Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 31

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 31 : Memory

Pagi menjelang siang, di kantin Universitas, Arum melepas dahaga bersama seorang teman, Alya. Keduanya bertukar kisah, entah tentang apa. Tawa canda keduanya menguar, menciptakan rasa damai. Sedang di ujung sana, masih di ruangan yang sama, seorang gadis menatapnya begitu sendu. Seolah ada rasa rindu yang bergelayut, tetapi terhalang rasa dendam yang belum juga padam.

"Rum, itu Zulfa, kan?"

Arum menoleh ke belakang, mendapati Zulfa duduk dengan tenang sembari memandanginya dari kejauhan. Seperti biasa, Arum tetaplah perempuan yang tak bisa selalu diam jika masalah masih terus berputar dan tak menemukan titik terang untuk menghentikan. Hasrat untuk memghampiri sang kakak pun muncul begitu saja. Ia berpamitan pada Alya yang hanya dibalas anggukan. Ah, untungnya, tak ada yang tahu akan masalah keduanya. 

Langkah Arum begitu pasti. Tak ada lagi ketakutan seperti sebelumnya. Ya, itu karena ia telah berjanji untuk tidak terlalu lemah dan harus berani menghadapi kenyataan. Jarak dengan Zulfa semakin dekat. Meski detak jantungnya mulai tak normal, ia berusaha memasang senyuman, berharap kakaknya memberikan sambutan hangat.

"Pagi, Mbak."

Yang disapa meliriknya sekilas dan kembali mengaduk-aduk teh hangat dalam gelas. Sedang Arum tak mau mematahkan tekad begitu saja. Ia mengambil ponsel, menjelajahi icon berwarna merah muda. Matanya begitu jeli memandangi deretan foto beberapa bulan yang lalu.

"Masih ingat ini nggak, Mbak?" tanya Arum sambil menunjukkan foto dua perempuan yang saling berpelukan.

Arum tersenyum simpul saat Zulfa menatap lekat gambar yang ia tunjukkan. Ada harap bahwa sang kakak pun merasakan apa yang dirasakan. Rindu bersua, bercengkrama, dan bercanda bersama, pun saling berbagi curhatan-curhatan sederhana ala wanita.

"Saat itu, Arum sangat rapuh. Arum tidak punya sandaran hidup. Arum selalu ingat Umma dan Abah. Tidak ada yang bisa menenangkan Arum kecuali Mbak Zulfa."

Air mata hampir menetes, tetapi ia usap dengan cepat. Napasnya sedikit tersengal, membuatnya harus berhenti sejenak, menetralkan perasaan. Arum pun kembali menjelajahi layar kaca, mencari sebuah potret yang mungkin saja bisa membantunya merebut kembali hati sang kakak. Hingga matanya menangkap sebuah foto bergambar dua perempuan duduk di taman dengan ice cream cornet** di genggaman.

"Masih ingat ini juga, Mbak?" tanya Arum lagi.

Lagi, Zulfa masih sudi memandang meski mulutnya hanya diam.

"Ini adalan ice cream favorit kita berdua sejak kecil. Mbak Zulfa selalu ngalah kalau Arum minta lagi. Kita bukan saudara kandung apalagi kembar ya, Mbak. Cuma, apa yang kita suka pasti sama." Arum melanjutkan perkataan dengan perasaan kalut yang berkecamuk.

"Termasuk pria dan lagi-lagi, aku harus mengalah untukmu. Betul kan, Rum?"

Benar saja, ucapan Zulfa kembali mencabik-cabik hatinya. Entah kenapa, naluri Arum menyetujui semua yang dikatakan kakaknya. Ia ingat betul bagaimana Zulfa begitu berharap bisa bersanding dengan Zuhan, hingga seringkali mengabaikan pria lain yang juga tulus mencintainya. Ia ingat betul bagaimana Zulfa harus menanggung penderitaan saat yang diharapkan justru mengkhitbah perempuan lain, yang tak lain adalah dirinya sendiri, adik sepupu Zulfa.

"Mbak, maksud Arum bukan seperti itu," tuturnya mencoba menenangkan perempuan yang menatapnya tajam.

"Terus, apa gunanya menunjukkan foto itu? Kamu sengaja mengingatkan bahwa seorang kakak harus mengalah untuk adiknya, kan? Itu bener kan, Rum?"

"Salah, Mbak. Arum cuma-"

Brakk

"Jangan pernah dekati aku lagi, Rum. Assalamualaikum."

Sontak Arum menangis, terkejut akan aksi kakaknya. Ah, rupanya, Zulfa benar-benar marah hingga tak sedikitpun memberinya waktu untuk berbicara. Kali ini, Arum kembali terisak. Genangan air mata sudah turun membasahi pipi, bahkan berjatuhan, membentuk pulau-pulau kecil pada khimar abunya. Ia mengusap wajah kasar sembari beristighfar.

"Astaghfirullahal 'adziim ... Arum harus bagaimana lagi untuk merebut hatimu, Mbak?"

"Arum ... Arum ..."

Tetiba panggilan dari kejauhan membuatnya mengusap seluruh cairan di pipi. Ia pun menoleh cepat, melihat Alya yang berlari tergopoh menghampirinya. Entah ada apa, yang pasti, jantungnya mendadak berpacu cepat, pun kepalanya seolah berputar-putar.

"A-ada apa, Al?" tanya Arum sambil memijit pelipisnya yang terasa nyeri dan pusing.

"Zulfa, Rum. Zulfa."

Entah hilang kemana rasa sakit itu. Mendengar nama Zulfa, perempuan itu berdiri dengan tatapan pias. Takut, khawatir, sedih, marah, semua riuh menohok dadanya. Ia ingin bertanya ada apa, tetapi Alya menyeretnya paksa begitu saja. Hingga sampai di depan gerbang universitas, Arum gemetar menyaksikan genangan darah di aspal.

'Tidak! Ini tidak mungkin!'

Arum merasakan elusan tangan halus Alya di punggung. Perempuan itu memejamkan mata sembari menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Ia pun melangkah, membelah kumpulan mahasiswa.

"Mbak! Ya Allah ... " jerit Arum memekak telinga.

Benar saja. Ketakutannya pun berbuah nyata. Dia, Zulfa, gadis yang sempat adu mulut dengannya tadi telah meringkuk di jalanan dengan kepala yang sudah penuh dengan cairan merah berbau anyir. Ia tak tahu harus bereaksi apa, yang pasti, rasa pusing ikut mendera, membuat penglihatannya mengabur seketika. Tak ia pedulikan bagaimana krasak-krusuk kerumunan yang berusaha membopong Zulfa. Hingga semua gelap, tak ada yang bisa ia lihat atau rasakan.

***

Beberapa jam berlalu, dalam kamar bernuansa putih, Arum mengerjap. Ia mengedarkan pandangan. Dilihatnya sekeliling ruangan. Tampak gorden biru sedikit bergoyang, ditambah bau obat-obatan menguar. Sesaat, ia tersadar akan satu hal. Hingga ia hendak bangkit, tetapi tertahan oleh Zuhan yang tiba-tiba masuk menemuinya.

"Sayang, sudah bangun?"

"Pak, Mbak Zulfa mana?"

"Zulfa ..."

Arum tak sabar menunggu jawaban. Ia pun melepas tangan Zuhan dan bangkit begitu saja. Tak peduli bagaimana sang suami mencegahnya keluar kamar. Pikirannya sudah penuh akan nama Zulfa sekarang. Sedang Zuhan begitu sigap hingga kembali mencekal tangan Arum.

"Arum, hati-hati! Tolong, jangan lari-lari. Kamu-"

"Pak, Arum ingin bertemu Mbak Zulfa. Lepaskan Arum!" ucap Arum dengan nada penuh penekanan dan menepis kasar tangan suaminya.

Di depan ruangan, melalui cendela kecil berbentuk lingkaran, Arum menangis, menyaksikan Zulfa yang terkungkung dengan berbagai peralatan medis. Hatinya begitu sesak mengingat perdebatannya dengan sang kakak. Sakit sekali rasanya, apalagi yang diperdebatkan hanyalah masalah klasik, memperebutkan seorang pria.

"Nduk ..."

Panggilan Pakdhe Hasan membuatnya menoleh dengan gerakan lemah. Sungguh, campur aduk yang dirasakan sekarang, ditambah tubuhnya yang masih terasa lemas.

"Bagaimana keadaan Mbak Zulfa, Pakdhe?" tanyanya lirih.

"Benturannya cukup keras. Berdoa saja, Nduk. Semoga Zulfa cepat bangun."

Wajah pria itu begitu tenang, tetapi Arum tahu betapa terlukanya sosok yang telah merawatnya sejak kepergian sang Abah dan Umma. Sekali lagi, ia benar-benar tidak sanggup hingga tangisan kembali keluar, bahkan semakin kencang isakan-isakannya.

"Pulang saja, Nduk. Pakdhe titip tas Zulfa."

"Ayo, sayang. Kita pulang dulu. Kamu butuh istirahat."

Tak ada pilihan. Arum berjalan dalam dekapan Zuhan. Rasanya, seluruh tubuh begitu lemas. Bahkan untuk berjalan pun seolah terseok-seok melewati terjalan. Ah, bukan itu yang sesungguhnya dirasakan. Jiwanya memang benar-benar tergoncang hingga seluruh fisik merespon dengan baik dan ikut merasakan sakitnya.

***

Kini, Arum dan Zuhan berada dalam kamar, tepatnya di rumah Pakdhe Hasan. Berkali-kali Zuhan membujuk makan sang istri, tetap penolakan yang didapat. Sedang Arum hanya duduk diam, memikirkan bagaimana keadaan sang kakak sekarang.

"Rum, tenang, ya. Insyaa Allah, Zulfa baik-baik saja."

"Arum merasa bersalah, Pak. Sebelum kejadian itu, kita sempat bertengkar. Arum ..."

Tak tahan, Arum berhambur pada pelukan Zuhan dan menumpahkan segala tangisan. Semua terasa sulit untuk dijabarkan, pun sang suami pasti telah memahami segala pelik permasalahan.

"Sudah sayang, sudah. Kamu harus jaga kesehatan, Rum. Ada hal-"

"Pak, mana tas Mbak Zulfa?"

Zuhan menghembuskan napas pelan. Ia bingung harus berlaku apalagi agar sang istri tak selalu memikirkan saudaranya dan beralih pada kesehatan fisik dan psikisnya. Lelaki itu pun pasrah dan memberikan tas Zulfa yang tergeletak di atas laci.

Sementara Arum terdiam, memandangi tas berwarna cokelat kesayangan kakak sepupunya. Cairan bening tetap keluar, bersamaan dengan setiap rasa sakit yang menyengat dadanya. Hingga tangannya yang masih terasa lemas itu berani menjamah isinya. Tak bermaksud mencari apa-apa, hanya ingin tahu apakah ada benda berharga Zulfa yang tertinggal.

Ah, benar sekali. Ada sebuah buku bercover merah muda yang justru kembali mengusik ketenangan jiwanya, pun Zuhan ikut menegang membaca tulisan yang tertera.

'Zulfa's diary, all about Zuhan'

"Simpan saja ya, Rum. Sekarang, Arum tidur." Zuhan mencoba mengambil paksa buku itu, tetapi dibalas tatapan memelas sang istri.

"Jangan halangi Arum, Pak. Atau kita baca saja sama-sama."

Tak ada pilihan lain. Zuhan tahu betul bagaimana sifat Arum yang tak akan tenang jika belum menuntaskan rasa penasarannya. Hingga ia pun mengangguk, menyetujui permintaan sang istri. Sementara Arum merasakan jemarinya gemetar saat membuka lembaran pertama yang bertuliskan sepasang huruf yang sama persis dan tampak serasi.

AZ ❤ AZ

Hanya sekedar inisial, hatinya kembali tergoncang. Beruntung, sentuhan halus di lengannya kembali menguatkan dan menegarkan. Arum tahu betul makna dibalik huruf-huruf itu. 'Arshad Zuhan ❤ Annisa Zulfa,' begitulah ejanya dalam hati. Sungguh, hatinya seperti teriris-iris sekarang. Namun, ia tetap bertekad membuka lembaran selanjutnya.

💕💕💕

9 November 2021

Bahagia itu, saat aku diam-diam mencintainya dan dia pun membalasnya. Maafkan mahasisiwimu ini, Pak Zuhan. Zulfa tidak izin untuk mencintaimu. Ah, bukankah jatuh cinta itu tak memerlukan surat izin? Konyol sekali si Zulfa ini. Uhibbuka fillah, Arshad Zuhan.

💕💕💕

"Rum, sudah, ya. Besok lagi," bujuk Zuhan, tetapi masih dibalas gelengan oleh Arum.


Jemari Arum masih berlanjut membuka lembaran-lembaran diary Zulfa.

💕💕💕

15 November 2021

Aku bukan pengecut, kok. Hanya saja, aku terlalu takut jika beliau mengetahui perasaanku. Aku pasti tak lagi mampu menghirup napas dengan bebas. Semua pasti canggung dan menciptakan perubahan sikap. Pemikiranku betul, kan? Jadi, diam itu lebih baik. Jujur saja ...


Aku tak mudah mengatakan "AKU JATUH CINTA"


Aku tak mudah mengaku "AKU JATUH CINTA"


Dan aku juga tak mudah untuk "JATUH CINTA TERHADAP ORANG LAIN"

💕💕💕

"Sayang, sudah. Bukunya disimpan dulu," Zuhan kembali berujar, membujuk sang istri yang mulai menangis.

"Jangan, Pak. Biarkan Arum membacanya semua. Tugas Pak Zuhan hanya menenangkan Arum."

Lagi-lagi, Zuhan pasrah dan hanya bisa menguatkan dengan rengkuhan. Lembaran demi lembara tetap ia baca, mengisahkan bagaimana Zulfa mencintai Zuhan dalam diamnya.

💕💕💕

23 Januari 2022

Dikhitbah seseorang yang dicintai dalam diam, it's my dream.

Seutas kabar itu membuatku tersenyum girang siang dan malam. Besok, saat acara khitbah, aku akan berdandan secantik mungkin untuk menemui calon pendamping hidup yang sudah sejak lama aku dambakan, Arshad Zuhan.

💕💕💕

24 Januari 2022

Aku berhias untukmu karena yang kutahu, kamu datang untuk mengkhitbahku. Kenyataanya, pilihanmu tertuju padanya, adik sepupuku. Kenapa dunia mempermainkanku?

💕💕💕

"Astaghfirullah ..." lirih Arum dengan bibir bergetar.

"Arum ..."

Dada Arum mulai sesak, mengingat bagaimana dirinya dan Zulfa berdebat panjang karena kesalahpahaman. Ia ingat betul bagaimana seorang Zulfa berhias secantik mungkin demi menemui pria yang hendak meminangnya. Sayang, justru dirinya yang mendapatkan khitbah secara cuma-cuma, hingga dipojokkan berhari-hari lamanya.

Hingga beberapa menit, Arum kembali duduk tegap dan mengusap pelan pipinya. Ia melanjutkan lembaran buku Zulfa dan membaca seksama aksara yang tergoreskan sejak beberapa minggu terkahir.

💕💕💕

31 Januari 2022

Ternyata, ikhlas itu sulit, ya? Sampai kapan hatiku terus terkungkung? Sampai kapan aku harus selalu mengalah? Seharusnya, aku yang bersanding dengannya, bukan Arumi Khadijah. Tapi, aku bisa apa? Hanya pasrah.

💕💕💕

Kali ini, ia tak tahan. Ia menjatuhkan kepalanya pada paha Zuhan. Tangisannya begitu pecah, menunjukkan betapa hatinya penuh dengan luka sekarang. Memori sakral menegangkan sekitar satu bulan yang lalu kembali memporak-porandakan rasa cinta yang telah dipupuk mati-matian bersama Zuhan. Ada rasa sesal, takut, bahkan benci bersamaan.

"Arum jahat, Pak. Arum jahat."

Mendengar sang istri merancau tak karuan, Zuhan merasakan nyeri dalam hati. Lelaki itu mendudukkan tubuh Arum dan mengusap air matanya.

"Nggak, sayang. Itu nggak bener. Arumi Khadijah itu perempuan baik-baik. Kalaupun ada yang harus disalahkan, itu adalah aku, Arshad Zuhan."

Arum masih setia dengan tangisan, membiarkan genangan-genangan bening kembali bercucuran. Hingga kepalanya kembali terasa berat, pun tubuhnya kembali lunglai. Dan ... gelap. Ia kembali terlelap tanpa sadar.

"Ya Allah, kuatkan istriku. Kuatkan juga hubungan pernikahan ini," bathin Zuhan menangis sembari mengelus tubuh istrinya yang terlelap dalam dekapan.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42