Tulang Rusuk Part 34
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 34 : Virus Merah Jambu
Dua minggu telah terlewati. Keadaan Arum semakin membaik, pun tak begitu menangisi hubungannya dengan Zulfa meski sang kakak masih enggan berbicara dengannya sejak sadar dari koma seminggu yang lalu. Setidaknya, ia masih bisa melihatnya tersenyum walau itu harus dari jauh. Begitulah katanya.
"Mbak, Arum kangen," monolog Arum sambil memandang potret Zulfa yang tersimpan di galeri.
"Rum ..."
Panggilan Zuhan membuatnya terkesiap. Bukan apa-apa, ia hanya tak ingin menampakkan kesedihan di depan suaminya. Ia pun menoleh dan mendapati Zuhan telah rapi dengan kemeja biru. Sejenak, Arum tersenyum dan mendekat ke arah Zuhan. Seperti biasa, perempuan itu kembali merapikan penampilan sang suami, entah membenarkan kerah, kancing, bahkan juga menyisir rambut.
"Sudah ganteng, Pak."
"Itu pasti, Rum. Kan ada istri yang merawat," ucap Zuhan setelah mengecup kening Arum.
Sementara wajah Arum begitu sumringah, menikmati setiap kelembutan Zuhan. Ah, ia benar-benar candu dengan segala hal tentang imamnya.
"Pak, jadi ke terminal?"
"Iya, sayang. Maaf, ya, nggak bisa ajak kamu. Kandungan masih lemah, nggak boleh pergi jauh-jauh dulu."
Arum menunduk, pun kembali menyembunyikan mata yang telah berkaca-kaca. Bukan sedih karena tak bisa ikut, hanya saja, ada rasa tak rela jika Zuhan harus keluar kota hari ini, tepat di hari spesialnya.
"Kenapa harus jemput sih, Pak? Apa Mas Syafiq nggak bisa pulang sendiri?"
"Sudah biasa, Rum. Kalau aku nggak sibuk, pasti aku yang jemput. Adik kakak ya harus rukun. Betul, kan?"
Great! Arum kalah. Ia bungkam dan tak bisa menyanggah. Perempuan itu hanya menganggguk lemah. Kenyataannya, apa yang dikatakan Zuhan tidaklah salah, semua benar adanya.
Kini, Arum dan Zuhan menuju halaman rumah. Perempuan itu setia mengapit lengan sang suami. Lengket, mungkin kata itu mampu menggambarkan sikapnya sekarang. Hingga tiba di samping mobil, Arum mencium tangan sang suami. Segala wejangan disematkan agar selamat dalam perjalanan, pun Zuhan memberikan banyak pesan agar selalu menjaga kesehatan.
"Jangan lama-lama, Pak. Arum kangen," ucap Arum menunduk.
Sementara Zuhan terkekeh. Tangan itu mengelus pipi sang istri hingga keduanya saling tatap, mencuatkan rasa rindu yang menggebu.
"Kalaupun lama, Arum harus setia menunggu."
Arum mengangguk, kembali memeluk suaminya. Sekali lagi, binar matanya menyiratkan ketidakrelaan. Entah sebab apa, yang pasti, ia hanya ingin selalu berada di dekatnya, merasakan kasih sayang, menghapus jarak, juga menumpahkan segala kerinduan. Rupanya, virus merah jambu telah tumbuh, memenuhi relung jiwa.
"Aku berangkat. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Hati-hati, Pak."
Dua jam terlewati, Arum mondar-mandir sembari memutar-mutar ponsel di genggaman. Sesekali, matanya mengamati layar kaca, melihat jam digital yang tertera. Beberapa kali pula, ia membuka aplikasi hijau, berharap chat atau panggilan dari Zuhan segera masuk. Sesaat, terbesit sebuah pemikiran yang cukup cemerlang, tetapi sedikit membingungkan. Namun, tak ada pilihan, hanya pria itu yang bisa membantunya saat ini. Begitulah pikirnya.
Layar kaca menunjukkan nama Mas Syafiq beserta deretan nomor. Jemarinya sedikit gemetar hendak menekan icon telepon berwarna hijau. Dalam hitungan tiga detik, ia menarik napas dan melepaskannya lagi perlahan. Diawali dengan ucapan basmalah, ia pun nekad menelepon sosok yang dulu pernah mengisi kekosongan hati.
"A--assalamualaikum, Mas Syafiq."
Belum ada jawaban. Mungkin, lelaki di seberang sana sedikit terkejut. Ah, bukan sedikit, tetapi sangat.
"Waalaikumsalam. A--Arumi?"
Benar saja. Suara itu masih mampu membuat sebagian titik saraf otak Arum melemah, meski sangat sedikit. Bedanya, debaran di hati seolah musnah. Sekalipun ada, itu hanya wujud dari sebuah kegugupan dan kecanggungan.
"Mas, Arum butuh bantuan."
Hening. Tak ada sahutan dari Syafiq, selain deru napasnya yang terdengar cukup keras. Ada apa dengannya? Begitulah tanya Arum di hati. Ah, konyol sekali. Jelas saja, lelaki itu tercekat.
Bosan diabaikan, Arum kembali berbicara sesantai mungkin. "Pak Zuhan sudah sampai?"
"Sebentar lagi, mungkin." Suara Syafiq terdengar sangat lirih.
"Tolong, nanti pulangnya jangan lama-lama. Hari ini, ulang tahun Pak Zuhan. Arum ..."
"I--iya, Rum. Aku paham. Chat saja mau minta bantuan apa. A-aku ... A--assalamualaikum."
Jawaban Syafiq sukses membuat Arum melongo. Ah, ia tahu betul apa yang sedang dirasakan lelali itu sekarang. Pun dirinya pernah berada di posisi seperti itu. Sejenak, ia merutuki sikap cerobohnya, bagaimana bisa ia kembali menorehkan luka pada pria yang belum bisa melupakan dirinya?
"Astaghfirullah. Maafkan Arum, Mas."
***
Jam dua siang, tenaga Arum masih begitu berkobar. Perempuan itu berkutat di dapur hampir dua jam lamanya. Rupanya, niat memberi kejutan untuk sang suami benar-benar dilakukan dengan baik. Meski sederhana, tetapi ia menghadiahkannya dengan penuh kasih sayang. Tampak kue bolu cokelat berbalut dekorasi indah dengan angka 27. Arum tersenyum memandangnya.
"Alhamdulillah. Semoga Pak Zuhan suka. Pak, nanti, Arum akan mengatakan satu hal yang sangat penting," ucap Arum sambil menghirup aroma kue buatannya.
Kini, Arum melangkah gontai sembari mengusap keringat di area pelipis. Perempuan itu ingin istirahat sejenak sebelum menyambut sang suami datang. Dalam kamar, ia merebahkan badan. Sejenak, manik hitamnya menangkap bingkai dengan perpaduan warna hitam dan maroon. Dipandangnya dalam-dalam foto itu dari kejauhan hingga mata kembali mengembun.
Bayangan khitbah berputar ulang, di mana dia menerima pinangan Zuhan dengan sangat terpaksa. Memori pernikahan bergelayut manja, di mana ia masih merasakan getaran hanya untuk Syafiq Albana. Air mata itu menetes, menyesali betapa buruknya sifat yang ia tunjukkan dulu pada sang suami.
Sejenak, ia berdiri. Mengambil foto pernikahan yang terpajang di atas laci. Jemari halusnya terus meraba lapisan kaca yang membalut gambar dirinya dan sang suami. Hingga ia kembali meyenderkan tubuh di ranjang, kembali menjelajahi memori-memori perjalanan hidup bersama Zuhan.
"Pak Zuhan, Arum menyayangimu. Maaf kalau sedikit terlambat, Pak." Ia tersenyum, pun mengusap air mata di pipi.
"Dulu, njenengan pernah meminta Arum untuk menyebut nama njenengan dalam doa meskipun di urutan paling akhir. Njenengan tahu, Pak? Sekarang, setiap berdoa, nama Pak Zuhan berada di posisi paling awal."
Kembali ia menjeda. Tangannya terulur, diletakkan tepat di dada. Arum geming, merasakan detak jantungnya. Terdengar dentuman luar biasa setiap kali menyebut nama Zuhan. Ah, ia sungguh tahu jawabannya.
"Pak, sudah ada cinta di sini, ukurannya sangat besar menurut Arum. Tidak terlambat kan, Pak?"
Cinta itu memang telah tumbuh, bahkan sangat subur. Saat usaha tak putus-putus dicurahkan, berapa lama pasangan berhubungan, tentu menjadi kebanggaan. Hitungan hari, minggu, bulan, bahkan tahun yang terlewati adalah prestasi, bukti bahwa kadar cinta kita sudah teruji. Dalam usaha untuk bertahan inilah, Arum tahu bahwa dia dan Zuhan benar-benar saling mencinta.
"Cepat pulang, Pak. Arum akan mengutarakan perasaan ini," lanjutnya sambil tersenyum simpul.
Drrtt drrt
Getaran ponsel di laci menghentikan aktivitasnya. Gegas Arum sedikit bergeser, meraih benda pipih berwarna hitam. Rupanya, pesan yang masuk bernamakan Mas Syafiq. Jemari Arum membuka dengan cepat, ingin tahu di mana suaminya sekarang.
"Arumi, kami sudah di perjalanan. Satu jam lagi sampai rumah."
Senyumnya kembali mengembang, bahkan memekik kegirangan. Tak terbesit sedikitpun ide untuk membalas pesan Syafiq. Gegas Arum ke kamar mandi, membersihkan diri, pun berdandan secantik mungkin. Ah, sedrastis itu perubahannya.
Beberapa jam kembali terlewati, mentari mulai hilang, menyisakan jingganya. Cahaya terang berubah remang. Suasana ramai berubah sunyi. Pun dengan Arum, dalam kamar, perempuan itu duduk lemas di shofa sembari mengamati kue yang telah dibuat dengan cinta. Bukan lelah, hanya gelisah menunggu sedang yang ditunggu tak kunjung datang.
Merasa bosan, ia menjelajahi memori dalam ponsel. Hingga muncul sederet kata yang tersimpan di icon music, Arum sedikit tersenyum. Ditekanlah tombol play lagu yang berjudul Ketika Cinta Bertasbih, membuatnya hanyut dalam kisah manis bersama Zuhan.
"Pak Zuhan, Arum rindu." Tak terasa, ia menitikkan air mata. Ah, ia benar-benar tenggelam denga segala kisahnya.
"Nduk ..."
Gegas Arum mengusap genangan di pipi saat terdengar suara Abah. Ia berdiri sungkan, menatap sang Abah yang hanya diam mematung di ambang pintu.
"Nggih, Bah?"
"Tadi, ada telepon, Nduk."
Suara itu begitu lemah, membuat Arum sibuk menerka. "Siapa, Bah?"
Abah Umar mendekat, mengusap kepala Arum sedang tatapan lelaki itu begitu sayu, seperti menahan tangisan. Seolah paham, jantung Arum berdetak kencang, dada kembali sesak, ketakutan muncul begitu saja. Satu nama yang dingat, Zuhan. Apakah itu berhubungan dengan sang suami?
"A--ada apa, Bah?"
"Suamimu, Nduk. Syafiq-"
"Suami Arum kenapa, Bah?"
Geming, itu yang dilakukan sosok pria bernama Umar. Benar saja, tubuh Arum seketika lemas dan gemetar. Tetiba kepala terasa berputar-putar. Mata kembali kabur, tetapi menampakkan wajah Zuhan yang tersenyum manis.
"Pak Zuhan, jangan buat Arum ketakutan," ucapnya lemah sebelum semua terasa senyap dan gelap, menyisakan Abah Umar yang gelagapan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar