Tulang Rusuk Part 30
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 30 : Layaknya Bianglala
Rembulan bergelayut manja, menghias antariksa, menyinari bentala dan seisinya. Kerlap-kerlip lampu yang tergantung pada tiap sudut ruangan menciptakan suasana megah. Gerombolan manusia dengan style elegant tampak berbincang sambil tersenyum riang. Makanan, minuman, kue, hingga snack-snack ringan terhidang di meja masing-masing yang telah memesan.
Restaurant bernuansa vintage begitu anggun dipandang. Arum dan Zuhan duduk berhadapan dengan meja yang penuh aneka makanan dan minuman sebagai sekatan. Dua insan berseragam gold itu menikmati hidangan sembari saling lempar senyuman.
"Pak, ini adalah kencan pertama Arum," ucap Arum malu-malu sambil menyeruput milk shake cokelat.
"Yang bener?"
Perempuan bergamis brokat emas pemberian sang suami pun menjawab dengan sangat antusias, "serius."
"Ekhem. Katanya, dulu pernah ketemuan sama Sya-"
Sadar akan arah pembicaraan pria di depannya, Arum refleks mencubit lengannya cukup lama hingga Zuhan merintih kesakitan meski itu sebenarnya hanya candaan.
"Aduh ... aduh ... biasa aja, Rum!"
Ah, Arum sungkan sekarang. Gegas ia menghentikan aksi konyolnya dan mengusap lengan suaminya pelan sembari meminta maaf.
"Njenengan nggak usah cari gara-gara ya, Pak. Sudah dibilang jangan bahas Mas Syafiq kok masih aja. Njenengan sengaja, kan?"
Celoteh Arum justru membuat Zuhan tersenyum girang. Sedang Arum tampak bingung melihat sang suami yang justru menengadahkan tangan dan mengusapnya pelan ke wajah dengan bacaan hamdalah.
"Alhamdulillah, ya Allah."
"Kenapa, Pak?" tanya Arum sambil menautkan kedua alisnya.
"Kamu sudah bisa bicara panjang lebar, menyebut nama Syafiq tanpa ada drama mewek. Itu artinya, kamu sudah tidak pernah memikirkannya, Rum. Betul, nggak?"
"Njenengan salah, Pak."
"Maksudnya?"
"Pak Zuhan pasti paham kalau cinta pertama itu sangat istimewa. Itu yang nejenengan rasakan saat pertama kali jatuh cinta pada Arum kan, Pak?"
Mendengar itu, Zuhan mendadak kelu. Pria bertubuh tegap itu tak mampu meng'iya'kan perkataan Arum. Namun, dalam hati, ia menyadari betul betapa sulit menghapus jejak cinta pertama. Tetiba dirinya teringat bagaimana dulu dia harus menahan pedih saat berusaha mengikhlaskan Arum jika seandainya Syafiq yang menjadi pendampingnya.
Tak mau menciptakan suasana getir juga gundah, Zuhan mencoba relax dan memksa tersenyum. Lelaki itu menegakkan tubuh dan mengangguk sebagai jawaban setuju atas pernyataan sang istri. Sementara Arum memandang suaminya begitu sendu, menyadari perubahan raut yang tersirat pada wajah Zuhan.
"Seperti itu Arum, Pak. Bedanya ..." Arum menunduk, membuat Zuhan semakin penasaran akan kalimat-kalimatnya yang menggantung.
"Bedanya?"
"Ada seseorang yang berhasil mengeluarkan Arum dari perangkap masa lalu. Orang itu adalah suami Arum, Pak Zuhan."
Wajah yang mulanya lesu justru bersemu. Zuhan menyunggingkan senyuman dengan pandangan mata yang penuh keharuan. Diam-diam, pria itu mengucap hamdalah berulang-ulang, mensyukuri betapa Arum menyayanginya sekarang. Ya, meski masih sekadar sayang, setidaknya, hanya dialah yang berhak mendapatkannya.
***
Jarum jam terus merangkak, mengitari setiap angka. Tepat pada pukul sepuluh malam, dalam kamar, Arum masih terjaga dengan ponsel di genggaman. Jemarinya tak lelah menscroll layar kaca sedang matanya begitu jeli memindai tiap gambar yang tersimpan rapat di kotak galeri. Ia tersenyum saat memandang potret dirinya dan Zuhan beberapa jam yang lalu saat makan malam di restaurant. Tangan keduanya saling tertaut di atas meja sedang wajah menghadap kamera dengan penuh keceriaan.
Setelahnya, Arum membuka aplikasi biru buatan Om Mark. Ia mulai menuliskan deretan aksara sebagai caption potret yang hendak diunggah.
'Trimakasih karena selalu mencintaiku dan menjadikanku satu-satunya perempuan istimewa dalam hidupmu.'
Begitulah rangkaian kata yang ia tulis murni dari hati. Ia hanya ingin dunia tahu bahwa imam halalnya begitu mencintainya, pun dia sangat bahagia bisa diperistri oleh pria sholih seperti suaminya. Klik. Hanya dalam dua detik, unggahan berhasil.
"Sedang apa, Rum?" tanya Zuhan yang tiba-tiba mengintip aksinya.
Gegas Arum menekan tombol home di ponsel dan menggelengkan kepala. "Eh, nggak, Pak."
Sayang, Zuhan tak berhenti begitu saja. Lelaki itu mengambil paksa ponsel Arum, membuatnya menunduk malu. Ah, ia malu akan unggahan dan kata-kata yang disematkan.
"Coba baca ini, Rum."
Mendengar titah sang suami, Arum sedikit bingung. Apakah ada yang salah dengan unggahannya. Sejenak, ia pun mendekat dan membaca tulisan yang ditunjuk jemari Zuhan. Mendadak wajah cerianya memudar, tak ada lagi rona merah.
[Selamat, Arumi. Aku turut bahagia melihatmu dan kakakku bahagia.]
Kolom komentar menunjukkan nama Syafiq Albana. Kalimat itu sukses menghantam dadanya. Bukan sedih karena ingat cinta pertama, hanya saja, ia ikut merasakan sakitnya pria yang sedang menempuh pendidikan di Kota Pelajar. Bukan hal mudah untuk menghapus jejak orang yang teramat dicintai.
"A-ada apa, Pak?" tanyanya pura-pura tak paham.
"Terkadang, kebahagiaan yang kita bagikan itu menciptakan penderitaan, Rum."
"Cuma postingan biasa ini, Pak. Apa terlalu berlebihan?"
"Bagi kita mungkin biasa, tapi bagi dia, itu sangat menyiksa, Rum. Ini baru adikku, bagaimana kalau ..."
Sejujurnya, hatinya mulai bergejolak sekarang. Ia paham kata apa yang akan hendak dilanjutkan sang suami. "Kalau?"
"Bagaimana kalau Zulfa juga tau?"
Benar saja, nama Zulfa berhasil merampas ketenangannya lagi malam ini. Bedanya, ia tak ingin melanggar janji pada sang suami hingga ia berusaha tegar dan tetap tenang. Benar kata Zuhan, seandainya sang kakak sepupu mengetahui dan membaca postingannya, entah badai apalagi yang akan menerjang rumah tangganya. Ia pun memgambil alih ponselnya yang berada di genggaman Zuhan. Tanpa pikir panjang, ia tekan tombol delete. Berhasil!
"Sudah Arum hapus, Pak. Maafkan Arum."
Zuhan mengangguk, mengelus rambut Arum perlahan.
"Rum, hubungan kita sekarang mungkin sedang baik-baik saja. Yang harus kamu ingat, hidup itu ibaratnya bianglala. Kita memang sedang merangkak dan berhasil mencapai di titik teratas, tapi, jangan lupa kalau posisi bisa berubah kapan saja."
Sedang Arum masih diam, mendengarkan dan memaknai tiap kalimat yang dilontarkan Zuhan.
"Tidak semua orang senang dengan pencapaian kita, Rum, pun tak sedikit yang akan mentertawakan saat kita berada di titik terendah," lanjut Zuhan.
"Arum paham, Pak. Seharusnya, Arum tidak usah pamer seperti itu."
"Nggak apa-apa, sayang. Aku nggak melarangmu untuk mengunggah apapun. Cuma, sekarang, keadannya masih genting. Bisa dipahami, kan?" tanya Zuhan memastikan yang dibalas anggukan oleh Arum.
"Sudah malam. Tidur, yuk!"
Gegas Arum merebahkan badan dan diikuti Zuhan. Selimut tebal menutupi tubuh keduanya. Sejenak, Zuhan memandang wajah istrinya. Gegas pria itu menyampingkan tubuh menghadap Arum. Sedang Arum masih diam tak bergeming. Matanya menerawang ke atas entah memikirkan apa.
Zuhan yang merasa diabaikan, hendak berbalik. Bukan berbalik, tetapi rebahan seperti semula. Sayang, tangan Arum dengan sigap mencegah. Ia mencekal tangan sang suami dan dilingkarkan pada perutnya. Diam-diam, perempuan itu tersenyum.
"Begini saja, Pak. Arum rindu," ucapnya pelan.
Zuhan merasakan hawa hangat menyergap. Dengan susah payah, ia menelan saliva, tetapi tetap bersikap relax.
Lelaki itu pun memperpendek jarak dan berbisik lirih, "nggak usah bilang rindu, cukup rasakan aku, adakah di hatimu."
"Pak Zuhan sudah bersemayam di hati Arum. Selamat tidur, Pak. Arum ngantuk."
Ucapan Arum yang menggemaskan membuat Zuhan semakin tak karuan. Hingga keduanya saling mempererat pel*kan, menjamah indahnya dunia malam bersama kekasih halal.
💕💕💕
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar