Tulang Rusuk Part 25
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 25 : Surprise
Bukan hal mudah untuk menemukan cinta. Ada perjalanan panjang untuk mendapatkan, pun menjaga agar terus membara. Bukankah itu benar? Tentu saja, perihal rasa ini tak melulu tentang sesuatu yang indah. Cinta membuat insa harus melalui liku perjalanan dan perjuangan, entah itu naik atau turun. Yang pasti, kesenangan dan kesedihan akan datang bergantian. Tinggal bagaimana sang pemilik bertahan.
Pagi menyapa, menemani Arumi Khadijah memoles wajah. Perempuan itu sungguh menawan meski sekadar menaburkan bedak tipis, tanpa alat make up lainnya. Sedikit olesan lip cream pada bibir menambah keayuannya. Balutan hijab berwarna gold dan gamis maroon begitu pas untuk tubuh tinggi jenjangnya. Duduk di depan lemari berkaca lebar, ia membentuk lengkungan indah pada bibir sembari melirik sang suami yang sibuk menata lembaran-lembaran kertas.
"Nggak usah lirik-lirik, Rum. Sini, bantu."
Mendengar titah sang suami, Arum terkekeh dan segera mendekat. Ia mulai merapikan semua berkas perkuliahan dan memasukkannya ke dalam tas milik Zuhan. Setelahnya, ia duduk berdampingan dengan lelakinya hendak bercengkrama, menikmati waktu yang hanya tinggal satu jam sebelum berangkat ke universitas.
"Pak, Arum kok deg-deg an gini ya mau masuk kuliah," ujarnya sambil memainkan jemari tangannya.
"Memangnya kenapa, Rum? Kayak mahasiswa baru aja."
"Kan, sudah lama libur, Pak. Apalagi masuk cuma buat bimbingan, matkul tinggal dua saja."
Sedang Zuhan menatapnya dengan senyuman manis, memasukkan anak rambut yang sempat terlihat di sekitar keningnya.
"Nggak apa-apa. Insyaa Allah, aku siap membimbingmu."
Arum beringsut mendekat, mengapit lengan Zuhan dan menyenderkan kepala pada bahu suaminya.
"Arum beruntung diperistri pria berilmu seperti njenengan, Pak."
Kedamaian semakin terasa saat Zuhan membalas perlakuan sang istri dengan menci*m pucuk kepalanya.
"Aku jauh lebih beruntung bisa memiliki istri setegar dirimu, Rum."
Perasaan tenang mulai singgah dalam hidup keduanya. Ya, setidaknya, setelah berhari-hari harus berperang bathin, kini, hubungan mulai membaik, terlebih hanya ada Arum dan Zuhan tanpa embel-embel orang ketiga.
Ditemani sejuknya udara pagi, Arum berbicara panjang lebar dalam boncengan sang suami menuju perguruan tinggi. Sesekali, ia tertawa lebar menceritakan kekonyolan-kekonyolan yang pernah dilakukan bersama teman-teman seangkatannya. Hingga tiba di depan bangunan besar, tak ada rasa canggung dan malu. Keduanya masuk, berjalan beriringan, meski tanpa bergandengan tangan. Menghormati yang lain, begitulah kata Arum dan Zuhan.
"Maasyaa Allah, pengantin baru. Bahagia, neng?" goda teman saat Arum tengah duduk di bangku kelasnya.
"Alhamdulillah, Arum sangat bahagia."
"Beruntung banget sih, kamu, Rum."
"Skenario Allah sangat indah. Arum sangat bersyukur sekarang."
Dua jam berlalu, pembelajaran yang kebetulan hanya satu mata kuliah hari ini membuat Arum bernapas lega. Bagaimana tidak? Jam masih menunjukkan angka sepuluh, sedang dirinya bisa beristirahat meski harus ditemani sisa-sisa tugas yang sempat mangkrak.
"Ke kantin yuk, Rum!" ajak temannya yang bernama Alya.
"Nggak ah, Al. Nanti saja."
Anggukan di dapat dari temannya membuat Arum kembali bergerak bebas membaca beberapa tugasnya. Sesaat, ia menyenderkan badan di kursi, menghirup napas dalam dan mengeluarkannya perlahan. Tetiba dirinya ingat akan sosok Zuhan. Senyumnya mengembang meski tipis.
