Tulang Rusuk Part 28
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 28 : Hanya Satu Khadijah
Semburat jingga begitu indah, menghias langit yang sebentar lagi berubah temaram. Seolah ada pesan yang tersampaikan pada seisi alam, bahwa roda kehidupan tetap berputar. Semua tentang gelap dan terang, layaknya siang dan malam. Seperti hidup sesungguhnya, semua tentang kesedihan dan kebahagiaan.
Bergamis hijau dengan hijab senada, Arum duduk termenung di teras rumah. Segelas susu cokelat yang ia buat sama sekali tak tersentuh hingga hangat beralih ke suhu dingin, pun rasa manis mungkin telah berubah tawar. Seperti hatinya, kian hari kian hambar meski berkali-kali ia berusaha tegar.
"Rum ..."
Tepukan halus di pundak kanannya tak membuatnya langsung menoleh. Justru air mata yang menetes begitu saja. Entah kenapa, setiap slide kehidupan yang telah dialaminya satu bulan ini berputar bergantian. Sakit sekali yang dirasakan. Ia ingat betapa dirinya tertatih menjalani pernikahan yang terasa begitu getir di awal-awal, ia ingat bagaimana bathinnya berperang agar tak tergoda dengan cinta lamanya, hingga kini, dia berhasil jatuh dan terperangkap dalam ketulusan Zuhan.
Sayang, kebahagiaan itu seolah hanya datang untuk mengejeknya, seperti balasan karena terlalu sering menyakiti hati suaminya. Benarkah demikian? Entahlah, yang pasti, baginya, Zulfa menjadi ancaman tersendiri sekarang.
"Ayo, masuk, Rum. Jangan sakiti dirimu," bujuk Zuhan.
Lelaki itu pun masih belum mendapatkan titik terang mengingat istrinya masih belum bisa bercerita.
"Arum pantas mendapatkan semua ini, Pak."
Mendengar itu, Zuhan mengelus balutan hijab sang istri. "Nggak, sayang. Itu semua salah. Jangan bicara seperti itu."
Tak mau terbuai, Arum menepis pelan tangan Zuhan. "Masuklah, Pak. Jangan terlalu menyayangi Arum."
"Kenapa bicara seperti itu?"
Kali ini, ia menoleh hinggan manik keduanya saling tatap. "Arum harus terbiasa, Pak."
"Apa maksudmu, Rum?"
"Karena suatu saat, cinta Pak Zuhan juga harus diberikan pada Mbak Zulfa."
Ah, ia tak tahan dan kembali menangis. Sungguh, ia pun benar-benar tak mau jika harus berbagi. Namun, hidupnya sedang di ujung tanduk sekarang. Pun Arum tak ingin hubungannya dengan sang kakak sepupu menjadi renggang.
"Astaghfirullah, Arum ... apa yang sebenarnya terjadi? Apa tadi kamu bertemu Zulfa?"
Arum menoleh, menatap sang suami. Tanpa sungkan, ia memegang erat jemari Zuhan serta menempelkan keningnya tepat di kening Zuhan. Perempuan itu semakin terisak, tak kuat untuk berucap.
"Arum takut, Pak. Arum sangat takut. Mbak Zulfa ..."
Paham arah pembicaraan, gegas Zuhan merengkuh Arum, mencoba menangkan.
"Semua itu tidak akan terjadi. Tenanglah."
Malam menyapa, ditemani sang Abah, Zuhan duduk di shofa sembari memandangi layar kaca. Totonan sepak bola favoritnya tak mampu menenangkan hatinya meski sedari tadi pandangannya lurus ke depan. Hanya ada satu nama yang setia bergelayut di pikiran, Arumi Khadijah.
Ah, ia bingung harus membujuk dengan cara apa. Ia tak tahu harus bagaimana lagi menghilangkan kegundahan istrinya. Rasanya, semua sudah dilakukan, hanya saja, jejak kesakitan masih membekas di dada perempuan yang teramat dicintainya.
"Istrimu kenapa, Han? Kenapa tadi nggak ikut makan?" tanya Abah membuyarkan lamunannya.
"Lagi kurang enak badan, Bah."
"Besok, periksakan saja, Han. Kasihan, sepertinya, Arum terlalu capek."
'Njenengan benar, Bah. Istriku sudah terlalu lelah bathinnya dan itu gara-gara Zuhan.'
Zuhan terlalu hanyut dalam segala pemikiran dan kekalutan hingga tak menyahuti semua perkataan Abah.
"Han?"
"Eh, i-iya, Bah. Zuhan ke kamar dulu."
Berdiri di ambang pintu, lutut Zuhan terasa lemas. Ia seakan takut bahkan tak kuat melangkah, menyaksikan Arum meringkuk dengan air mata. Segala pelik cerita yang terjadi di kampus sore tadi benar-benar mendera dadanya sekarang. Pantas saja, Arum terus menangis dan tertekan, begitulah bathinnya.
Kini, ia melangkah, mendekati Arum yang setia tidur menyamping. Ditutuplah tubuh sang istri dengan selimut tebal, berharap wanitanya tertidur nyenyak dan kembali ceria menghadapi hari esok. Sedang Zuhan merebahkan badan, menatap jarum jam yang masih diam di angka sembilan. Sejenak, ia kembali menyamping menghadap Arum, membelai lembut kepala dan rambut wanginya.
"Rum, hatiku ikut sakit setiap kali melihatmu menangis."
"Arum baik-baik saja, Pak. Tidurlah."
Zuhan tersentak seketika mendengar Arum yang menyahuti pembicaraannya. Rupanya, perempuan itu masih terjaga sedari tadi. Sedang Arum masih setia menahan sesak meski berusaha memajamkan mata. Mustahil jika dirinya bisa begitu lelap tertidur di saat permasalahan menggerogoti kehidupan rumah tangganya.
"Belum tidur, Rum?"
Arum hanya menggeleng tanpa membalikkan badan, membuat Zuhan semakin kelimpungan.
"Mau makan?"
Lagi, hanya gelengan yang perempuan itu berikan. Tak ada kata ya ataupun tidak.
"Ya, sudah, sepertinya, aku harus memberimu ruang untuk istirahat, Rum. Selamat tidur, sayang."
Zuhan mengec*p pucuk kepala sang istri dan gegas beranjak. Namun, dengan sigap Arum mencekal pergelangan tangan Zuhan, berharap bahwa pria itu tetap di dekatnya.
"Jangan pergi, Pak. Tetaplah di sisi Arum."
Kali ini, Arum berbicara, berbaring dan memandang suaminya begitu sendu. Tersirat bergumpal-gumpal rasa lara dalam binar matanya, membuat Zuhan hampir menitikkan air mata. Hingga hatinya semakin tersayat saat isakan-isakan Arum kembali menguar memenuhi ruangan. Siapa yang bisa tenang jika orang yang dicintai terus menanggung beban dan lara? Kini, Zuhan ikut kembali merebahkan badan, menyamping ke kanan, memandangi perempuan istimewanya.
"Jangan menangis lagi, Rum. Apa kamu tidak bosan?" Zuhan menghapus air mata sang istri meski genangan itu masih saja keluar.
"Pak, Arum sudah berpikir keras sejak tadi," ucap Arum begitu lirih, dengan tatapan yang begitu sayu. Ah, mata itu sangat sembab memgingat ia menghabiskan banyak waktu untuk menangis.
"Memikirkan apa?"
"Berpikir bagaimana caranya agar ikhlas jika suatu saat Arum harus berbagi atau melepas njenengan."
Zuhan merengkuh paksa tubuh Arum, bersamaan dengan tangisan yang lagi-lagi keluar dari bibir Arum.
"Jangan lanjutkan, Rum. Aku tidak suka mendengar kalimat itu."
Sejenak, perempuan itu mengusap pelan area pipinya. Ia berusaha bersikap tenang sembari menatap Zuhan.
"Pak, Arum memang belum sepenuhnya mencintai Pak Zuhan, tapi Arum tak rela jika harus kehilangan Pak Zuhan."
"Kita akan tetap bersama," jawab Zuhan sambil memegang erat pundak Arum.
"Tapi, Arum harus siap, Pak."
"Cukup, Arum, cukup. Membicarakan ini hanya membuatmu sakit hati. Wallahi, aku ikut sakit melihatmu terus menangis."
Kalimat itu begitu melegakan bagi Arum. Ia kembali hanyut dalam cinta lelaki halalnya. Setiap hari perlakuan lembut didapat, tanpa cacian, bentakan, atau sekadar teriakan. Inilah sebabnya dirinya begitu takut jika suatu saat kebahagiaan itu harus terbelah begitu saja. Apalagi si jurang pemisah adalah Zulfa, perempuan yang menyayanginya sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.
"Dengar, dalam hidup Zuhan, hanya ada dua wanita yang begitu berharga. Kamu tahu siapa? Yang pertama adalah umiku, dan yang kedua adalah istriku, Arumi Khadijah."
Arum mengangguk dan membenamkan wajah ke tubuh sang suami. Ia hirup dalam-dalam aroma khas Zuhan, berharap segera mendapatkan kedamaian. Ah, ia semakin tak rela membayangkan jika ada wanita lain yang merasakan pel*kan hangat itu.
"Pak, Arum takut jika nanti ada perempuan lain yang njenengan dekap dengan kasih sayang seperti ini. Bahu ini sandaran Arum, Pak. Apa akan kuat jika harus menyangga dua beban?"
"Aku berjanji, tidak akan ada Khadijah Khadijah lain yang bisa menggeser posisimu, sayang. Aku sangat mencintaimu." Zuhan mengucapkannya begitu tulus membuat Arum kembali meneteskan air mata.
"Satu lagi, kamu bukan beban, tetapi anugerah yang telah Allah kirimkan."
💕💕💕
Sekalipun dilakukan dengan baik-baik, perpisahan tetaplah hal yang paling menyakitkan ðŸ˜ðŸ˜
Kehilangan itu perih, tetapi berbagi cinta itu jauh lebih pedih dan menyayat hati 😢😢
💕💕💕
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar