Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 24

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 24 : Antara Cinta dan Logika

[WARNING : Part cukup panjang]

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

Ini tentang perasaan dan cinta, bukan sekadar logika mana yang benar dan salah. Apa benar cinta itu sebuah pilihan? Sementara kenyataannya, cinta seringkali tak memberi ruang untuk memilih. Jika diibaratkan, cinta itu bilangan telak, hasilnya mutlak dan tak berubah. Ya, ada kalanya manusia saling mencintai, tak dicintai, bahkan salah mencintai. Hingga manusia berpasrah pada Sang Kuasa yang telah menuliskan garis takdir cinta setiap insan.

Seperti Arumi Khadijah, setiap malam menyebut Syafiq Albana dalam doa, tetapi Arshad Zuhan yang menjadi imamnya. Lantas, haruskah dia berontak, merubah pilihan, dan mengingkari pasangan yang dikirim Tuhan? Tak ada pilihan terbaik selain menerima sosok yang telah tertulis di lauhul mahfudz untuknya.

Malam tiba, gemerlap bintang memenuhi hamparan langit Yogyakarta. Angin berhembus mesra, menemani dua insan bertukar kisah. Sesekali, hijab maroon yang membalut kepala sang wanita berayun pelan akibat sapuan angin malam, sedang sang pria setia menggenggam erat jari-jemari istrinya.

"Rum, kita mau langsung pulang atau nginep?" tanya Zuhan pads Arum.

Arum yang sedang menikmati jagung bakar pun mengernyit heran. "Nginep di mana, Pak?"

"Ya, di hotel, Arumi," jawab Zuhan sembari mencubit hidung istrinya.

"Haduuh ... santai, Pak. Iya, Arum manut njenengan." Bibirnya yang mengerucut membuat sang suami tertawa lepas.

Ya, usai mengantar Syafiq ke kost yang tak jauh dari universitas, Arum dan Zuhan singgah sebentar menikmati jagung bakar manis. Rencana pulang harus tertunda karena memang memakan waktu cukup lama, pun perjalanan malam hanya menciptakan kantuk dan lelah. Hingga keduanya memutuskan untuk menginap di hotel terdekat sembari menikmati liburan meski semalam.

"Jalan-jalan sebentar, yuk!" ajak Zuhan setelah sampai di kamar hotel.

"Iya, Pak."

Jam memang masih menunjukkan angka tujuh, itulah sebabnya mengitari indahnya malam di kota pelajar adalah keputusan tepat. Ditemani hembusan angin, Arum dan Zuhan berjalan beriringan. Gemerlap lampu jalanan menambah kesan romantis.

"Zuhan, ngapain di sini?"

Tetiba seorang pria dan wanita dengan bayi di gendongan datang mendekat, menyapa Zuhan. Mungkin, mereka pasangan suami istri, begitulah batin Arum. Ah, konyol sekali pemikirannya. Jelas saja ya, dilihat dari caranya berjalan dan bercengkrama, pun seorang anak yang membersamai keduanya.

"Oh, ini ..." Zuhan menggantungkan kalimatnya.

"Honey moon, pasti. Semoga cepet dapat momongan, ya," potong teman Zuhan membuat Arum menunduk malu.

"Aamiin," jawab Zuhan sembari menyenggol lengan sang istri.

Ah, Arum merasakan hawa panas di seluruh tubuh. Ia pun mendongak sungkan. "Aamiin, trimakasih doanya, Mas."

Tetiba wajah ayu bayi yang digendong wanita di depannya membuat Arum gemas. Ia mendekat, menelisik seluruh fisik anak itu. Menggemaskan, begitulah batinnya. Ah, rupanya, istri Zuhan begitu menyukai anak kecil.

"Maasyaa Allah, comel sekali sih, dek," pujinya sembari mengusap pipi lembut si bayi.

"Semoga nular ya, Mbak."

"Amiin. Trimakasih, Mbak."

Bukan hanya di mulut, pun di hati Arum ikut menyemogakan. Entah memang benar-benar siap atau tidak, yang pasti, ia mencintai dunia anak-anak.

***

Ruangan bernuansa putih begitu menyejukkan jiwa. Satu ranjang berukuran king size begitu memanjakan tubuh keduanya. Setelah puas berkeliling kota, Arum dan Zuhan merebahkan badan, menikmati indahnya malam berdua. Bak anak kecil, Arum bersendau gurau sembari menikmati roti cokelat favoritnya.

