Tulang Rusuk Part 36
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#TulangRusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 36 : Kenangan
Mentari menyusup melalui celah jendela. Arum yang mengaduk-aduk susu hangat sedikit menyipitkan pandangan akibat kilau pelita alam yang menembus manik mata. Sesekali, ia melirik ke arah pintu, berharap Zuhan segera datang menemaninya. Ah, kenapa pula harus menuntut seperti itu? Pun Syafiq sedang membutuhkan kakaknya. Begitulah tenang Arum.
Bosan melanda. Arum turun dari ranjang, berjalan pelan ke arah jendela pojokan. Ditariknya kursi kayu berwarna putih. Ia duduk menopang dagu, memandangi rerumputan basah di bawah sana, di halaman rumah sakit tempatnya beristirahat sekarang.
"Kenapa di sini, hmm?" bisik Zuhan tiba-tiba, membuat seluruh tubuh Arum meremang.
"Pak Zuhan ..."
Suara itu terdengar begitu merdu, persis seperti rasa rindu yang menggebu. Hasrat untuk terus takluk di hadapan sang suami begitu berontak, membuatnya kesulitan untuk berpikir jernih. Ah, serumit itukah perasaan rindu?
Sementara Zuhan tersenyum, membalikkan badan Arum, dan menuntunnya kembali ke pembaringan. Tangan lelaki itu sibuk membuka kotak makanan berwarna hijau. Sementara Arum memasang wajah sumringah saat aroma sedap menguar, masuk ke rongga hidungnya.
"Sedap sekali, Pak. Buatan Pak Zuhan?"
"Hmm. Sekalian ngantar Abah pulang tadi. Terus, bela-belain buat capcay demi kamu, Rum."
Mendengar jawaban Zuhan, Arum terkekeh sembari menutup mulutnya. Menggemaskan, begitulah batinnya.
"Maaf, Pak suami. Nanti, Arum masakin Pak Zuhan yang banyak."
"Makan dulu, Rum. Bicaranya nanti lagi."
Arum kalah telak. Ia mengangguk sungkan dan menerima suapan Zuhan. Sesendok sayuran itu membuat bibirnya kembali memgembang. Sangat enak, begitulah katanya. Arum begitu lahap menyantap. Sesekali, ia mengambil alih sendok dan mangkuk yang dipegang Zuhan. Seperti yang dilakukan sang suami, Arum pun menyuapinya.
"Kehamilanmu membawa berkah, Rum."
"Begitukah?"
Zuhan mengangguk dan mengelus kepala Arum pelan sementara Arum tersenyum riang. Ah, ia begitu suka keromantisan yang diciptakan Zuhan. Semua terasa menyenangkan sekarang. Hingga capcay tandas dibabat habis berdua, pasangan halal itu bernapas lega.
"Alhamdulillah. Ibu hamil harus lahap makannya, Rum."
"Insyaa Allah, Pak."
Sejenak, Zuhan terdiam, entah apa yang dipikirkan. Paras itu begitu teduh, tetapi tampak berpikir keras. Arum yang melihatnya sibuk menerka, apa yang terjadi dengan sang suami. Hingga ia mengibaskan tangan tepat di depan wajah Zuhan, berharap tak ada lagi lamunan.
"Pak?"
Zuhan terkesiap dan tersenyum kikuk. "Lihat Syafiq, mau?" ucapnya langsung membuat mata Arum membulat.
"Tap-"
Tampak Zuhan membuang napas perlahan, memerosotkan bahu dan mengusap mukanya.
"Arum ... bagaimanapun, dia itu adikku, adik iparmu."
"Pak Zuhan tidak lupa kan bagaimana hubungan Arum dan Mas Syafiq dulu?"
Zuhan menatap Arum lekat, menelisik sorot matanya. "Tidak akan ada hal buruk yang terjadi, percayalah."
Langgam suara Zuhan membuat Arum mati kutu dan mengangguk begitu saja. Ia tak lagi mampu membantah meski hanya sepatah kata. Pun Zuhan sudah siap mengulurkan tangan, mengajaknya beranjak dan menemui sang adik yang sedang terkapar di kamar sebelah, tepat jarak tiga ruangan dari tempat Arum dirawat.
Kini, Arum geming, berdiri menatap pintu bernomor 15. Sedang Zuhan masih setia mengenggam jemari sang istri, berniat menguatkan, bukan menambah ketakutan.
"Rum ..."
"I-iya, Pak."
Dengan langkah pelan, Arum bersembunyi di balik punggung Zuhan. Telapak tangan terasa begitu basah sekarang. Bukan apa-apa, hanya saja, berjumpa dengan masa lalu hanya akan membuka luka lama meski sudah ada yang mampu menyembuhkannya. Bukankah masa lalu memang tidak untuk dilupakan? Karena kenyataannya, itulah bagian dari kehidupan sekarang.
"Fiq, ada yang datang menjengukmu." Suara Zuhan membuat Syafiq ikut menegang, persis seperti Arum yang membeku di belakang Zuhan.
Sejenak, terdenger deheman pelan. Arum mengerjap sesaat. Setelahnya, ia muncul dibalik persembunyian, menampakkan senyum dengan lesung pipit di pipi kiri. Sesungguhnya, otak Arum menolak semua itu. Bersikap manis hanya akan mempererat jarak, layaknya dulu, sedang hatinya sudah berlabu pada sang suami. Bukankah itu hanya akan menabur harapan yang menyakitkan? Namun, ia bisa apa? Dihindari mati-matian pun tak akan bisa.
"Assalamualaikum, Mas," sapa Arum sedikit canggung.
Sementara Syafiq membisu, hanyut dalam lengang ruangan bersamaan dengan kerinduan. Rupanya, lelaki itu masih terus merindu, sangat rindu. Hanya saja, bibirnya tetap tertutup, tak berniat membeberkan perasaan yang masih sama seperti dulu.
Menyadari lelaki berseragam pasien itu mematung, Arum menatap Zuhan lekat, berisyarat bahwa apa yang ditakutkan terjadi nyata, tepat di hadapannya. Sekali lagi, sang suami mempererat pegangan tangan dan mengangguk pelan, seolah berkata bahwa semua pasti akan baik-baik saja.
"Assalamualaikum, Mas Syafiq," salam Arum kembali, menyadarkan Syafiq dari lamunan.
Tampak lelaki itu menoleh ke sembarang arah. Sepertinya, ia sedang menetralkan pikiran, terbukti dari caranya mengatur pernapasan yang tak normal. Setelah seperkian detik, ia kembali menatap Arum dan Zuhan bergantian, cukup lama. Hingga jawaban salam baru terdengar sangat lirih.
"Waalaikumsalam."
Ada luka menganga, bukan hanya di tubuh, tetapi di hati pria itu. Goresan luka di kening, cedera di kedua kaki, semua itu tak ada apa-apanya. Sayatan yang merongrong dada tetaplah pemenangnya. Ya, Arum mampu menangkap itu. Sedikit banyak, ia tahu betul bagaimana perangai sosok lelaki yang pernah bersemayam di hati bertahun-tahun lamanya.
"Bagaimana kabarnya, Mas?"
"Alhamdulillah."
Arum mendekat, berdampingan dengan Zuhan. Matanya menelisik seluruh tubuh Syafiq, mulai dari ujung rambut hingga ujung kaki. Sejenak, ada rasa iba mendera, menciptakan rasa sesak meski teramat samar. Ah, sangat wajar. Bagaimanapun, ia pernah melayani dengan baik hadirnya hingga tak mungkin menyingkirkan kenangan indah begitu saja.
"Butuh sesuatu, Fiq?" tanya Zuhan membuat Arum dan Syafiq terkesiap bersamaan.
"Nggak, kak. Syafiq cuma butuh istirahat."
Jawaban itu membuat Arum sedikit lega. Ada harap bahwa ia bisa segera keluar dari ruangan yang hanya membuat jiwanya kembali sesak.
"Oh ya, aku keluar sebentar. Ada titipan Abah yang ketinggalan."
Zuhan berlalu begitu saja, meninggalkan Arum yang kembali gamang. Hingga ia tak tahan dan berjalan keluar. Sayang, langkahnya harus terhenti saat suara parau menyebut namanya. Mau tak mau, Arum menoleh, menatap Syafiq sendu.
"I-ya, Mas? Butuh bantuan?"
Syafiq mengangguk, membuat Arum menahan napas sejenak.
'Bagaimanapun, dia itu adikku, adik iparmu.'
Perkataan Zuhan masih terngiang jelas hingga tak ada pilihan baginya untuk mengabaikan adik dari sang suami. Dengan langkah lesu, Arum mendekat. Ia menunduk sembari bertanya apa kiranya yang bisa dikerjakan.
"Aku hanya ingin minta maaf."
Kalimat singkat, tetapi begitu menyengat. Arum mencoba mendongak, menatap lelaki di depannya sekilas.
"Untuk?"
"Gagalnya kejutan untuk Kak Zuhan, suamimu."
Entah kenapa, kata terakhir itu begitu menusuk jantung. Sungguh, Arum ingin sekali menangis. Bukan karena tak menerima, hanya merasa berdosa telah menyisakan bekas luka yang belum ada obatnya hingga sekarang pada pria itu.
"Tidak apa-apa, Mas. Arum keluar dulu."
"Sebentar, Rum."
Sekali lagi, Arum tak mampu melanjutkan langkah. Napas seolah tercekat karena harus kembali berbalik arah dan menatap Syafiq. Kedua alisnya tertaut, bertanya ada apakah gerangan hingga harus menghalangi niatnya untuk keluar.
"Bisa minta tolong ambilkan ransel itu?"
Arah pandang Arum mengikuti jari telunjuk Syafiq. Tampak ransel hitam tergeletak di shofa putih. Gegas ia berjalan cepat dan mengambil benda yang Syafiq pinta. Ada sedikit rasa canggung saat menyerahkan tas itu pada pria di depannya.
Sementara Syafiq sibuk menjamah isi tas, hingga tampak boneka beruang kecil berwarna cokelat. Detik itu pula, Arum seolah tak mampu bernapas bebas. Bagaimana tidak? Lelaki itu memegang benda favoritnya sejak masa nyantri dulu.
"'Afwan, Mas. Itu bonena Arum."
"Apa kamu penyuka teddy bear, Mbak?"
"Sangat. Assalamualaikum."
Tetiba bayangan percakapan dengan Syafiq di musala pondok sekitar lima tahun yang lalu berputar ulang, di mana Syafiq menemukan bonekanya yang tergeletak di lantai.
"Tragedi ini terjadi karena benda ini, Rum. Boneka kesayanganmu, kan?"
Kerongkongan Arum terasa sakit. Ingin sekali menjawab ya, tetapi itu sangat mustahil sekarang. "M--maksudnya?"
"Aku berjalan cepat demi membeli ini untukmu, sampai-sampai tidak sadar ada mobil yang melintas."
Seolah terkoyak, dadanya kembali sesak. Inilah yang ditakutkan sedari tadi. Kenangan-kenangan lama muncul satu per satu, menggoyahkan pertahanannya.
"Terimalah, Arumi. Jangan berpikir macam-macam, ini adalah pemberian seorang teman."
Kali ini, ia tak bisa diam, pun tindakan Syafiq tak patut dibenarkan. Sungguh, ia tak ingin mematik kemarahan seorang Zuhan, apalagi cinta keduanya telah bersanding dan mulai bermekaran. Haruskah berguguran lagi setelah sekian lama memupuk sambil terseok-seok?
"Maaf, Mas. Arum sangat menghargai itu, tapi Arum tidak bisa menerima. Bagaimanapun, Arum adalah perempuan bersuami, Arum sangat mencintainya sekarang, dan pria itu adalah kakakmu. Assalamualaikum."
Bersamaan dengan langkahnya yang mulai berjalan keluar, sepasang mata yang mengintai keduanya sedari tadi di balik jendela menitikkan cairan bening, persis seperti Arum yang menangis dalam hati walau pada akhirnya setetes embun membasahi pipi.
"Maafkan Arum, Mas. Semoga ada perempuan lain yang bisa menyembuhkan lukamu," monolognya pelan sembari mengusap air mata.
Sedang Syafiq hanya mampu memandang tubuh jenjang Arumi Khadijah, merasakan pedih akibat jatuh cinta sekaligus patah hati untuk yang kesekian kalinya pada orang yang sama.
"Maafkan aku yang masih begitu mencintai istrimu, kak."
💕💕💕💕
Catatan dariku untukmu :
Serumit itukah cinta? Ya. Sekalipun hati kita sudah berlabuh pada singgasana baru, ketika berhadapan dengan masa lalu, percikan kenangan akan kembali mengoyak qolbu.
Salam hangat dan semangat
Zahidah 💕💕
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar