kamu akan tau."
Zuhan keluar begitu saja sedang Arum mematung. 3 detik. Ia sadar dan segera mengikuti langkah pria yang cukup lebar. Jantungnya mulai berpacu saat tiba di taman. Terlihat seorang pemuda berkemeja putih motif kotak duduk dengan menopang dagu. Hanya melihat punggungnya sekilas, gadis berparas manis itu sangat tahu siapa dia.
Deg
Zuhan menghentikan langkah tepat di samping lelaki yang ia amati sedari tadi. Dia, Syafiq, menoleh sembari mengembangkan senyuman pada sosok kakak yang berstatus sebagai dosen Matematika.
"Kak Zu-" ucapnya terhenti saat menyadari sosok Arum menyembul di balik punggung Zuhan. "Arumi..."
"Pak, saya mau balik." Ia mulai berbalik arah melangkah. Gagal. Pemuda berprestasi gemilang itu nengeluarkan suara bariton hingga membuatnya beku di tempat.
"Duduklah, Rum! Semua harus dibicarakan."
Big No! Ia tak mungkin duduk di antara dua pria yang telah mengusik harinya. Dilihatnya batu besar di depan kursi memanjang tempat dua lelaki itu menyandarkan tubuh. Pilihan yang tepat, maka Arum pun duduk dengan menyembunyikan ketidak nyamanan.
"Fiq, katakan yang sebenarnya!" Pertanyaan yang ditujukan pada Syafiq membuat hati gadis yang berdiam diri tertampar.
"A-apa, kak?"
"Hatimu."
Diam, semuanya diam terlebih adik Zuhan yang masih mencoba mencerna kata. Sungguh, gadis yang hanya mampu mendengar ingin berteriak kencang bahwa tak sepatutnya hal ini dipertanyakan di depannya.
"Baiklah, diamnya kalian menandakan 'ya.' Rum, masih ada waktu 1 bulan sebelum hari H. Saya tidak mau menyiksamu. Sekali lagi, saya tanya, apa kamu serius dengan hubungan ini?"
"Pak?"
"Jawab, Rum!"
"A-arum..."
"Sudah, cukup! Saya sudah tau jawabannya. Assalamualaikum."
Lolos sudah air matanya sembari memandangi punggung tegap itu semakin menghilang ditelan keramaian. Sedang lelaki yang tak jauh dari jangakauannya pun ikut merasakan betapa gadis itu tersiksa batinnya. Andai bisa, ia ingin merengkuh dan menenangkan. Ah, semua itu tak akan terjadi jika hubungan halal saja begitu sulit digapai.
"Arumi, Kak Zuhan-"
"Arum yang salah, Mas. Arum bukan perempuan baik."
"Jangan bicara seperti itu, Rum!"
"Arum sudah melukai perasaannya." Ia berhenti dan mengusap air mata. "Lupakan perasaan Arum! Tapi, bagaimana dengan Abah dan seluruh keluarga, Mas?"
"Nanti, aku bicarakan lagi sama kakak."
"Boleh Arum tanya satu hal?"
Syafiq mengangguk dan siap mendengar pertanyaan Arum. "Sejujurnya, bagaimana perasaan Mas Syafiq sekarang?"
"Bahagia." Ia tersenyum sangat manis. "Tapi, aku akan lebih bahagia kalau kakakku juga bahagia."
***
Dalam sebuah kamar, gadis bergaun putih tengah duduk termenung sembari meremas ujung himar yang dikenakan. Tampak bibir yang terpoles pewarna pink tipis itu tak henti-hentinya mengucap doa. Mata bening itu mulai mengembun saat mulai terdengar krasak-krusuk di lantai bawah.
"Qobiltu nikaahahaa wa tazwiijaha bil mahril madzkuur."
Tes.
Ia tak kuat dan menitikkan air mata. Rasa haru, takut, kecewa, bahkan muncul juga rasa bahagia, semua menyeruak menggerogoti ketenangan batin. Entahlah, apakah itu air mata bahagia? Atau justru wujud dari kata luka?
Hingga terdengar suara sepatu beradu yang semakin jelas di indera pendengaran. Dadanya berdebar tak karuan dibarengi rasa resah. Keringat menyelimuti seluruh telapak tangan. Hawa panas dingin menjalar hingga ubun-ubun.
"Assalamualaikum, Zaujaty."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar