Tulang Rusuk Part 29
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 29 : Memahami dan Mencintai
Ada suatu ungkapan yang menyiratkan bahwa pria perlu banyak mencintai dan wanita perlu banyak memahami. Banyak manusia yang mulai menjamah dan menyetujui pendapat itu. Kenyataannya, memang benar bahwa pria butuh dipahami, pun wanita butuh dicintai, tak hanya dimengerti. Sebab perempuan seringkali sulit memaknai pemikiran dan perasaannya sendiri.
Dalam kamar, Arum setia rebahan sembari membaca majalah. Ia sama sekali tak turun ke bawah. Katanya, selera makan masih belum muncul, pun Zuhan sendiri yang sibuk berkutat di dapur meski dengan makanan ala kadarnya. Beruntung, lelaki itu pernah menjalani semua itu semasa nyantri dulu.
Arum yang masih asyik memindai setiap huruf yang tertulis di kertas bersampul merah muda itu sedikit sungkan saat sosok Abah Umar masuk bersama Zuhan. Gegas ia bangun dan bersandar sembari menyunggingkan senyum pada dua prianya.
"Sudah enakan, Nduk?" tanya Abah yang sudah duduk di ranjangnya.
"Alhamdulillah, Bah."
"Kalau masih ada yang sakit, langsung ke dokter saja. Han, jaga istrimu baik-baik! Abah keluar dulu."
Baik Arum dan Zuhan mengangguk dan segera mencium tangan sang Abah ta'dzim. Lelaki berumur 50 tahunan itu keluar, meninggalkan sepasang suami istri yang saling lempar senyuman.
Sesaat, Arum merasa bersalah mengingat kejadian semalam, di mana dirinya menangis sesenggukan hingga sang suami tak bisa tidur dengan tenang. Diam-diam, ia menoleh ke sembarang arah, merasakan matanya yang kembali mengembun. Ah, kenapa pula bayangan itu harus berputar ulang? Kenapa begitu sulit mendekap ketenangan dan kenayamanan sekarang? Itulah yang ia pikirkan sedari tadi hingga sekadar makan sesuap nasi pun tak diindahkan.
"Masih mau nangis? Mana janjinya semalam, Rum?" tanya Zuhan yang menyentuh keuda pipi Arum.
"Sulit, Pak. Arum sudah melalui banyak hal menyakitkan."
"Justru itu. Arum nggak boleh nyerah. Harus kuat, gak usah dihiraukan omongan-omongan nggak penting seperti itu. Paham?"
Mendengar kalimat menenangkan itu, ia mengangguk dan mengapit lengan suaminya. Ia senderkan perlahan kepalanya sembari menghembuskan napas.
"Trimakasih, Pak. Pak Zuhan selalu berhasil menjadi pelindung Arum."
"Sudah tugasku, Rum. Mau sesuatu?"
Arum hanya menggeleng, tak ingin apapun sekarang. Katanya, ia hanya butuh seorang teman yang selalu bersedia menabur senyuman, dan itu hanyalah Zuhan.
"Jalan-jalan, yuk! Biar nggak suntuk," ajak Zuhan yang masih dibalas gelengan oleh Arum.
"Kenapa?"
"Kasihan Pak Zuhan. Seharusnya, Pak Zuhan istirahat saja hari ini mumpung libur, bukan keluyuran."
"Keluyurannya sama kamu, sayang. Capek nggak akan terasa. Gimana?"
Entah kenapa, rasa hangat seketika menyapu seluruh wajah. Ia terkekeh dan menunduk, tak berani menatap sang suami.
"Kalau sudah dipanggil sayang gini, Arum nggak bisa menolak."
Gelak tawa keluar begitu saja dari bibir Zuhan. Ah, keduanya tertawa riang sekarang.
"Bisa aja jawabnya. Siap-siap, gih."
Jam delapan pagi, udara masih begitu sejuk, menemani dua insan yang asyik berboncengan, membelah keramaian. Celoteh panjang lebar keluar begitu saja. Entah berbicara tentang apa, yang pasti, keduanya menjelajahi jalanan kota dengan senyum ceria. Hingga satu jam jarak tempuh, Arum mengedarkan pandangan pada bangunan mall besar yang penuh dengan lalu lalang orang-orang.
"Ngapain ke sini, Pak?" tanya Arum yang memandangi bangunan besar berisikan segala macam kebutuhan primer, sekunder, dan eksterier.
"Siapa tahu kamu pengen beli sesuatu, Rum."
"Nggak, Pak. Kita makan saja. Tiba-tiba, Arum lapar melihat mereka," ucap Arum sembari menunjuk sebuah gerombolan orang yang begitu menikmati hidangan di sebuah restaurant, tak jauh dari mall yang ia kunjungi.
"Siap, ratu," jawab Zuhan sembari mencubit pipi chubby istrinya.
Dalam ruangan bernuansa epic dengan gaya klasik, Arum setia memandangi Zuhan yang sibuk menyantap steak. Sesekali, perempuan itu menopang dagu, menyadari betapa pria di depannya begitu menyayangi dan mencintai. Sesaat, dalam hati, ia pun mengakui bahwa pesona Zuhan begitu meneduhkan.
'Ternyata, njenengan tampan ya, Pak,' bathinnya terkekeh.
Seperti katanya, ada rasa cinta untuk Zuhan. Entah sudah sebesar apa sekarang. Yang pasti, dia pun seolah merasa jatuh cinta lagi setiap berdekatan dengan sang suami.
Bedanya, ini bukanlah cinta yang timbul seperti pertama kali bertatapan dengan Syafiq. Ya, bukan cinta pertama, bukan karena Zuhan pecinta sastra yang pandai memberikan rayuan romantis, apalagi hanya sekadar alasan tampan. Arum mulai memahami betapa cinta bisa terus tumbuh bermekaran karena banyaknya pelajaran dan pengertian dari sosok yang telah mengikatnya dalam hubungan halal, yakni cinta dalam pernikahan.
"Lihat apa, Rum? Makan, gih. Katanya lapar," ucap Zuhan membuatnya tersenyum sungkan dan segera menyantap makanan.
Ah, sepertinya, lapar begitu melanda. Perempuan bergamis peach itu begitu lahap menyantap hidangannya. Seperti biasa, ayam bakar dengan sambal merah menganga adalah favoritnya. Meski Zuhan melarangnya berulang-ulang, ia tetap menerjang. Tak apa, asal dalam batas wajar, begitulah tuturnya.
"Rum, aku keluar bentar ya."
Arum yang sedang menikmati hidangan itu menatap suaminya heran. "Kemana, Pak?"
"Itu ada temanku. Sebentar saja, kok. Beneran," jawab Zuhan dan segera beranjak.
Melihat suaminya yang bersiap keluar, ia pun menghentikan aktifitas makan dan gegas berdiri. "Arum ikut."
"Arum ... sebentar. Makan saja dulu, ok."
Bukan penolakan, hanya saja, yang dikatakan Zuhan pun benar. Buat apa harus mengikuti suamu yang mungkin sedang sibuk akan suatu hal. Ah, seperti anak kecil yang takut ditinggal pergi ibunya. Arum pun mengangguk. Gegas ia duduk dan menatap punggung Zuhan yang terus tertelan keramaian.
Sejenak, bayangan seorang gadis bertuni abu melintas begutu saja. Mulutnya menganga, tubuhnya mendadak kaku, tetapi hatinya riuh dengan segala rasa. Entah kenapa, tubuhnya bangkit begitu saja, mengikuti arah perempuan yang sedari tadi dipandanginya. Tak mau kehilangan jejak, ia sedikit berlari hingga tepat di ambang pintu, tangannya berhasil mencekal pergelangan.
"Mbak Zulfa ..."
Yang dipanggil menoleh dengan tatapan yang sama sekali tidak menunjukkan keramahan. Mata itu menampakkan amarah juga rasa kecewa. Sedang Arum tak mau berhenti berusaha. Tekadnya sudah bulat. Ia ingin menghapus jarak, bagaimanapun caranya. Tak peduli bagaimana jika nanti sang kakak sepupu mencaci bahkan membenci.
"Mbak ..." panggilnya lagi, tetapi tetap tak disahuti Zulfa. Ia berusaha tersenyum dan memegan tangan kakaknya.
"Lepasin, Rum."
Sayang, tepisan kasar kembali ia dapatkan. Sakit sekali rasanya. Bukan tangannya, melainkan hatinya.
"Mbak, duduk dulu, ya. Kita bicara baik-baik," bujuknya memelas.
"Maaf, tidak ada yang perlu dibicarakan. Permisi!"
Lagi dan lagi. Ia harus tertohok oleh kalimat-kalimat Zulfa. Gadis itu pergi begitu saja meninggalkan jejak lara di hati seorang Arumi Khadijah. Seperti biasa, pandangan Arum mulai mengabur, pun terasa panas. Ia tahan mati-matian agar bulir bening tak lagi keluat. Gagal. Masih saja ada tangisan di hari yang seharusnya hanya ada kebahagiaan. Bedanya, kali ini, ia berusaha relax dan tegar.
"Astaghfirullah ... sabar Arum, sabar," tenangnya sembari menghapus air mata.
"Arum nggak boleh nangis lagi. Kasihan, Pak Zuhan," monolognya lagi sembari berjalan menuju tempat duduknya.
Sekarang, Arum kembali berkutat dengan hidangan. Hanya saja, selera makan kembali hilang. Entah kemana perginya rasa lapar yang tadi begitu mendera. Semua terasa hambar sekarang. Bukan mendadak kenyang, melainkan muak dengan semua yang ada di hadapannya. Ingin mendapat ketenangan, perempuan itu kembali beristighfar.
"Kamu melanggar janji, Rum."
Tepukan di bahu membuatnya mendadak beku. Sesaat, ia menoleh dan tersenyum sungkan. Ah, ia tahu betul apa maksud perkataan suaminya itu.
"Eh, Pak?"
"Kamu nggak pandai berbohong. Ayo, pulang," titah Zuhan sembari memapah tubuh Arum untuk segera berdiri.
***
Dalam kamar, Arum merutuki aksi mellownya di restaurant tadi. Bukan apa-apa, hanya saja, ia telah menghancurkan rencana bertukar kebahagiaan dengan Zuhan. Ah, sia-sia sudah sang suami menyisakan waktu untuknya. Itulah yang ia sesali sedari tadi.
"Maafkan Arum ya, Pak. Jalan-jalannya gagal."
"Nggak gagal, Rum. Tenang saja."
"Kok bisa?"
Zuhan terdiam. Lelaki itu sibuk membuka dua paper bag berwarna cokelat yang ia dapat tanpa sepengetahuan Arum tadi saat keluar menemui temannya. Ah, ya, itu memang sengaja dipesan jauh-jauh hari.
Setelahnya, ia berjalan menuju lemari, mengambil sehelai kain berwarna putih. Sedang Arum terkejut saat Zuhan menutup matanya dengan hijab putihnya. Ah, ia bingung apa yang akan dilakukan sang suami.
"Kenapa harus ditutup mata Arum, Pak?"
"Nurut saja. Pakai ini," titah Zuhan sembari memberikan bingkisan pada Arum.
Arum pun mulai meraba dan membuka bingkisan itu. Sejenak, ia tertegun dan menyadari apa itu. "Ini kan-"
"Ssst. Nurut."
Ia tak bisa lagi berkata apa-apa. Namun, ia bingung bagaimana cara memakainya memgingat ada lelaki yang mengawasinya. Ah, bukankah itu tak berdosa? Sangat tidak. Hanya saja, perempuan itu memancarkan rona merah di pipi. Malu, itu yang dipikirkan.
"Pak Zuhan jangan lihat, ya."
"Lihat juga nggak dosa, Rum. Gak usah khawatir," goda Zuhan membuat Arum semakin salah tingkah.
"Pak ..."
Mendengar desis Arum, Zuhan tertawa dan berbisik lirih. "Aman, sayang. Aku ke kamar mandi dulu."
Hanya beberapa menit, Arum telah melaksanakan perintah Zuhan. Sesekali, ia memekik kegirangan dalam hati bebarengan dengan rasa penasaran. Ia sentuh dan raba balutan kain yang telah melekat di tubuh. Ah, ia tak sabar ingin membuka penutup mata dan menyaksikan betapa cantiknya pemberian Zuhan. Hingga decitan pintu terdengar, oertanda sang suami telah keluar dari kamar mandi.
"Maasyaa Allah."
"Ada apa, Pak?"
Lelaki itu tak menjawab, justru mendekat dan membuka kain yang telah menutupi penglihatannya sedari tadi. Hingga akhirnya, Arum tertegun sesaat. Gaun brokat kombinasi satin berwarna gold begitu memikat.
"Ya Allah. Pak Zuhan, gamisnya bagus sekali. Arum suka."
"Coba lihat suamimu."
Ia menoleh dan memandang suaminya yang ternyata juga mengenakan kemeja senada dengan gamisnya. "Ternyata, Pak Zuhan bisa romantis juga."
"Nggak usah merayu, Rum. Ini semua nggak gratis."
"Kok gitu? Terus Arum harus bayar pakai apa, Pak? Arum gak punya uang."
"Nanti malam, temani aku."
"Kemana?"
Zuhan mendekat dan berbisik, "kita kencan."
Kalimat itu membuat Arum tersipu. Meski begitu, ia begitu bahagia dengan segala kasih sayang yang diberikan Zuhan. Tanpa aba-aba, Arum berhambur ke pelukan sang suami, menumpahkan segala rasa suka cita. Sedang Zuhan merasakan tenang, melihat sang istri kembali tersenyum riang.
"Nggak boleh lagi ada tangisan. Cukup senyuman dan kebahagiaan. Arum mau berjanji?"
"Insyaa Allah, Pak. Asal masih bersama Pak Zuhan."
"Itu pasti, sayang."
💕💕💕
Mohon maaf, khusus besok, sy gak bisa post karena ada acara yang tidak bisa ditinggal. Love u ❤❤
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar