Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 35

 #TulangRusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 35 : Perasaan

Hidup itu layaknya proses bernafas. Ada kalanya ditarik, pun dilepas. Ada yang harus disayang, pun saatnya hilang. Ketika seseorang sudah merasakan kenyamanan, saat itu pula ia akan takut kehilangan. Hingga kegelisahan terus datang bergantian, mendera jiwa. Kenyataannya, kenangan adalah pemberian Tuhan. Tiap kedukaan dan kebahagiaan hanyalah titipan. Maka, mau tak mau, semua insan harus rela melepaskan jika garis takdir sudah datang melintang.

Di ruangan bernuansa kombinasi putih abu, Arum merasakan lemas di sekujur tubuh. Pening masih begitu menyiksa, hingga membuatnya kesulitan untuk sekadar duduk. Diedarkannya pandangan, mengamati tiap sudut kamar, berpikir ada apakah gerangan. Tepat pada detik ke lima, Arum kembali meneteskan air mata, mengingat apa yang terjadi sebelumnya.

"Astaghfirullah. Pak Zuhan ..."

Derap langkah kaki beradu, memasuki kamar Arum. Tampak pria berumur lima puluh tahunan masuk membawa segelas susu cokelat hangat, mendekat ke arahnya. Sementara Arum memandang sang Abah begitu sayu. Ia mencoba bertanya, tetapi semua kata tertahan di kerongkongan.

"Minum ini dulu, Nduk. Jangan pikirkan apapun dulu."

"Mboten, Bah. Pak Zuhan ..."

Sekali lagi, entah hilang ke mana semua aksara itu. Sulit sekali baginya untuk bertanya akan suatu kebenaran. Satu hal yang pasti, perempuan itu sedang dilanda ketakutan.

"Tenang dulu, Nduk. Tunggu kabar selanjutnya," tenang Abah yang dibalas anggukan.

Menit demi menit berlalu, senja mulai lenyap, tergantikan oleh sahut-sahutan adzan yang menggelegar hingga ke awang-awang. Merdu panggilan ilahi menciptakan getaran-getaran dalam jiwa Arum. Hingga sepeninggal Abah, perempuan itu mulai beranjak, hendak bersimpuh di atas sajadah. Ia ingin mengadu, kenapa takdir selalu mempermainkannya. Ah, pantaskah itu?

"Allahu Akbar."

Bahkan gema takbir yang diucapkan membuat tubuhnya kembali gemetar. Setiap gerakan salat terasa berat, pun otot-otot terasa lemas. Hingga tiga rakaat usai, Arum kembali menangis, menumpahkan segala keluh kesah pada Rabbnya.

"Selama ini, Arum tak pernah berontak, ya Allah. Tolong, jangan permainkan Arum lagi kali ini."

Sejenak, ia tersadar betapa yang dikatakannya itu tidaklah benar. Ah, kenapa pula harus menyalahkan ketentuan Tuhan? Mungkin saja, Penguasa Semesta sedang ingin mengingatkan. Bahwa sabar itu tak mengenal tapal batas. Memaafkan itu tanpa hitung, serta merelakan itu harus benar-benar tulus tanpa mengharapkan imbalan.

"Astaghfirullah. Ampuni Arum, ya Allah."

Kini, Arum mencoba beranjak menuju ruang depan, menemui Abah Umar. Tampak pria yang hendak ditemui duduk sembari menopang dagu, membuat Arum kembali dirundung bingung. Semua yang didengar masih penuh teka-teki, seperti puzzle yang harus dicari dan ditata lagi pasangannya.

"Bah," panggilnya pelan.

Abah menoleh dengan tatapan teduh sementara Arum terus berjalan mendekat, hingga berdiri menunduk tepat di hadapannya.


"Sebenarnya, ada apa, Bah? Siapa yang telepon tadi?" Bahkan untuk sekadar bertanya, ia harus bersusah payah memaksa kerongkongannya agar bisa bebas mengeluarkan kata.

"Abah juga kurang paham, Nduk. Sambungan langsung putus," jawab Abah Umar mencoba tenang, tetapi tetap saja tersirat kegusaran.

Sementara Arum ikut panik. Gegas ia kembali ke kamar, bahkan sampai tak sempat berpamitan pada mertuanya. Frustasi, itulah yang dirasakan sekarang. Sejenak, ia mengambil ponsel dan menghubungi Zuhan. Nihil. Seperti kata Abah Umar, tak tersambung. Beralihlah niatnya dan menelepon Syafiq. Sayang, hasilnya tetap sama, tidak ada sambungan.

"Kalian di mana, sih?" tanyanya gusar sambil melempar telepon di ranjang.

Hingga beberapa jam berlalu, Arum tetap geming, hanya beranjak saat salat Isya'. Setelahnya, ia hanya menghabiskan waktu untuk berbaring. Makan, minum, semua tak diminati. Hingga suara ketukan pintu kamar terdengar, membuat Arum menatap ke depan dengan tatapan penuh harap. Gegas Arum beranjak dan membukanya. Ah, harapannya sirna. Bukan Zuhan, melainkan Abah.

"Nggih, Bah?"

"Siap-siap, Nduk. Kita ke sana."

Titah Abah membuatnya tegang. Gegas Arum mengangguk kaku. Pikirannya merambah liar kemana-mana. Segala hal ia terka, menimbulkan segala praduga negatif.

"Pak Zuhan, semoga njenengan baik-baik saja."

Malam terasa mencekam, bahkan rembulan tampak redup. Membelah gelapnya jalanan, Arum duduk tak tenang di kursi mobil belakang. Keringat dingin setia membalut tubuh, pun energi mulai melemah. Bersamaan dengan bayangan wajah Zuhan, saraf-saraf Arum seolah tak berfungsi dengan baik. Sesekali, perut terasa seperti diremas-remas, hingga seluruh tenaga terkuras. Lemas, itu yang dirasakan sekarang.

"Tahan sebentar, sayang. Maafkan Umma. Umma sedang panik," lirihnya sambil memegangi perut.

Kini, Arum kembali tegang saat memasuki bangunan besar bernamakan rumah sakit. Asumsinya terlalu lebar, membuat dirinya kembali gemetar. Berjalan melewati lorong, ia merasakan sensasi kunang-kunang di area kepala. Hingga beberapa saat, matanya menangkap sosok berkemeja biru. Entahlah, ia pun bingung harus bereaksi seperti apa, ingin tersenyum, menangis, marah, semua riuh.

"Pak Zuhan ..." panggilnya lemah bersamaan dengan tumbangnya tubuh.

"Ya Allah, Arum!"

Abah memekik keras. Beruntung, tangannya sigap menopang Arum hingga perempuan itu tak tergeletak begitu saja di lantai.

***

Ketika resah telah berkecipak, sisa-sisa asa seolah sirna. Bagaimana tidak? Rasa itu membutakan mata, hingga bingkai harapan terlihat seolah retak dan luluh lantak. Meski tak tahu kenyataannya benar atau tidak, ketakutan tetap riuh bersorak.

Dalam ruangan persegi berukuran 12 meter, Arum mengerjap, memandangi langit-langit kamar. Seketika ia tersadar di manakah dirinya sekarang. Hingga terasa sapuan lembut di pipi kiri, membuatnya menoleh dengan tatapan penuh ketakutan. Pecah sudah tangisnya. Arum bangkit dan memukuli lengan pria yang berdiri tegap di sampingnya. Bibirnya terus merancau, berucap segala hal yang telah mengganggu pikiran.

"Njenegan jahat! Jahat!"

Pria itu masih geming, memandang sendu Arum. Pun sekujur tubuh tampak letih dan lemah. Bedanya, dia seorang lelaki, yang berusaha menopang tubuh dengan gagah.

"Maaf, sayang."

Kalimat itu sukses membuat Arum merengkuh kekasih halalnya. Tangisan terus berlanjut, menembus dinding-dinding ruangan bercat putih.

"Njenengan jahat, sudah buat Arum panik dan ketakutan," rengeknya pelan.

"Maaf, Rum. Keadaannya tadi darurat. Sudah, tenanglah."

Zuhan melepas rengkuhan, mengelap air mata, dan merebahkan tubuh sang istri. Tatapan lelaki itu begitu sayu, tangannya sedikit bergetar saat menyentuh perut Arum. Zuhan membungkuk, mencium sosok dzurriyah yang masih bersemayam di rahim.

"Maafkan Buya, Nak. Sehat-sehat di dalam, sayang."

Rasa lega menjalar, membuat air mata Arum kembali luruh. Benteng pertahanannya tidak sekuat yang orang-orang kira. Perempuan itu mudah sekali luluh dan rapuh. Sementara Zuhan kembali berdiri tegap, mengusap anak-anak cairan yang masih mengalir di pipi Arum, menci*m keningnya lembut.

"Maafkan aku, Rum. Gara-gara aku, kamu kesakitan seperti ini. Sekali lagi, maaf, sayang."

Kalimat Zuhan keluar dengan nada parau. Arum mengangguk dan memegang tangan Zuhan. Dielus dan dici*mnya dalam-dalam, sebagai obat rindu yang sejak tadi terpendam.

"Arum rindu, Pak. Arum takut."

Sejenak, Arum menelisik seluruh tubuh Zuhan. Tangannya bergerak liar, menyibak baju yang membalut tubuh sang suami. Ah, ia takut jika ada goresan luka di badan kekasihnya.

"Suamimu baik-baik saja, Rum, tapi Syafiq-"

Gegas Arum mengapit lengan sang suami, berniat memotong pembicaraanya. "Jangan pikirkan siapapun dulu, Pak. Pikirkan saja istrimu yang gemetar sejak sore tadi."

Permintaan itu berhasil menciptakan kekehan ringan di bibir Zuhan. Pria itu melepas apitan dan berjalan ke arah meja kecil berwarna putih, tepat di samping kanan ranjang Arum. Ah, rupanya, ia mengambil mangkuk kecil yang berisi bubur.

"Ya sudah. Sekarang, makan dulu. Kasihan anak kita kelaparan," ucapnya saat tengah kembali duduk di samping kiri ranjang Arum.

"Arum juga lapar, Pak, bukan hanya anak kita." Arum menjawab lirih sembari mengelus-elus perutnya.

"Terus kenapa nggak makan?"

"Bagaimana Arum bisa makan sementara yang diajak makan nggak datang-datang?"

"Aku sudah datang, utuh tanpa ada yang tertinggal termasuk hatiku. Sudah mau makan?"

Perempuan itu tersenyum sendu mendengar bisikan halus Zuhan. Itu yang dirindu, itu yang dinantikan. Semua perkataan Zuhan adalah kedamaian baginya. Sekarang, tak ada alasan untuk menolak makan. Suapan sang suami benar-benar memanjakan lidahnya, meski rasa bubur yang tertelan jauh dari kata enak menurutnya. Tak apa, ia pun ingin pulih dan menjalani hari indah lagi bersama kekasih, begitulah tekadnya.

"Kapan pulang, Pak?" tanya Arum usai menghabiskan beberapa sendok bubur.

Sementara Zuhan yang sibuk merapikan meja dan jajaran makanan-makanan ringan, terkekeh.

"Sabar, Rum. Ada apa sih?"

"Ada hal penting yang harus Arum katakan."

"Tentang?"

"Hati Arum."

Ungkapan Arum sukses menghentikan langkah Zuhan. Sedang Arum sedikit kikuk saat Zuhan menatapnya dalam dan berjalan ke arahnya. Lelaki itu membelai setiap inci wajahnya hingga Arum tak mampu bertindak normal. Benar pikirnya, ia benar-benar sudah jatuh cinta pada sang suami. Debaran hebat di dada adalah buktinya.

Melihat sang istri yang begitu damai merasakan setiap sentuhan tangannya, Zuhan menunduk, berbisik dengan suara khas yang teramat menenangkan.

"Aku sudah tahu apa itu. Binar matamu sudah mengungkapkan semuanya. Aku mencintaimu."

Lembut suara Zuhan membuat Arum berbalik miring seketika. Perempuan itu merengkuh punggung Zuhan sembari memejamkan mata.

"Arum juga sangat mencintai njenengan, Pak."

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42