Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 26

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 26 : Saling Terbuka

Siang ini, matahari begitu gagah memantulkan cahaya. Panas menusuk hingga ke tulang, membuat siapapun enggan beranjak. Seperti Arum dan Zuhan, keduanya asyik menikmati makanan dan minuman segar, melepas penat sejenak. Sesekali, dua sejoli itu berbicara segala hal, meski terkadang hanya Arumlah yang menuturkan cerita sedang Zuhan setia mendengarkan. Agaknya, kedekatan di antara mereka semakin kuat. 

"Mau langsung pulang atau ikut balik ke kampus, Rum?" tanya Zuhan sembari menyeruput sisa jus Alpukat.

"Pak Zuhan mau balik lagi?"

"Iya, Rum. Ada bimbingan. Ini hari pertama. Kamu kapan mulai bimbingan?"

Mendengar itu, Arum menatapnya lesu. Sesungguhnya, ia sendiri pun ingin pulang, tapi rasa kasihan pada sang suami hinggap begitu saja.

"Insyaa Allah, besok, Pak. Pengennya pulang, Pak, tapi, kasihan Pak Zuhan kalau harus bolak-balik."

"Nggak apa-apa, demi kamu."

"Ternyata, Pak Zuhan sudah semakin pandai menggoda," ucapnya menunduk malu.

Ucapan Arum membuat Zuhan tersenyum manis sembari mengusap kepalanya pelan dan beranjak menuju kasir. Sementara Arum kembali mendongak, menatap sang suami yang sibuk membayar. Tetiba bayangan-bayangan dirinya dan Zuhan diterjang badai kembali terulang. Ada rasa nyeri mengingat ia ssring menyakiti pria yang begitu tulus mencintai dan menyayanginya.

"Arum yakin suatu saat hanya akan ada nama njenengan di hati Arum, Pak," ucapnya begitu lirih dengan mengembun.

Mendapati Zuhan berbalik dan berjalan ke arahnya, gegas tangannya mengusap air di sudut mata. Ia tak mau lagi ada tangisan, cukup kebahagiaan. Ah, entahlah, ia pun tak tahu skenario seperti apa lagi yanh Allah persiapkan. Yang pasti, perempuan itu bertekat untuk terus berjalan searah bersama sang suami.

"Ayo, pulang," ajak Zuhan yang ia balas dengan anggukan.

Kini, tiba di halaman luas yang penuh dengan warna-warnu bunga, Arum berjalan berdampingan dengan Zuhan sembari membawa tas hitam milik pria itu. Sesekali, keduanya bercanda di hingga tiba di depan pintu. Rupanya, Arum mulai terbiasa bicara panjang lebar tanpa rasa sungkan, pun ia memang sudah berjanji menerima lelakinya sebagai sandaran saat suka maupun duka.

"Bimbingannya di mana, Pak? Siapa saja mahasiswanya?"

"Kenapa hari ini kamu cerewet sekali?" Zuhan balik bertanya sembari mengacak pelan kerudung Arum.

"Pengen tahu, Pak. Mahasiswinya cantik-cantik atau nggak?"

"Cemburu?"

Ucapan Zuhan sukses membuat Arum mendelik. Refleks, ia pun meninju bahu sang suami hingga meringis. Candaan sederhana, tetapi berhasil menumbuhkan rasa bahagia dalam jiwa. Kenyataannya, bahagia bukanlah hal yang selalu bisa disejajarkan dengan harta benda. Cukup tertawa bersama orang yang dicinta pun jauh lebih menyejukkan relung jiwa.

***

Jam delapan malam, Arum dan keluarga asyik menikmati makanan. Tampak kedua lelaki di hadapannya begitu lahap menyantap tiap hidangan yang disajikan. Ah, Ia begitu handal dalam hal memasak. Entahlah, setiap kali tangannya bertempur dengan bumbu dapur pasti akan menciptakan sajian lezat. Selama makan, sesekali, ia melirik sang suami yang juga curi-curi pandang padanya.

"Gimana hari pertama kuliah, Rum?" tanya Abah Umar usai makan.

"Alhamdulillah, lancar, Bah."

"Alhamdulillah, semoga berkah, Nak. Yang paling penting, kamu masih bisa memposisikan diri. Ingat, ada suami yang harus kamu urus."

Ah, benar sekali perkataan pria yang disebut sebagai Abah itu. Bagaimanapun, ada tanggung jawab yang tak bisa Arum lepas meski dirinya sedang berjuang meraih gelar sarjana. Tak apa, itu pun ladang pahala, begitulah ungkapnya menyemangati diri.

"Nggih, Bah. Insyaa Allah, Arum akan mengurus Pak Zuhan dengan baik," jawab Arum sambil mengelus tangan Zuhan, sedang sang suami menatapnya. Ada rasa hangat yang menyusup dalam jiwa keduanya.

Usai makan, Arum memainkan ponsel di atas ranjang, menulusiri dunia maya. Sesekali, ia menyentuh kalung indah pemberian Zuhan siang tadi. Mengingat itu, hatinya terenyuh, menyadari betapa Zuhan tak main-main demi mendapatkan cintanya.

"Assalamualaikum, zaujaty."

Seketika Arum tersenyum sungkan saat bisikan halus menyapu telinga kanannya. Ia menoleh dan mendapati Zuhan telah duduk di sebelahnya dengan kekehan ringan.

"Ya Allah, Pak Zuhan ... Bikin Arum kaget aja."

"Dijawab dulu, Rum."

"Waalaikumsalam," jawabnya sembari mengembalikan ponsel di dalam laci.

"Kurang."

Mendengar penuturan Zuhan, Arum mengangguk paham. "Waalaikumsalam warahmatullah wabarakaatuh."

"Masih ada yang kurang, Rum."

Ah, Arum semakin bingung sekarang. Ia menyipitkan mata, berisyarat bahwa ia tak tahu jawaban apa lagi yang kurang. Ia terus menerka, tetapi tetap tak tahu maksud suaminya.

"Apa sih, Pak? Arum bingung. Jawaban salam memang seperti itu, kan?"

"Tetep ada yang kurang, sayang."

Ucap Zuhan sembari berbaring, sedang Arum sedikit salah tingkah mendengar satu kata terakhir yang suaminya ucapkan. Sebatas kata, tetapi begitu menyejukkan baginya. Setelahnya, ia menata bantal, ikut berbaring dan menghadap Zuhan. Sungguh, ia masih bingung apa yang salah dan kurang dengan jawabannya.

"Pak ... kasih tau Arum. Apa yang kurang?"

Zuhan tersenyum, pun berbalik hingga keduanya saling berhadapan. "Tadi aku salamnya gimana?"

Arum terdiam, mengingat bagaimana suaminya mengucap salam. Ah, ia tahu sskarang.

"Assalamualaikum, zaujaty. Betul kan, Pak?"

"Jadi, apa yang kurang?"

Tetiba ia tersipu malu, menyadari kata apa yang dimaksud Zuhan. Perempuan itu hanya mengedikkan bahu seolah ia benar-benar tidak tahu. Ia pun berbalik memunggungi sang suami dan menutup seluruh tubuh dengan selimut tebal.

Sedang Zuhan masih setia dengan sikap jahilnya. Lelaki itu justru menyibak selimut istrinya hingga terlihat rambut yang tergerai indah.

"Kamu pura-pura kan, Rum?"

Bisikan itu membuat bulu kuduk Arum kembali meremang. Sungguh, ia ingin sekali berteriak bahwa ada yang bergerak tidak beraturan di dadanya sekarang. Tak tahan, perempuan itu berbalik dan membanamkan wajah pada tubuh tegap Zuhan.

"Zaujy," ucap Arum sangat pelan membuat Zuhan tersenyum penuh kemenangan. Ah, sungguh menggemaskan.

Sejenak, mata Zuhan mengembun, bersyukur betapa sang istri mau berusaha membuka hati untuknya. Tak banyak wanita setegar Arum, begitulah bathinnya. Ia ingat betul bagaimana sang istri menahan pedih saat menjadi pelampiasan Zulfa, pun tertekan saat hidup bersamanya mengingat nama Syafiq masih menempati posisi nomor satu kala itu. Sekarang? Entahlah, seperti kata Arum, Zuhan hampir mampu menggeser sang adik.

"Tahu nggak, Rum, apa yang aku suka darimu?"


Perkataan Zuhan membuat Arum mendongak, menatap manik hitam suaminya. "Apa, Pak?"

"Senyummu."

Entah kenapa, Arum justru ingin menangis melihat tatapan sang suami yang begitu memancarkan cinta. Bukan bersedih, ia hanya ikut merasakan sakit betapa pria di depannya terseok demi mendapatkan balasan cinta. Sesaat, Arum kembali tersenyum sembari memegang tangan Zuhan.

"Apa senyuman Arum begitu berarti, Pak?"

"Senyumanmu sangat manis. Tolong jangan pernah hilangkan senyuman ini. Dengan melihat senyummu, aku merasa lega karena di saat itu kamu pasti sedang bahagia, bukan pura-pura bahagia."

"Insyaa Allah, tidak, Pak. Arum sangat bahagia sekarang. Njenengan tahu, Pak? Dulu, Arum benar-benar marah dan ingin sekali membenci njenengan. Sayangnya, Arum gagal," ucapnya lirih sambil memainkan jari-jemari sang suami.

Sedang Zuhan masih diam, memberi ruang sang istri untuk terus berbicara. Ada rasa lega tersendiri saat Arum mulai terbuka perihal segala perasaannya.

"Pak Zuhan begitu tulus sampai Arum tak mampu berulah lagi," lanjut Arum.

Setelahnya, perempuan itu mengangkat tangan Zuhan, menaruhnya tepat di dadanya yang terbalut piama merah muda bermotif bunga.

"Bisa merasakan detakannya, Pak?" tanyanya yang dibalas anggukan oleh Zuhan.

"Meskipun masih sedikit, sepertinya, sudah ada rasa cinta di sini, dan tentunya yang berhak menerima hanya njengan, suamiku."

Penuturan Arum sukses membuat Zuhan tak bisa berkata apa-apa selain menitikkan air mata. Menyadari itu, Arum mengusap cairan bening yang membasahi pipi sang suami meski dirinya pun ikut menangis.

"Jangan menangis, Pak. Pak Zuhan berhak bahagia bersama Arum."

Tak tahan, Zuhan segera merengkuh sang istri, menumpahkan segala rasa bahagia.

"Trimakasih, Rum. Hari ini, kamu benar-benar berhasil membuatku kembali bangkit. Aku mencintaimu, sangat."

"Insyaa Allah, Arum juga akan segera mencintai njenengan. Arum tidak ingin kehilangan Pak Zuhan."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42