Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 3

 "Sabar, ya, Cah Ayu. Zulfa masih shock. Nanti, dia akan sembuh."


💕💕💕


Tulang Rusuk -> part 3

Karya : Zahidah h.M.


Bau aneka makanan menyeruak di indera penciuman. Gadis dengan gamis lime sedang beradu kreasi dengan wanita paruh baya yang ia panggil Budhe. Tampak keduanya saling membantu meski rasa canggung menciptakan jarak. Sesekali, deheman keluar dari salah satunya. Tak tahan, Arum pun berusaha mencairkan suasana.


"Budhe, apa njenengan marah masalah kemarin?" Tanyanya begitu pelan.


Wanita yang sedang menggoreng ikan itu pun menoleh dan memandangnya lekat. "Maunya marah, Rum. Tapi, buat apa? Kamu nggak salah apa-apa."


Lihat! Senyum Arum terbit mengalahkan terangnya sinar mentari. "Trimakasih Budhe." Entah kemana perginya rasa canggung tadi, yang pasti, gadis itu tengah memeluk sosok penyandang nama Salamah.


Merasakan hawa lega, keponakan dari Ibu Zulfa itu melanjutkan aktivitas memasak. Hingga selang 1 jam, sajian telah siap dan menggugah lidahnya. Diam-diam, Arum mencicipi tiap makanan yang sudah berjajar di meja makan. Sungguh menggemaskan!


"Arum, kebiasaan!" 


Arum terkekeh saat Budhe mengetahui tingkah konyolnya. "Enak, Budhe. Ternyata Arum pinter masak ya?"


Budhe mendekat dengan segelas kopi di tangan. "Tanganmu ajaib seperti Umma."


"Serius, Budhe?" Tanyanya antusias.


"Iya, Abahmu dulu nggak pernah mau makan di luar sejak merasakan lezatnya masakan Ummamu," jelasnya sambil menata piring.


Mendengar penuturan sosok Ibu di depannya, Arum memandang langit-langit hunian dengan senyum manisnya. "Mas Syafiq, nanti Arum akan memanjakan lidahmu," ucapnya pelan.


Namun, detik itu juga, ia menyadari betapa buruknya apa yang telah terucap. Nama Zuhan muncul begitu saja seolah memelas, mengharap belas kasihnya. Gadis itu menunduk sembari memegangi dada. Tubuh yang mulanya tegap seketika lemas.


"Maaf, Pak Zuhan. Arum terlalu mendambakan Mas Syafiq. Hati Bapak pasti sakit jika tau ini."


"Ngomong apa, Rum?"


Great! Arum membekap mulutnya seketika. Rasanya, ia ingin berlari sebelum beribu pertanyaan menghantam ketenangannya. Ya, Muhammad Hasan akan mempertanyakan segala hal jika itu menyangkut anak perempuannya, sekalipun Arumi Khadijah hanyalah anak dari sang adik.


Gadis itu menoleh dengan tatapan ke bawah. Sungguh, dia sangat takut jika ucapannya telah menembus gendang telinga lelaki yang dihormatinya.


"Mboten, Pakdhe."


Lelaki itu mendekat, menepuk pundaknya. Merasakan itu, gadis yang meremas kain gamisnya menegang seketika.


"Lupakan dan belajarlah ikhlas!" Bisiknya tepat di telinga kanan.


Sempurna! Gadis itu semakin terdiam memahami makna setiap kata yang keluar dari mulut lelakinya. Antara melupakan Syafiq dan menerima Zuhan, sungguh teramat rumit, begitulah pikirnya. 


Dengan pikiran kacau, ia duduk menunduk. Decitan kursi di sampingnya semakin mengusik segala kegundahan yang dirasa. Tampak Zulfa duduk dengan pandangan lurus ke depan. Gadis itu terdiam, tak menyentuh sedikitpun makanan.


"Rum, Zul, ayo makan!" Pergelutan dalam otak buyar begitu saja saat suara bariton memanggil.


Hening, kini semua fokus dengan santapannya masing-masing. Hanya dentingan sendok dan kunyahan yang menyelimuti ruangan. Sesekali, terdengar suara deheman, batuk, hingga decitan kursi. Kegiatan makan usai, keempat titisan Adam dan Hawa merasakan lega dalam perutnya. Hamdalah terucap dari setiap bibir insan dalam ruangan. 


"Nduk!"


Arum dan Zulfa mendongak seketika saat Hasan memanggil keduanya.


"Nggih, Bah?" Putri bungsunya menyahuti.


"Pernah dengar kisah Abdurrahman dan Laila Bintu Al-Judi?"


Dua gadis manis itu terdiam. Sesekali, Arum berdehem, berharap sang kakak sepupu menuturkan semua kisah lengkapnya. Sayang, tak ada satu suarapun yang ia keluarkan. Sedang Hasan begitu jengah melihat dua putri yang selalu menyejukkan mata kini saling diam.


"Abdurrahman begitu mendamba Laila karena parasnya. Setiap hari membayangkan keindahan wajah serta tubuhnya hingga Allah menakdirkannya bersatu. Kalian tau apa yang terjadi? Coba jelaskan, Rum!" 


Gadis itu tercekat, tak berani menatapnya. 'Gluk.' Arumi menelan salivanya kasar. Bak berdiri di tengah persidangan, entah kenapa lidahnya mendadak kelu. Ada rasa takut jawabannnya akan menjalar dan menghasilkan sejuta tanya untuknya.


"Rum?"


Dengan gerakan memaksa, dia mendongakkan kepala. "Abdurrahman begitu mencintai Laila hingga abai dengan istrinya yang lain. Namun, rasa cinta itu pudar seketika saat Allah melunturkan kecantikan Laila karena penyakitnya."


Lihatlah, tampak Hasan menegakkan badan seraya tersenyum bangga pada keponakan satu-satunya.


"Mahabbah, kalian sudah dewasa dan pasti mengalaminya. Jadikan kisah tadi sebagai pelajaran! Jangan terlalu mendamba hingga abai dengan keadaan sekitar!" Pria itu diam sejenak sembari menatap Arum lekat. "Khususnya kamu, Rum. Jangan terlalu membenci karena sekali saja Allah menunjukkan tabiat baiknya, kamu justru akan mengejarnya."


Arum tertampar mendengarnya. Ingin rasanya ia menangis atas sesalnya namun sungguh tak bisa. Apakah benar adanya bahwa sosok Albana telah menggerogoti ketaqwaannya? Nyatanya, gadis itu masih ingat akan Tuhannya, hanya saja, dalam pikirannya kini penuh akan nama sang pria. Lalu, akankah Zuhan mampu merebut cintanya? Entahlah, pria itu memang mulai menghantui hari-harinya. 


"Zulfa ke kamar dulu," ucap Zulfa tanpa memandang tiap pasang mata yang duduk dalam ruang makan.


Tak mau terlalu larut dalam perselisihan, Arum ikut beranjak dan mengikuti langkah Zulfa. Ia memasuki kamar yang berada tepat di samping tangga tanpa permisi. "Mbak Zulfa."


Hening. Gadis yang dipanggil masih setia dengan buku di genggaman. Sesekali, matanya melirik tajam. Sedang Arum gemetar mengulurkan tangan. Sungguh, ia takut akan adanya penolakan. Ah, bahkan kali ini jauh lebih menyakitkan. Zulfa tak menepis tangannya kasar melainkan mengabaikan uluran itu begitu saja.


Lelah. Arum membuang napas kasar sembari menarik tangannya kembali. "Mbak, Arum berangkat kuliah dulu. Assalamualaikum."


Penyandang status mahasiswi tingkat akhir itu keluar dengan wajah yang tak berbinar. Sinar mata itu begitu redup tak menunjukkan semangat mengais asa. Tiba di ruang tamu, pria kekar memandangnya senduh seolah paham betapa Arum begitu merasa gundah.


"Nduk," panggilnya lirih.


Ia menoleh dan berjalan menunduk ke arah Hasan. "Nggih, ada apa Pakdhe?"


"Sabar ya cah ayu. Zulfa masih shock. Isnyaa Allah, nanti akan sembuh."


Sesungguhnya, ia tak ingin merusak pagi dengan tangisan. Apa daya, ucapan pria berwibawa di depannya mampu menusuk jantung. Mata itu tak lagi berkaca melainkan mengalirkan cairan bening. Dengan pelan, Arum mengusapnya berharap musnah pula kesedihan yang dirasakan. Kini, ia berdiri dengan sedikit membungkuk sembari mencium tangan Hasan ta'dzim.


"Arum berangkat dulu, Pakdhe. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam. Hati-hati, Nduk!"


"Nggih."


Senandung rindu ia lantunkan untuk seseorang yang dikasihi. Entah bagaimana kabarnya sekarang, nyatanya, telah lama gadis itu tak berjumpa juga bersua. Di setiap langkah, nama itu selalu mengalun indah meski ia sendiri pun tak tahu bagaimana keadaan hati sang pria.


Ditengah ramainya jalanan, Arum terus melangkah menuju halte. Beruntung, jarak dari rumah tak terlalu jauh. Siapa sangka, klakson motor memekik telinga hingga ia menoleh seketika. Betapa terkejutnya ia saat sosok yang mendambanya berada tepat di hadapannya. Lelaki berkemeja abu dengan motif kotak-kotak yang setia duduk dalam motor hitam matic itu membekukan tubuh. 


"Rum," panggilnya pelan.


"I-iya, Pak?" ucapnya sedikit terbata.


"Lagi nunggu bis?"


"Nggih."


"Mau ba-" Zuhan tak melanjutkan kata melainkan terdiam memikirkam suatu hal sedang Arum penasaran apa yang akan dosennya ucapkan.


"Ba?"


"Sebentar."


Tampak lelaki itu membelokkan kendaraan dan melaju menjauh. Selang beberapa menit, dari kejauhan, Arum menyipit saat mendapati sosok Zuhan berjalan dengan lengan kemeja sedikit tersingsing di pergelangan. Yang dilihat semakin mendekat, sangat dekat dan kini berdiri tepat di sampingnya.


"Motornya kemana, Pak?" Tanyanya heran.


"Saya titipkan di tempat parkir," jawab Zuhan sembari menunjuk suatu tempat di mana berjajar beberapa sepeda motor.


"Lho, kenapa?"


"Saya ingin naik bus." Zuhan menjeda sejenak dan melirik Arum. "Sekaligus menemanimu."


Mungkin tak ada kata cinta terucap yang membuat pipi sang gadis bersemu merah. Bukan karena tak cinta, namun lelaki itu sadar bahwa dirinya bukanlah pria tampan dan pandai memainkan peran romantis seperti aktor-aktor korea. 


Biar kuungkap rahasia besar, saat ini, jantung Zuhan berdentum hebat. Andai tak melekat, bisa dipastikan jantung itu lepas saat ini juga. Lalu, bagaimana dengan Arumi Khadijah? Satu rahasia lagi, gadis itu hanyut dalam tabiat baiknya. Hanya saja, kali ini ia masih berharap bahwa yang ada di depannya adalah Syafiq Albana. Namun, percayalah! Ada satu atau dua kupu-kupu yang mengitari hatinya berkat sikap manis Zuhan.


"Kenapa Bapak harus ikut berdesakan?"


"Hanya cara ini yang bisa saya lakukan untuk menjagamu."


"Maksudnya?"


"Kalau mau, saya bisa memboncengmu. Tapi, itu nanti kalau sudah halal."


Wanita mana yang tak melayang dengan penuturan manisnya? Meski samar, Arum merasakan hawa hangat dalam dada. Ah, cara pria itu menjaga sungguh istimewa.


"Rum, izinkan saya membuktikan bahwa saya adalah imam yang tepat untukmu." Lihat! Senyum Zuhan begitu manis. "Mungkin, saya bukanlah pria pertama yang ada di hatimu. Namun sekarang, saya sedang berbenah dan mempersiapkan diri untuk menjadi pria terakhir di hatimu."



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42