Tulang Rusuk Part 33
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 33 : Misi dan Janji
💕💕💕
Mentari mulai merangkak, menyinari seluruh isi alam. Piringan emas berkilau dengan gagahnya, pertanda hari begitu cerah. Melewati lorong bernuansa putih, Arum merasakan lututnya mulai lemas. Bukan capek, perempuan itu hanya kembali takut dan tak siap berhadapan dengan Zulfa. Beruntung, Zuhan tak pernah melepas genggaman tangan. Jari-jemari keduanya tertaut kuat, hingga tak memberi Arum ruang untuk terseok seperti sebelumnya.
"Tenang, sayang. Semua akan baik-baik saja."
Mendengar itu, Arum kembali merasa tenang. Hingga sampai di sebuah ruangan, dengan pintu bernomor 24, keduanya menghembuskan napas perlahan. Tampak Pakdhe Hasan dan Budhe Salamah berbincang, entah membicarakan apa. Yang pasti, Arum tak sabar, ingin segera menyapa keduanya.
"Assalamualaikum, Pakdhe, Budhe," sapa Arum dan Zuhan bersamaan.
"Waalaikumsalam."
Seperti biasa, pasangan suami istri itu mencium tangan orangtuanya ta'dzim, pun menghabiskan lima menit untuk bertukar kabar. Setelahnya, Arum membuka tas yang ia tenteng sedari tadi. Tampak, rantang berwarna merah dengan aroma makanan yang begitu menggoda indera penciuman.
"Arum bawakan sarapan untuk njenengan berdua," ucapnya sambil membuka tutup rantang.
"Maasyaa Allah, trimakasih, Nduk."
Sejenak, Arum terdiam sembari memandang nanar pintu cokelat di depannya. Ada sesuatu yang menusuk di dada. Entahlah, semua terasa sesak, napas sedikit tercekat, jiwa kembali terkoyak. Sekadar ingin menyebut nama sang kakak pun begitu susah. Keruwetan yang telah dihadapi kembali menyembul satu per satu, persis seperti kepingan puzzle yang harus dipersatukan lagi.
"Mbak Zulfa ..." ucapnya begitu lirih dan berat.
"Masuklah, Rum. Ajak suamimu sekalian. Barangkali, Zulfa mendengar dan segera bangun."
Tak ada jawaban. Arum hanya mengangguk sedang Zuhan mengelus punggungnya. Hingga uluran tangan sang suami membuatnya seketika berdiri. Keduanya berjalan beriringan, sama-sama dengan hati yang sudah tak karuan. Ya, Zuhan pun merasa resah. Pria itu tak ingin ada lagi hal yang memporak-porandakan kebahagiaan istrinya.
"Assalamualaikum, Mbak. Adikmu datang."
Sunyi, hanya suara putaran kipas angin yang menemani. Pun Zuhan hanya bisa menggenggam tangan Arum, tak berniat menyahuti. Sementara Arum kembali geming. Ia bingung harus berucap apa. Jika dijabarkan, butuh waktu panjang untuk mendeskripsikan betapa hatinya penuh dengan beragam rasa, tak terkecuali duka.
"Mbak, Arum kangen banget. Bangun ya, Mbak."
Sejenak, ia teringat akan satu hal. Perempuan itu menunduk, memandangi area perut. Sedang tangan halusnya mulai beraksi, mengelus pelan tepat pada area pusar yang tertutup gamis biru muda.
"Oh ya, Mbak Zulfa akan segera punya keponakan. Mbak Zulfa suka anak kecil, kan?" Ia terdiam, merasakan embun yang tiba-tiba keluar di sudut mata. "A--Arum ..."
"Sudah. Jangan diteruskan, Rum."
Seketika tangisnya pecah. Bahu perempuan itu bergetar diiringi isakan-isakan. Seberapapun besar usahanya, semua tetap sia-sia. Nyatanya, Arum tetap menangis, tak bisa jika terus menahan.
"Arum melanggar janji, Pak. Maafkan, Arum," ucapnya sambil menatap nanar sang suami.
"Iya, Sayang. Sudah, jangan diteruskan. Ayo, kita pulang."
***
Di ruang tengah, Zuhan berbincang-bincang dengan sang Abah. Menceritakan segala kisah, pun keluh kesah yang dialami seharian kemarin. Sementara Arum sibuk mengelap kaca-kaca rak yang sedikit berdebu, terletak tak jauh dari jangkauan dua lelaki tersayangnya.
"Bah, kami punya kabar bahagia," suara Zuhan membuat Arum menoleh dan tersenyum sungkan.
"Kabar apa, Han?"
"Sini, Rum," panggil Zuhan.
Merasa dipanggil, ia pun menghentikan aktivitas dan berjalan mendekati suaminya. Sementara Zuhan yang mulanya duduk, seketika berdiri. Tanpa malu, tangan itu menyentuh perut Arum, tepat di hadapan Abah Umar. Agaknya, lelaki berpeci putih itu tahu apa maksud Zuhan, terlihat dari caranya tersenyum sumringah.
"Bah, di sini, ada anak kita, Arum dan Zuhan."
Benar saja, Abah Umar berdiri dan mendekap Zuhan seraya menepuk-nepuk pundak putra kesayangannya. "Maasyaa Allah. Selamat, Nak. Abah sangat bahagia mendengarnya."
"Trimakasih, Bah. Mohon doanya, agar kami bisa menjaga amanah ini dengan baik."
"Itu pasti, Nak. Semoga bahagia selalu."
Kini, dalam kamar, Arum duduk di depan lemari berkaca besar, memainkan ponsel sementara Zuhan keluar entah kemana. Bibir Arum terus tersenyum, mengamati tiap potret dirinya dan Zuhan. Rasa gundah hilang seketika, tergantikan dengan rasa haru dan bahagia.
Rona merah di pipi Arum tak jua pudar. Sejak semalam, role play kasih sayang Zuhan terus melekat, mengikuti setiap deru napasnya. Senyum manisnya terus mengembang, menunjukkan betapa hatinya sedang berbunga. Sesekali, jemarinya berselancar di area perut, meraba lapisan kulit tempat dzurriyyah tercinta bersemayam.
"Trimakasih, Nak. Kamu hadir di saat yang tepat. Bantu Umma untuk tetap kuat dan bertahan dengan Buya."
Sesaat, ia merasakan napas hangat yang menyapu area lehernya. Rupanya, Zuhan datang, membenamkan dagu tepat di bahu kanannya. Sedang kedua tangan kekar lelaki itu melingkar di area perut ratanya. Darah keduanya kembali berdesir, merasakan kehangatan yang luar biasa. Ah, bahkan Arum sedikit kesulitan untuk mengatur napasnya yang mulai tak normal. Zuhan benar-benar berhasil membuatnya tunduk dan takluk akan setiap perlakuan lembutnya.
"Pak Zuhan, A--Arum ..."
"Diam dulu, Rum. Aku rindu kalian berdua."
Tak ada alasan untuk menolak, pun dia sangat menyukai wangi tubuh Zuhan. Ia mencoba memejamkan mata, berusahan untuk tetap bersikap normal. Meski diam-diam, seluruh saraf tubuhnya merespon dengan baik, ingin berbuat lebih. Ah, hormon kehamilannya begitu lihai menanggapi sentuhan sang suami.
"Pak, ayo, istirahat," kilahnya sedikit gugup dan salah tingkah.
"Sebentar, Rum. Aku cuma pingin seperti ini. Seperti pintamu, kuat dan bertahan denganku. Betul, kan?"
Ah, ia sungguh malu sekarang. Pikirannya terlalu liar hingga memaknai terlalu berlebihan setiap tingkah sang suami. Kali ini, Arum berdiri dan berbalik, menangkup kedua pipi lelaki di depannya.
"Itu pasti terjadi, Pak. Sekarang, temani Arum istirahat," ujarnya sungkan dan berlalu begitu saja menuju ranjang, membuat Zuhan geleng-geleng kepala dan tersenyum riang.
"Kamu sangat menggemaskan, Rum. Nak, doakan Buyamu berhasil merebut cinta Umma."
Sementara Arum berbaring dan terkekeh mendengar gumaman Zuhan. Lelaki itu benar-benar membuat dirinya melayang. Hingga Zuhan mendekat, ikut berbaring di sampingnya. Arum kembali tak bisa berkutik saat sang suami kembali merengkuhnya.
"Rum ..."
"Pak ..."
Ucap keduanya bersamaan, menimbulkan tawa ringan. Sejenak, Arum berbalik, menghadap Zuhan. Perempuan itu menatap begitu dalam. Deru napasnya naik turun, sedang hawa tubuh mulai panas dingin.
"Ngomong saja, Rum. Aku siap mendengarkan."
"Dulu, Arum meminta njenengan untuk terus berjuang dan menyerah jika Arum tidak menoleh. Sekarang, Arum selalu meminta agar Pak Zuhan tak pernah menoleh belakang. Cukup pandang Arum, Pak. Pak Zuhan mau berjanji?"
"Tanpa diminta, Rum. Cuma kamu wanita satu-satunya yang aku cintai setelah Umi."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar