Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 32

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 32 : Doa dan Harapan

Malam ini, gumintang tak menampakkan wajah, membuat angkasa terlihat hitam mencekam. Bumi ikut senyap, hanya cuitan-cuitan burung yang terdengar dari kejauhan. Sesekali, nampak kilatan cahaya petir dengan sinar begitu terang meski tanpa suara menggelegar, pertanda awan kelabu sedang bergantungan hendak meluruhkan curah hujan. Sepi, dingin, pun hampa yang menyelimuti para manusia.

Jarum jam pendek menunjuk angka tujuh. Detik-detik waktu terus berputar dengan suara khas, menemani Arum yang hanya duduk diam dalam kamar. Tak ada yang dilakukan oleh perempuan bermata sendu itu, selain geming dengan tatapan kosong. Sejenak, ia menoleh saat pintu kamar terbuka, menampakkan Zuhan yang masuk dengan membawa nampan berisi mangkuk dan gelas.

"Rum, makan, ya," bujuk Zuhan saat tengah duduk di samping Arum.

Tak ada suara yang keluar sebagai jawaban selain gelengan.

"Please, sedikit, nggak apa-apa." Zuhan berkata begitu lirih sambil mencoba menyuapkan sesendok bubur.

Sedang Arum menoleh ke kanan, pertanda ia menolak suapan sang suami. "Jangan paksa Arum, Pak."

Ucapannya sukses membuat Zuhan mengeluarkan decakan ringan. Sepertinya, lelaki itu sudah lelah mengingat Arum hanya diam sejak pagi. Tak pernah beranjak selain salat atau sekadar membersihkan diri ke kamar mandi.

"Ya sudah. Teruskan saja acara melamunnya, Rum."

Sesungguhnya, Arum tersentak mendengar perkataan Zuhan yang sedikit menekan. Hanya saja, ia masih mempertahankan egonya untuk tak menoleh, pun berkata maaf. Hingga terdengar derap sepatu Zuhan beradu, semakin jauh. Tak mau meninggalkan jejak amarah di hati suami, Arum menoleh cepat, memanggil Zuhan yang sudah berada di luar garis kamar, hendak menutup pintu.

"Pak Zuhan ..."

Tangan lelaki itu melepas lagi gagang yang mulanya dipegang erat. Ia memerosotkan bahunya perlahan dan menatap istrinya yang sudah begitu sayu. Bukannya keluar, Zuhan kembali memasuki singgasananya, mendekati sang ratu yang masih diselimuti duka.

"Apalagi, Rum? Kamu mau menangis lagi?" tanya Zuhan pelan.

"Maafkan Arum. Iya, Pak. Arum mau makan."

Diam-diam, Zuhan tersenyum tipis meski tak ditunjukkan pada istrinya. Ia pun memgambil mangkuk berisi bubur yang tergeletak di atas laci. Lelaki itu menyuapkan sedikit demi sedikit sedang Arum menerima meski begitu kesusahan menelan. Katanya, semua terasa tawar dan hambar. Ah, bukan rasa bubur yang dimaksud, hanya lidahnya saja yang terlalu getir seperti hatinya.

"Sudah, Pak. Arum nggak kuat."

"Sedikit lagi, Rum. Biar tenagamu cepat pulih."

Perempuan itu membuang napas pasrah. Ia pun kembali menerima empat suapan dari Zuhan. Great! Setengah mangkuk kecil bubur itu telah habis, tertelan oleh kerongkongan Arum. Sementara Zuhan memasang wajah sumringah, begitu senang melihat istrinya yang mulai sedikit bertenaga.

"Kapan jenguk Mbak Zulfa, Pak?"

"Tugasmu istirahat malam ini. Jangan pikirkan apapun dulu, Rum."

"Tapi, Pak-"

"Arum ..."

Desis Zuhan membuat Arum bungkam. Ia pun mengangguk dan merebahkan badan sedang Zuhan menutup tubuhnya dengan selimut tebal. Elusan di kepala membuatnya merasa cukup tenang. Senandung sholawat yang dilantunkan Zuhan mampu mengantarnya dalam kedamaian, hingga ia terlelap, menyisakan sang suami yang bernapas lega.

"Maafkan aku, Rum. Selamat tidur," ucap Zuhan lirih setelah mengecup kening Arum cukup lama. Setelahnya, lelaki itu beranjak keluar.

Beberapa jam berlalu, Arum masih begitu lelap dalam tidurnya. Hingga beberapa saat, perempuan itu mulai terusik. Sesekali, tangan kirinya meraba ke samping. Mungkin, ia sedang mencari keberadaan Zuhan. Benar saja, mata yang mulanya tertutup itu kembali terbuka. Arum duduk sambil memegangi kepalanya. Sejenak, bola matanya menjelajahi seluruh isi kamar.

"Pak Zuhan ..." panggilnya tak begitu keras.

Tak ada sahutan. Arum pun bangun dan beranjak, menjelajahi rumah Pakdhe Hasan. Langkahnya begitu pelan menuruni anak tangga sedang matanya celingukan, berharap menemukan suaminya. Hingga terdengar denting sendok beradu, ia bernapas lega dan sedikit mempercepat langkah. Benar saja, Zuhan tengah berdiri di dapur, mengaduk-aduk segelas entah susu, kopi, atau sekadar teh. Sementara Arum terus melangkah, mendekat ke arah Zuhan. Ada rasa kasihan mendera, mengingat betapa dirinya telah menyusahkan sang suami sejak pagi hingga semalaman suntuk.

"Pak ..." panggil Arum sambil memeluk sang suami dari belakang.

Tampak Zuhan sedikit terkejut akan sikap Arum. "Rum ..."

"Begini saja, Pak. Arum suka," ucap Arum saat suaminya hendak berbalik.

Entahlah, perempuan itu begitu merindukan raga sang suami. Bau maskulin, dada bidang, punggung tegap, serta tangan kekarnya, Arum rindu semua itu. Ia memejamkan mata, menghirup dalam aroma khas Zuhan. Desiran nyaman menyapu seluruh tubuh, membuatnya enggan melepas dekapan.

"Ini kapan selesainya kalau gini, terus, hmm?"

"Lima menit lagi, Pak," rayu Arum yang justru membuat Zuhan terkekeh.

Hingga menit demi menit berlalu, perempuan itu berdiri tegap, merasa sungkan dengan apa yang telah dilakukan. Ia pun bingung dengan segala perubahan pada dirinya yang cukup drastis seharian ini. Sedang Zuhan berbalik, menyelipkan anak rambut sang istri ke belakang telinga. Lelaki itu mengelus pipi Arum yang sedikit kusut akibat tangisan.

"Tetap seperti ini ya, Rum. Jangan seperti semalam."

"Maaf, Pak. Arum cuma-"

"Ssstt. Nggak boleh ada drama lagi. Aku janji, nanti, kita jenguk Zulfa sama-sama. Insyaa Allah, dia baik-baik saja."

Dengan gerakan cepat, Arum menyergap Zuhan. Tangisan masih saja menjadi teman setia. Sekuat apapun ia menahan, tetap tak bisa. Ia benar-benar kalah dengan segala pelik masalah yang berkecamuk di hadapannya. Beruntung, sang suami tak ikut larut dan memperdalam segalanya. Lelaki itu selalu siaga menjadi sandaran sosok Arumi Khadijah.

"Sudah, sayang. Ayo, ke depan," titah Zuhan dan dibalas anggukan oleh Arum.

Di meja makan, Arum hanya duduk memandang Zuhan yang sibuk menyeruput teh susu favoritnya. Ah, sepertinya, lelaki itu begitu lelah hingga tak bisa tidur nyenyak. Sejenak, Zuhan menyodorkan susu cokelat untuk Arum sedang Arum tersenyum sungkan. Satu lagi, yang dibuat khusus sejak semalam buat sang istri, air nabeez.

"Ini khusus buat Arum. Insyaa Allah, sangat aman dan bagus untuk kesehatan kalian berdua."

"Hah? M--maksudnya,, Pak?"

"Minum saja dulu. Nanti, aku jelaskan."

***

Gema tarhim menggetarkan dinding-dinding rumah, menemani Arum dan Zuhan yang duduk berdampingan di ranjang. Perempuan itu masih geming, menikmati slide tiap kejadian yang terus berputar. Bedanya, ia tak menangis, hanya merasakan napasnya yang sedikit sesak akibat himpitan-himpitan luka di dada.

Hingga punggung tangannya merasakan sapuan lembut oleh tangan Zuhan. Arum menoleh dan berusaha tersenyum. Lelaki di depannya mengangguk, seolah berkata 'tetaplah tersenyum.'

"Entahlah, sejak bersama njenengan, Arum merasa hari-hari  itu begitu spesial, Pak. Trimakasih telah mengasihi Arum dengan baik dua bulan ini. Tetaplah seperti ini, selamanya."

"Insyaa Allah, Rum. Oh ya, ada satu hal yang belum kamu ketahui."

Zuhan turun dari ranjang, berjalan mendekati pintu. Tangannya merogoh saku jaket hitam yang ia kenakan tadi pagi. Tampak lima jemari kanannya bersatu memegang sepucuk surat yang dengan jelas memperlihatkan logo rumah sakit.

Sementara mata Arum menyipit. Otaknya bekerja keras memaknai semua itu. Surat apakah itu? Apakah dirinya sakit? Atau justru seonggok kabar tentang kakaknya? Ah, ia pusing memikirkannya.

"Nggak usah bingung, sayang. Coba dibaca dengan baik," titah Zuhan yang telah duduk dan menyodorkan surat padanya.

Arum mengangguk, mengulurkan tangannya yang sedikit bergetar. Dentuman keras begitu riuh memenuhi tiap rongga dadanya, sedang area pelipis mulai basah. Ah, ia sungguh takut, tak siap jika harus menghadapi kenyataan menyakitkan lagi. Hingga ia tetap diam mematung, memandang deretan tulisan di cover terluar, tanpa membukanya.

"Arum ..."

Langgam suara Zuhan membuatnya tersentak. Sekali lagi, perempuan itu mengangguk dan mulai membuka surat yang sedari tadi dipegang. Benar saja, tiga huruf yang tercetak jelas membuat otaknya kembali bertanya-tanya. HCG, kata itu berhasil mencuatkan rasa penasaran yang begitu dalam.

Entah hilang kemana ketakutan tadi. Mata Arum begitu jeli membaca semua isinya, hingga pandanganya mulai kabur. Embun di sudut mata kembali menetes, jatuh tepat pada kertas hasil pemeriksaannya.

"Allahu Akbar. A--apa ini benar, Pak?" tanyanya yang masih fokus pada tulisa 'positif'.

Sementara Zuhan menunduk. Tangannya terulur, mulai mengelus perut rata sang istri. Lelaki itu memandang Khadijahnya penuh haru dan rasa syukur.

"Rum, ada makhluk kecil yang sudah bersemayam di sini."

Mendengar itu, Arum merasakan matanya semakin panas. Sungguh, ia tak kuat jika harus menahan tangis bahagia itu. Ah, isakan itu pun keluar juga. Bukan menyayat hati, tetapi begitu melegakan dan mendamaikan tiap pasang telinga yang mendengar. Pun Zuhan ikut menitikkan air mata. Hanya setetes, tetapi mampu menunjukkan betapa lelaki itu bahagia dengan anugerah yang sedang diterima.

"Rum, aku ingin berdoa untuk anakku dan juga kamu, istriku. Diizinkan?"

Pertanyaan itu membuat Arum menatap suaminya begitu lekat. Ia memegang jemari Zuhan, mengelusnya perlahan. "Jangan pernah bertanya seperti itu lagi, Pak. Lakukan apapun yang njenengan suka. Arum ini istri Pak Zuhan, sudah hak Pak Zuhan sepenuhnya."

"Aku hanya takut kamu terluka, Rum. Dari kemarin, aku ingin memberitahu kabar ini, tapi-"

Gegas Arum merengkuh sang suami. Memotong cepat segala ungkapan yang bisa saja membuka segala lukanya kembali. "Nggak, Pak. Arum sangat bahagia. Sekarang, Arum punya dua malaikat, Pak Zuhan dan buah hati kita."

Mendengar itu, Zuhan mempereerat pelukan. Ia mengecup kening sang istri cukup lama. Dielusnya rambut Arum yang tergerai indah. Setelahnya, lelaki itu menegakkan posisi wanitanya. Tangannya mengelus, mengusap area pipi yang sudah basah. Sesaat, Zuhan mulai membungkuk, mengecup perut Arum, sembari mengelusnya perlahan.

هُنَالِكَ دَعَا زَكَرِيَّا رَبَّهُ ۖ قَالَ رَبِّ هَبْ لِي مِنْ لَدُنْكَ ذُرِّيَّةً طَيِّبَةً ۖ إِنَّكَ سَمِيعُ الدُّعَاءِ

"Hunaalika da'aa zakariyya rabbah qaala rabbii hablii miladunka dzurriyyatan thoyyibah, Innaka samii'uddu'aa."

Surat Ali imron ayat 38 yang dibacakan Zuhan membuat Arum begitu bahagia. Sungguh, kebanggaan tersendiri diperistri pria seperti Zuhan yang mampu mengimbangi ilmu dunia dengan ilmu agama. Sejenak, bibirnya membentuk lengkungan indah. Tangannya mulai mengelus surai hitam sang suami.

"Assalamualaikum, sayang. Trimakasih telah hadir di perut Umma. Kamu tahu, Umma itu wanita yang hebat. Sayangnya, sedikit cengeng. Kita harus menjaganya sama-sama agar tidak menangis lagi. Oh ya, Buya butuh bantuanmu. Buatlah Umma jatuh cinta pada Buya. Apa kamu sanggup? Ah, Buya yakin, kamu adalah anak yang hebat, seperti Umma. Buya sangat mencintai kalian berdua."

Setiap deretan aksara yang dilontarkan Zuhan berhasil membuat tangisan Arum keluar lagi, menetes, membasahi punggung Zuhan. Hingga pria itu kembali duduk, menatap sang istri begitu lekat. Tangis haru keduanya memecah keheningan pagi menjelang shubuh, bersamaan dengan merdunya tartil Al-Quran di musala sana.

"Jangan menangis lagi. Nggak usah takut apapun, ada anak kita di sini yang akan terus menyatukan kita, Insyaa Allah," ucap Zuhan sembari mendekap Arum.

"Terimakasih Khadijahku. Aku akan menjagamu dan anak kita dengan sepenuh hati. Kalian berdua adalah alasanku berjuang. Aku sangat mencintaimu, juga anakku."

"Izinkan Arum untuk terus berusaha mencintai Pak Zuhan. Sedikit lagi berhasil, Pak."

"Itu pasti, sayang."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42