Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 4

 "Rum, boleh bertanya satu hal?"

"Silakan, Pak."

"Apa yang membuatmu jatuh hati pada adikku?"


💕💕💕


Tulang Rusuk -> Part 4

Karya: Zahidah H.M.


Tiba di depan bangunan megah dan tinggi menjulang, dua orang dengan tujuan yang sama turun perlahan. Lalu lalang pria wanita sebaya menambah kesan keceriaan. Pohon-pohon yang berjajar rapi menciptakan kesejukan. Tidak seperti kebanyakan orang yang melangkah bebas memasuki sebuah halaman, Arum justru merasakan lemas. Ia berhenti mendadak tanpa aba dan menyisakan tanda tanya pada netra Zuhan.


"Kenapa berhenti, Rum?"


"Monggo, njenengan di depan, Pak. Bukankah seorang murid harus ta'dzim pada gurunya?"


Ada duri yang menancap seketika, tetapi tak bisa disangkal bahwa hati sang pria pun berbunga. 


"Itulah yang membuat saya jatuh hati padamu."


Arum semakin menunduk. Niat hati ingin bertindak sopan namun justru menabur harapan pada pria yang tak bersalah. Ia pun berjalan tepat di belakang Zuhan. Langkah keduanya teramat pelan, beruntung tak satupun mahasiswa menaruh curiga atau sekedar memandang heran.


Tiba di ruang yang ia sebut sebagai kelas semester akhir jurusan Pendidikan Agama Islam, Arum menghentikan langkah. Tak disangka, Zuhan pun ikut berhenti seketika dan menoleh ke arahnya dengan senyuman terbaik. Merasa canggung bercampur malu, gadis itu menunduk kikuk.


"Masuklah. Belajar yang rajin. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam."


Bolehkah dia berteriak bahwa saat ini hatinya sedang berbunga? Ah, boleh saja. Namun, satu hal yang pasti, ia sekedar bahagia karena diperhatikan seorang dosen muda kebanggaan mahasiswa di universitas. 


Selama pembelajaran, pikiran Arum tidak tenang. Setiap perkataan sosok Zuhan tergiang-ngiang. Seperti sekarang, tiba dosen menerangkan beberapa materi perkuliahan, gadis yang senantiasa duduk di bangku paling depan hanya mampu memandang tanpa menampung penjelasan. 


"Kamu kenapa, Rum? Ada masalah?" tanya seorang teman yang kebetulan duduk di sampingnya.


"Nggak apa-apa, cuma capek dengan kegiatan," ucapnya pelan dan kembali memandang ke arah papan putih.


Jam 1, usai sudah kegiatan di kampus. Arum merasakan capek yang begitu hebat, bukan fisik melainkan hati. Kali ini, ia melangkahkan kaki dengan gontai. Matanya begitu sayu seolah tak tidur semalaman. Meski begitu, selama melewati lorong kampus, gadis periang ini mencoba tetap tersenyum dan menyapa setiap teman yang juga berjalan keluar. 


Tiba di depan gerbang, ayunan kaki berhenti mendadak saat terlihat seorang lelaki berdiri memunggungi. Ia tahu betul siapa dia. Diam-diam, Arum mudur sejengkal hendak berputar arah. 


Namun, apa daya, ia tak pandai memainkan tabiat buruk seperti itu. Katanya, wanita harus bertindak dan bertutur kata yang santun. Sembari menetralkan napas yang sudah tak beraturan, gadis yang setia mendekap buku itu pun menyapa Zuhan.


"Lho, belum pulang, Pak?"


Yang ditanya menoleh seketika. "Sudah selesai? Saya nungguin kamu. Ayo, pulang bareng."


"Tapi-"


"Tadi berangkatnya bareng, jadi pulangnya harus bareng."


Tak ada kata yang patut ia ucapkan untuk membantah. Ia pun berjalan di belakang Zuhan menuju halte yang jaraknya tak jauh dari bangunan kampus. Ada rasa lega saat kendaraan beroda enam berhenti di hadapan. Keduanya melenggang masuk mencari posisi ternyaman. 


Sungguh kebetulan, keduanya saling pandang saat menyadari hanya tersisia dua kursi yang saling berdampingan. Arum jengah dan membuang napas kasar sembari mendudukkan badan. Diliriknya perlahan dosen yang masih setia berdiri. Ia pun mengangguk sebagai tanda bahwa dirinya akan baik-baik saja jika duduk bersebelahan sedang Zuhan bergegas menempati kursi kosong itu.


"Rum, boleh saya tanya satu hal?" tanya Zuhan untuk memecah keheningan.


"Silakan, Pak."


"Apa yang membuatmu jatuh hati pada adikku?"


Arum menunduk dan berpikir keras bagaimana agar mampu menjawab tanpa menyakiti hati Zuhan. Melihat diamnya, lelaki itu mengibaskan tangan di depan wajah ayu sosok yang bersatatus sebagai mahasiswi semester 8.


 "Rum?"


Gadis itu mengerjap dan memandangnya beku sesaat. Lalu, tangannya lihai mencari sesuatu di dalam tas hitam kecil yang ia pangku. Tampak sebuah buku biru yang keluar. Dibukanya lembaran paling tengah yang memperlihatkan potongan kertas persegi berukuran 4x6. Bukan sebuah foto, melainkan dua rangkai kata dengan tulisan arab. Arum menyodorkan pada pria yang memandangnya heran.


"Syafiq Albana. Ini tulisan Syafiq, kan?"


Gadis itu hanya mengangguk dan memandang lurus ke depan. Bibirnya mulai terangkat dan menuturkan kisah 3 tahun silam. 


"Saya sendiri juga tidak tau, Pak. Karena saya dan Mas Syafiq nggak pernah saling bicara. Tulisan itu adalah awal mula perkenalan kita."


Lihat! Memori yang ia tuturkan pada Zuhan membuatnya tersenyum manis sedang Zuhan merasakan nyeri teramat dalam. 


"Pandangan pertama. Apakah benar seperti itu?"


"Bisa jadi. Saat di kamar, saya membuka buku ini dan terdapat tulisan arab yang indah. Mungkin ini caranya mengajak berkenalan. Sejak saat itu..." 


Gadis itu terdiam, tak berani melanjutkan kata. Diliriknya pria yang masih berusaha tegar mendengar. 


"Maaf, Pak. Saya nggak bermaksud-"


Zuhan mencoba menahan sakit. Biarlah dirinya sendiri yang meraba makna cinta sesungguhnya. 


"Nggak apa-apa. Boleh saya tanya lagi?"


"Silakan, Pak?"


"Apakah kamu mau memberi saya kesempatan untuk mengambil hatimu?"


Lagi dan lagi, pertanyaan pria berpendidikan tinggi itu selalu membuatnya tegang seketika. 'Tit.' Rupanya, alam sangat baik dan berpihak padanya. Suara klakson itu mempermudah dirinya untuk mengubur rapi semua jawaban atas pertanyaan Zuhan.


"Eh, Pak. Sudah sampai. Saya duluan. Assalamualaikum."


Tanpa menunggu jawaban salam, Arum segera berdiri sebagai isyarat bahwa ia benar-benar ingin turun dan kembali ke hunian. Menyadari itu, Zuhan turut serta beranjak dari kursi dan memberi ruang untuknya berjalan keluar.


 "Waalaikumsalam."


Hanya butuh beberapa menit, keponakan Hasan itu telah tiba dan melenggang masuk ke dalam kamar. Beruntung, ia sedang berhalangan sehingga bisa merebahkan diri sebentar.


Ternyata, hari ini adalah hari yang paling menegangkan sekaligus melelahkan. Saat hendak memejamkan mata, notif ponsel membuatnya berdecak sebal. Takut akan adanya informasi penting, Arum segera membuka pesan yang tertera. Rupanya, nama Zuhan yang terpampang begitu nyata.


Pak Zuhan

[Assalamualaikum. Saya sudah sampai rumah.]


Ting


Belum sempat membalas, pesan lain muncul dengan deretan angka tanpa nama. Merasa asing dan penasaran, ia abai akan pesan dosennya dan memilih membuka notif yang baru muncul.


+685708xxxxxx

[Assalamualaikum, Arumi. Masih ingat aku? Kalau lupa coba lihat kertas yang tersimpan di buku birumu. Masih ada nggak?]


Gadis itu mengerjap, bahkan mengucek matanya berulang-ulang. Tak ada yang salah dengan penglihatannya. Untuk memastikan, ia mengambil buku biru bagian tengah dan memegang erat kertas persegi pemberian dari sang pria 3 tahun yang lalu. Ah, bibir Arum tersungging dengan menampilkan deretan gigi yang sangat rapi.


"Apakah ini benar Mas Syafiq?" tanyanya pada diri sendiri.


Perasaannya begitu gugup, jauh lebih gugup dibanding saat berdekatan dengan Zuhan. Jemarinya menampakkan getaran saat mulai menekan tombol-tombol pada layar ponsel. Ia mengetikkan pesan sedang hatinya tiada henti mengucap doa. [SEND]


Arum

[Waalaikumsalam. Mas Syafiq? Apa benar?]


+685708xxxxxx

[Alhamdulillah kalau masih ingat. Lama tidak berjumpa. Bagaimana kabarmu, Rum? Insyaa Allah, besok aku pulang.]


Pulang? Ah ya, Arum mengingatnya sekarang. Dia pernah mendengar kabar bahwa lelaki yang dikagumi dalam diamnya sedang melanjutkan study di Kota Pendidikan, Jogja. Barangkali, dia pulang karena liburan sebelum bergelut dengan sidang skripsi. Begitulah pikir Arum.


Tak sabar, gadis yang masih mengenakan jas perkuliahan itu kembali mengetikkan rangkaian aksara. Di setiap gerak jemarinya, ia selalu tersenyum bak remaja yang sedang jatuh cinta. Ah, bukankah dia memang sedang merasakan itu?


Arum

[Alhamdulillah sehat. Mas Syafiq sehat? Oh, nggih. Hati-hati, Mas.]


+685708xxxxxx

[bikhoir. Sampai jumpa besok]


"Ya Allah, Arum mimpi nggak sih?" Dia menepuk pipi chubbynya berulang. Terasa sakit, artinya yang dilihat adalah nyata, bukan khayalan semata. 


Jiwa gadis itu kembali berkobar. Langkahnya cepat menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Selang setengah jam, ia keluar dengan tubuh bugar. Balutan gamis tipis bermotif bunga menggambarkan betapa bahagia yang dirasakan sekarang. Kembali ia mengambil ponsel dan membaca ulang pesan dari Syafiq. Senyumnya kembali terbit. Kini, jemari bening itu beroperasi dengan icon-icon handphone untuk menyimpan nomor pria itu. 


Drrt drrt


Deg


Salah. Harinya tak selalu tenang sekarang. Ada nama lain yang sedang mengusik hati. Zuhan, ya, pria itu kembali menelponnya. Sungguh tak sopan! Bahkan Arum tak membalas pesannya sama sekali. Tak ada pilihan lain, mau tak mau, Arum harus mengangkat panggilan itu.


"Assalamualaikum," ucapnya sembari berusaha santai.


"Waalaikumsalam. Lagi sibuk?"


"Eh, ini, habis mandi, Pak. Maaf belum sempat bales pesan."


"Oh. Rum, kamu belum jawab pertanyaan saya tadi."


"Yang mana, Pak?"


"Apakah kamu mau memberi saya kesempatan untuk mengambil hatimu?"


Pertanyaan yang menohok. Arum bingung harus menjawab apa. Dia ingin menolak karena hanya berharap pada seorang pria yang tak lain adalah Syafiq. Namun, gadis itu sungguh tak kuasa dan tak mau melukai hati Zuhan yang benar-benar tulus padanya. Di sisi lain, ada perempuan yang akan semakin menderita jika ia bersanding dengannya.


"Rum?"


Dengan mata yang sudah mengembun, Arum memberanikan diri untuk berucap tegas.


"Berusahalah, Pak. Semoga tidak lelah dan menyerah. Tapi, jika saya tidak menoleh, mundurlah karena ada perempuan sholihah yang masih menanti Pak Zuhan."


Bisa dibayangkan, pria di seberang sana pasti sedang menahan nyeri dalam hati. Hanya saja, dia pria bijak yang mampu menahan ego.


"Insyaa Allah, saya tidak akan semudah itu menyerah karena cinta butuh perjuangan. Kecuali..."


"Kecuali?"


"Kecuali jika kamu dan Syafiq memang saling cinta, saya akan berhenti sampai di sini."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42