"Pak Zuhan lagi apa, ya? Sudah makan, belum?" monolognya sembari memainkan bolpoint.
Ting
Notif pesan membuyarkan lamunannya. Gegas ia mengambil ponsel yang tergeletak di meja. Ia membuka pesan dan mendapati nama Pak Zuhan tertera begitu jelas. Ah, ia tersenyum sekarang.
[Rum, ke ruanganku, gih!]
Isi pesan Zuhan membuat bibirnya kembali melengkung indah. Sejenak, ia bingung harus menjawab karena tidak mungkin juga berduaan dalam ruangan, pun pasti banyak dosen lain di dalam.
[Ada apa, Pak? Arum malu kalau di lihat dosen lain.]
[Dosen² sedang makan di luar. Cepet ke sini.]
Kali ini, ia tak mampu menahan. Ia terkekeh dan segera membalas bahwa dirinya menyetujui permintaan sang suami.
[Siap, Pak. Arum bereskan tugas dulu.]
Tangannya begitu lihai merapikan lembaran kertas yang sedikit berserakan. Setelahnya, ia berjalan cepat menuju ruangan dosen. Napasnya berhembus lega saat tiba di depan ruangan, menyadari tak ada dosen lain selain suaminya.
"Assalamualaikum, Pak."
Ia berdiri, mengamati Zuhan yang sedang berkomunikasi dengan seseorang melalui ponsel. Sejenak, sang suami memandangnya dengan senyuman manis dan menenangkan.
"Waalaikumsalam. Rum, aku sedang teleponan sama adikku."
Satu kalimat itu mampu membuat tubuhnya kembali beku, lengkungan indah di bibir seketika musnah, bahkan langkahnya mundur sejengkal ke belakang.
"Lanjutkan dulu, Pak. Arum keluar dulu."
"Rum, kemarilah," titah sang suami membuatnya menggelengkan kepala lemah.
"Ngomonglah sebentar, Rum."
"Maaf, Pak. Arum nggak bisa."
Rupanya, ia tetap kukuh dengan pendiriannya hingga membuat Zuhan berdiri dan membujuknya. Ia tak kuasa menolak saat wajah sang suami begitu memelas.
"Sebentar saja, Rum. Setidaknya, adikku akan merasa dihargai sebagai seorang teman."
Kali ini, ia pasrah, pun perkataan Zuhan benar adanya. Bukankah ia sudah berjanji untuk tetap menjalin komunikasi dalam batas wajar? Ia pun duduk di tangan kursi yang diduduki Zuhan.
"Assalamualaikum, Mas Syafiq apa kabar?" Rupanya, Arum mampu berujar dengan santai meski hatinya sedikit nyeri.
"Waalaikumsalam. Baik, Rum. Kamu?"
"Alhamdulillah, Arumi juga baik."
Tak ada lagi obrolan. Arum diam, pun dengan Syafiq. Hingga ia memutuskan untuk mengembalikan ponsel pada Zuhan, mengkode bahwa ia sudah tidak ingin berbicara. Kali ini, Arum hanya duduk mematung mendengarkan obrolan sang suami dengan adik ipar yang terdengar asyik. Namun, entah kenapa, embun kembali mengintip di sudut mata. Hingga Zuhan menyadari itu, gegas ia mengusapnya. Sayang, setetes air mata masih lolos membasahi pipinya.
"Rum ..." Rupanya, Zuhan mematikan ponsel dan menatapnya lekat.
Arum tak tahan dan memukuli dada bidang snag suami. "Njenengan jahat, Pak."
"Maaf, Rum. Aku cuma ingin kamu terbiasa dengan keadaan, itu saja."
"Cara itu hanya akan membuat hati Arum kembali sakit, Pak. Arum ..."
Ia tak mampu melanjutkan kata saat terasa rengkuhan Zuhan. Gegas ia menyenderkan kepala pada dada suaminya, menumpahkan segala kekecewaan.
"Sudah, sudah. Berhentilah menangis. Maafkan aku," tenang Zuhan sembari mengusap pundak Arum.
Hening, hanya isakan Arum yang terdengar sedang Zuhan tetap membiarkan agar ada rasa lega pada hati sang istri. Hingga beberapa menit, agaknya, perempuan itu mulai tenang. Terlihat dari pipi juga mata yang sudah mulai mengering, tak lagi basah seperti sebelumnya.
"Sudah lega, hmm?" tanya Zuhan sembari membenarkan kerudung sang istri yang sedikit berantakan. Ah, manis sekali.
Kali ini, jiwa Arum kembali mengahangat. Inilah yang diharapkan sedari tadi. Perhatian juga perlakuan manis dari sang suami. Ia pun mengangguk mantap.
"Terus, kenapa Pak Zuhan nyuruh Arum ke sini?"
Zuhan terdiam, membuat Arum semakin bingung. Setelahnya, lelaki itu mengambil sesuatu yang tersimpan di rak kecil miliknya. Sementara Arum hanya menopang dagu, menunggu apa yang akan dilakukan suaminya.
"Happy first month anniversary, my wife," ungkap Zuhan sembari membawa kue kecil berbentuk hati.
Seketika Arum membekap mulut, pun merasakan matanya yang kembali berembun. Ah, ia sungguh lihai dalam hal menangis, entah karena sedih ataupun bahagia. Namun, kali ini, perempuan itu begitu bahagia hingga menyergap tubuh Zuhan dengan p*lukan begitu erat.
"Ya Allah, Pak Zuhan ... Maafkan Arum. Arum nggak mikir sampai situ."
"Nggak apa-apa. Seneng nggak diberi surprise sederhana seperti ini?"
Arum menegakkan tubuh, menatap suaminya begitu dalam. "Nggak ada alasan untuk tidak bahagia hari ini, Pak. Kata senang saja tidak cukup."
Diam-diam, Zuhan pun merasakan netranya begitu panas dan mengabur. Lelaki itu sungguh terharu akan penuturan tulus sang istri.
"Ini semua demi merebut cintamu, Rum."
"Lakukan terus, Pak. Arum akan menerima dengan sepenuh hati."
Keduanya saling tatap, menyiratkan betapa jiwanya sama-sama tenang dan hangat. Sejenak, Zuhan berdehem, membuat Arum tersenyum sungkan dan menoleh ke sembarang arah. Ah, ia malu. Sementara Zuhan kembali bergerak, mengambil sesuatu di dalam tas hitamnya.
"Rum, merem, gih," titah Zuhan.
Arum tak membantah. Ia pun memejamkan mata. Hingga terasa tangan Zuhan menyibak kerudungnya, terasa benda dingin menempel di area lehernya. Ah, lagi-lagi, ia tersenyum sembari menerka apa itu.
"Buka mata, Rum."
Sejenak, Arum tak mampu berkedip. Entahlah, ribuan kata tak mampu mewakili kebahagiaannya hari ini. Ia memegang tangan Zuhan sembari memandangnya penuh haru.
"Pak ... Arum sudah nggak bisa berkata apa-apa lagi."
"Hadiah ini nggak seberapa, Rum."
Zuhan berhenti sejenak. Setelahnya, tangan kekar itu menyentuh kalung indah di leher Arum.
"Percayalah, ada cinta yang tak ternilai harganya di sini."
Memang benar, dibanding kalung berlian, cinta jauh lebih berharga. Tak ada timbangan yang mampu menakar seberapa berat rasa itu. Namun, cinta bukan sesederhana yang kita kira, bukan sebatas pencarian dan penemuan. Tabiat rasa itu tidaklah diam. Maka, cinta pun terus bergerak, akan bertahan atau justru berantakan. Semua tentang bagaimana insan menjaga cinta yang telah ditemukan, merawat hingga terus tumbuh bermekaran, bukan berserakan.
"Pak ..."
"Hmm?"
"Selamat. Njenengan hampir mencapai garis finish. Teruslah berjuang, Pak."
"Maksudnya?"
"Arum mulai menyayangi Pak Zuhan."
Sekali lagi, Zuhan terlalu bahagia mendengar pengakuan Khadijahnya. Ia mengucap syukur berulang-ulang sembari mengec*p kening istrinya.
"Alhamdulillah. Perjuanganku tidak sia-sia, Rum."
"Tidak, Pak. Insyaa Allah, cinta ini akan segera tumbuh subur. Tetaplah rangkul Arum seumur hidup, Pak."
💕💕💕
Yuhuu .. hari Ini Arum dan Zuhan sedang bahagia.. bagaimana dengan hari esok?? Love u ❤❤
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar