Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 5

 "Rum, mau menungguku?"

"Menunggu?"


💕💕💕


Tulang Rusuk -> Part 5

Karya : ZahidahHM


Masih tentang Arumi, gadis itu tengah terduduk menimang-nimang kertas pemberian Syafiq. Ia menjelajahi memori peristiwa indah tiga tahun lalu. 


Kala itu, masa di mana Syafiq masih menyandang status sebagai santri di pesantren yang terletak tak jauh dari rumah Abah Hasan. Masa itu pula, Arum dan Zulfa masih rutin mengikuti pengajian sore sebagai santri kalong. Hingga tiba saatnya pulang, keduanya berjalan beriringan dan berhenti seketika saat suara sosok Adam memanggil lantang.


"Mbak!"


Dua perempuan dengan gamis hitam itu hanya bisa saling pandang. 


"Assalamualaikum, Mbak!"


Tepat sekali, tuk yang kedua kalinya, pria itu memanggilnya. Suara yang teramat dekat, bisa dipastikan sosok itu telah berdiri tegap di belakangnya. Tak ada pilihan lain, Arum membalikkan badan perlahan, begitupun Zulfa.


"Waalaikumsalam. I-iya, Mas?" Sungguh berani, Arum mengawali percakapan dengan pertanyaan.


Tampak pria itu mengulurkan tangan dengan sebuah buku biru, "bukunya jatuh, Mbak."


Sejenak, perempuan itu mengamati kitab dalam dekapan. Tepat sekali, mulanya datang dengan kitab dan 2 buku, namun, hanya tersisa 1 buku. Ah, itu memang miliknya.


"Mbak Arumi?"


Sungguh, Arum cengo menatapnya. Sesekali, dia menunduk kikuk sembari mengerjapkan mata, 'Mas Syafiq tau namaku?' Batinnya heran.


"Ada tulisannya di sini, Mbak. Arumi Khadijah, sampean, kan?"


Arum tersenyum mengingat semua itu.


 "Kenapa aku begitu konyol saat itu?" ucapnya sambil terkekeh pelan.


Tak mau terlalu larut dalam angan, gadis itu keluar kamar hendak mencari udara segar. Sayang, ia harus menghentikan langkah saat mendapati Zulfa duduk termenung di atas ranjang. Ya, itu terlihat dari celah pintu yang sedikit terbuka. Niat awal pun musnah dan berganti memasuki kamar kakak sepupu. Ia berjalan pelan sembari mengatur segala tindakan dan tutur kata. 


Hening. Hanya suara sandal Arum yang beradu memecah sepi. Namun, gadis yang ia hampiri sama sekali tak menoleh. Ia pun nekat duduk bersebelahan dan menyentuh pundak Zulfa pelan. Ada harap bahwa yang ada di hadapannya menyambut hangat dengan senyuman seperti masa-masa sebelumnya. 


"Mbak, Arum-"


"Keluarlah, Rum!"


Tampak Arum begitu memelas belas kasih Zulfa. "Arum mohon, Mbak. Kita sudahi masalah ini."


"Kenapa kamu tidak menolaknya?" tanyanya sangat lirih.


Yang ditanya menghela napas dan memandangnya penuh keseriusan. 


"Apakah ada jaminan jika aku menolak maka Pak Zuhan akan menjadi jodohmu, Mbak?"


Penjelasan gadis itu sangat menampar. Zulfa mendongak dengan tatapan nanar seolah menyadari bahwa pernyataan itu benar adanya. Sedang Arum mengulum senyum saat tak ada lagi bantahan atau bentakan. Dipeganglah jemari Zulfa.


"Arum belum menerima, hanya meminta waktu. Terhitung kurang 5 hari, semua bisa berubah atas kehendakNya. Apa Mbak percaya itu?"


Diam, tak ada jawaban darinya. Tanpa diduga, Zulfa menyerang Arum dengan pelukan dan isak tangis. Ada rasa bahagia melihat sikap kakak sepupu namun juga muncul rasa iba.


"Percayalah, Mbak. Semua sudah diatur," tuturnya sembari menyeka air mata.


"Maafkan Mbak ya, Rum! Mbak salah."


"Arum juga minta maaf, Mbak. Arum-"


"Sstt! Jangan katakan apa-apa lagi! Kalaupun Arum mau menerima Pak Zuhan, Mbak ikhlas."


"Mbak-"


"Tapi, jangan sakiti dia karena Mbak bisa saja merebutnya sewaktu-waktu."


"Astaghfirullah, Mbak."


Raut muka yang sangat serius itu kembali normal dengan kekehan ringan. 


"Makanya, kamu juga harus tegas dengan pilihan, Rum."


Apa yang dialami detik ini, membuat Arum semakin yakin bahwa apa yang Allah gariskan sangatlah indah. Namun, ia pun masih meraba keyakinan akan pilihan calon imam yang maaih setia menunggu jawaban. 


Siang berganti malam, hingga bertemu lagi dengan sinar terangnya mentari. Pagi ini, jam 9, Arum sudah berdandan rapi. Bibirnya tak berhenti memperlihatkan senyuman sedang pipinya bersemu merah. Gamis maroon dengan hijab kuning kunyit membuat gadis itu semakin mempesona. 


Ia berjalan keluar dengan anggun. Ditapakilah tiap anak tangga sembari membayangkan bagaimana rupa lelaki yang akan ia temui.


"Pasti Mas Syafiq makin ganteng." Sesaat, gadis itu membekap mulut. "Astaghfirullah, lancang sekali mulut ini."


***


Tiba di sebuah taman, Arum melangkah dengan bebas. Sesekali, khimar yang ia kenakan terbang tertiup semilir angin. Kakinya terus berayun menjajaki empuknya rerumputan. Hingga tampak kursi berwarna putih, ia mendudukinya perlahan. 


Dengan pandangan lurus ke depan, mata Arum membelalak lebar saat melihat sosok pria yang dikagumi berlaku tak sepantasnya. Netra itu mengembun dengan bibir sedikit bergemetar. Ia mencoba menahan sesak sembari menghalangi lolosnya isakan.  


Kini, gadis dengan balutan gamis maroon itu berdiri dengan tatapan tajam. Rupanya, Syafiq berjalan ke arahnya sedang gadis yang bersamanya tadi sibuk membeli sesuatu di ujung sana. Lelaki itu semakin dekat dan memanggil namanya. 


"Assalamualaikum, Rum."


Lidah Arum terasa kaku. Ia mendongak sembari memilin gamis yang ia kenakan.


 "Waalaikumsalam, Mas. Gadis tadi siapa?"


Tampak Syafiq terkekeh. "Kamu kepo, ya?"


Ia menunduk malu bercampur takut. Ya, takut akan kenyataan pahit yang akan menghancurkan segala harapan. 


"Pacarnya ya, Mas?"


"Kalau iya kenapa? Kalau tidak juga kenapa?"


Deg


Pernyataan itu suatu kenyataan atau hanya candaan? Gadis itu beku sesaat. Setelahnya, ia mengehla napas berusaha merespon dengan sikap normal. Senyumnya terbit meski sangat dipaksakan. 


"Eh, nggak apa-apa, Mas. Cantik."


"Ada orang yang jauh lebih cantik dan memikat hatiku sejak dulu, Rum."


Sekali lagi, Arum semakin tegang mendengar penuturan Syafiq. Ia ingin bertanya lebih lanjut namun diurungkan saat gadis yang ia curigai telah datang. Obrolan merambah kemana-mana namun hanya sebatas bertukar kabar dan pengalaman selama masa belajar. 


Tak terasa, satu jam berlalu. Merasa kurang pantas, Arum beranjak dan berpamitan pulang. Berkali-kali Syafiq menawarkan tumpangan namun ia tolak dengan halus. Bukan apa-apa, hanya saja, hati gadis itu sedikit kecewa dengan pernyataan Syafiq meski itu belum tentu benar adanya.


Tiba di bangunan sederhana namun terkesan mewah, Arum melangkah masuk. Namun, ia berhenti mendadak di ambang pintu saat terlihat punggung lelaki berjas Abu. Napasnya semakin menderu saat hendak mengucap salam. Rupanya, mereka yang di dalam lebih dulu menoleh, memandanginya yang setia berdiri mematung.


"Rum, sudah pulang? Ada Pak Zuhan. Beliau menunggumu dari tadi." 


Itu suara Zulfa yang semakin membuat Arum merasa enggan mendekat. Ya, ia masih terlalu takut ada luka lagi di hati sang kakak. Di sisi lain, hatinya sendiri pun sedang dilema dan tersiksa.


Ah, ternyata gadis yang sedang gundah itu kalah dan pasrah. Ia berjalan ke arah kursi di mana 4 orang duduk dengan tenang.


 "Assalamualaikum. Sudah lama, Pak?" 


"Waalaikumsalam. Lumayan, Rum. Untung ada Budhe dan Pakdhe yang menemani."


"Oh, iya, Pak."


"Ada yang mau saya bicarakan, Rum."


"Arum juga. Mumpung kalian semua kumpul di sini."


"Ya sudah, kamu duluan."


Arum melirik Zulfa dan dibalas dengan anggukan. Sepertinya, gadis yang berstatus sebagai kakak sepupu itu paham apa yang akan ia sampaikan. Dengan bacaan basmalah, bibirnya mulai terangkat hendak berucap.


 "Arum menerima lamaran Pak Zuhan."


Tampak semua memandang cengo terlebih Zulfa yang hampir menitikkan air mata. Namun, bibir itu tersenyum sementara tangan halusnya menepuk punggung Arum sembari menenangkan. 


"Sudah yakin, Rum?"


"Mbak Zulfa tidak apa-apa?"


"Kita sudah bicarakan ini kemarin. Mbak juga tidak main-main tent-"


"Hentikan, Mbak! Arum serius." 


Gadis itu memandang Zuhan tanpa ragu. 


"Pak Zuhan, besok bisa datang lagi kemari sama Abah."


Lelaki yang diajak bicara semakin kaget mendengarnya. 


"Sebentar, Rum. Kenapa mendadak? Ada hal lain yang harus saya sampaikan."


Tak raut kebohongan di mata Arum. Ia menghirup napas dan mengeluarkannya perlahan. Dipandanglah lekat lelaki yang sedang berhadapan dengannya. 


"Saya serius, Pak. Saya ikhlas dan menerima Pak Zuhan sepenuh hati."


"Lalu, Syaf-"


"Saya sudah tidak ada urusan dengannya, Pak."


Melihat perdebatan ringan, Hasan ikut berucap dna menengahi. 


"Ya sudah. Tolong besok kemari lagi, Nak Zuhan. Kita bicarakan lebih lanjut. Sepertinya Arum sedang capek hari ini."


"Baiklah. Saya pamit. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Kini, dalam kamar, Arum mengurung diri. Berkali-kali Zulfa mengetuk pintu namun ia enggan beranjak. Katanya, hati dan pikiran sedang lelah dan ingin beristirahat sejenak. Ia mulai memejamkan mata sembari memikirkan tiap perkataan di hadapan Zuhan berulang-ulang. 


Bersamaan dengan itu, ada rasa sesak saat mengingat Syafiq dan pengakuan akan seorang wanita. Sesaat, ia membekap mulut, merutuki kebodohannya kenapa tak mau bertanya lebih lanjut. Ah, sudahlah, mungkin tidak jodoh. Begitulah kilahnya untuk menenangkan hati.


Ting


Notif pesan mengagetkannya. Namun, ia begitu enggan melihatnya. Katanya, mengistirahatkan badan jauh lebih menyenangkan dibanding sebuah pesan. 


Ting


Ah, ponselnya kembali menampakkan pesan. Gadis itu hanya mengedikkan bahu acuh sembari merebahkan diri sejenak.


Drrt drrt


Sungguh, ia ingin sekali mengumpat bahkan membanting ponselnya. Dengan terpaksa, Arum duduk dan meraih ponselnya.


"Ass-"


Tut


Ah, rupanya ia telat mengangkat. Penelepon yang entah pria atau wanita lebih dulu memutus sambungan. Tak mau ambil pusing, Arum merebahkan kembali badannya.


Drrt drrt


"Astaghfurullah! Siapa, sih?" Lihatlah, ia memasang wajah dongkol dan mengangkat paksa panggilan itu.


"Assalamualaikum. Maaf ini siapa? Ada perlu apa? Ini sudah-"


"Walaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh."


Diam, menegang, gugup, semua menjadi satu. Suara itu, seseorang yang ia damba. Arum sungguh mengenalinya. 


"M-maaf, ini siapa?" Ah, gadis itu berpura-pura tak mengenalinya.


Terdengar kekehan kecil yang membuat hatinya semakin berdebar. 


"Masa' nggak tau sih, Rum?"


"Eh, emm, m-maaf-" lihatlah, ia bahkan tak mampu berbicara dengan baik.


"Ini Syafiq Albana. Nomor yang kemarin dihapus aja, save ini. Tadi aku chat nggak dibuka, sekarang kaget, kan?"


Deg


Tubuhnya menegang seketika dengan hawa panas meyelimuti seluruh wajahnya. 


"Arumi Khadijah?"


"Eh, i-iya Mas?"


"Tidur? Atau kaget?"


Sungguh, wajahnya memerah menahan malu.


 "Ah, n-nggak kok, Mas."


"Ekhem. Sebelumnya maaf ya, Rum. Maaf karena aku lancang menghubungimu. Ada hal yang harus aku sampaikan. Siap mendengarkan?"


"S-siap, Mas."


"Rum, mau menungguku?"


"Menunggu?" tanyanya heran.


"Iya. Aku akan mengkhitbahmu."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42