"Kamu suka anak kecil ya, Rum?" tanya Zuhan sembari majalah.

"Sangat, Pak."

"Artinya ... kamu sudah siap?"

Pertanyaan itu membuat Arum tersedak roti yang sedang dikunyah. Entahlah, kalimat itu terasa mengejutkan baginya.

"Minum, Rum," titah Zuhan terkekeh kecil sambil menyodorkan segelas air yang telah tersedia di atas laci.

"Trimakasih, Pak. Njenengan sih ngomongnya nggak di rem dulu."

"Memangnya ada yang salah tadi?"

"Ya ... ya ... itu, Pak. Arum kan jadi malu."

Kenyataannya, wanita memang seperti itu, mudah sekali merasa canggung dan malu. Seperti Arum, ia hanya mampu menunduk sembari menahan senyum. Rona merah berhasil menyapu pipi halusnya.

"Rum ..."

Panggilan Zuhan membuatnya mendongak kembali, menatap sang suami dengan mata yang begitu sendu. "Iya, Pak?"

Zuhan mencondongkan wajah, menatap lekat perut Arum. Tangan kekar itu mengelus penuh cinta, pun binar matanya menyiratkan harapan besar.

"Seandainya, suatu saat, di sini ada anak kita, kamu siap?"

Mendengar itu, Arum ingin sekali menangis. Bukan tak mau, tetapi setiap perkataan Zuhan begitu mengetuk relung hatinya. Bagaimana mungkin dirinya tak siap sementara itu sudah ketetapan Ilahi untuknya?

"Kenapa bertanya seperti itu, Pak? Insyaa Allah, Arum siap. Bukankah itu amanah yang harus di jaga?" jawab Arum begitu lancar dibarengi dengan debaran di dada.

"Alhamdulillah. Boleh aku mencium perutmu?"

Pertanyaan itu membuat tubuh Arum kembali tegang. Sepertinya, dirinya harus mulai terbiasa dengan semua perlakuan manis Zuhan.

"Rum?"

"Eh, u--untuk apa, Pak? Kan, belum ada dedeknya?" Kali ini, ia membekap mulutnya, merutuki ucapannya yang begitu konyol. Ah, ia sungguh malu sekarang.

"Pernyataan yang bagus," kekeh Zuhan sembari mengacak rambut istrinya pelan. "Rum, aku mau berdoa, mungkin saja bibit yang sudah tertanam di sini tumbuh subur. Dia akan menjadi penguat hubungan kita kelak."

Lagi dan lagi, air mata yang mati-matian tertahan harus keluar juga. Ia begitu tertampar mengingat dirinyalah yang seringkali berulah hingga membuat biduk rumah tangganya hampir goyah.

"Kenapa menangis?"

"Kenapa Pak Zuhan begitu menyayangi Arum?"

Zuhan menyentuh pundak Arum, hingga wajah keduanya saling tatap, hampir tanpa jarak. "Kamu takdirku, Rum. Jangan pernah bertanya seperti itu lagi."

"Maafkan Arum yang sering melukai perasaan njenengan, Pak. Arum berjanji akan terus berusaha mencintai njenengan," balas Arum disertai isakan ringan.

Sementara Zuhan merengkuh tubuh serta mengelus tiap anak rambut sang istri. "Sudah, Rum. Jangan nangis."

Tak ada sahutan, Arum begitu hanyut dengan segala pikiran, serta menikmati belaian sayang dari Zuhan. Kedua rasa itu beradu, membuat perempuan itu tak ingin melepas dekapan sang suami.

"Rum, jadi diizinkan tidak?"

"Lakukan, Pak. Pak Zuhan berhak atas diri Arum. Arum tidak mungkin mendzolimi kodrat."

Kali ini, Arum menyenderkan badan, menyibak selimut hingga menampakkan perutnya yang terbalut gamis biru. Sedang Zuhan bergerak perlahan, hingga hidung dan mulutnya menyentuh perut sang istri.

"Rabbi hablii minas shoolihiin," donnya begitu tulus.

Arum tak mampu berucap apa-apa selain mengeluarkan tangisan, sementara Zuhan menatapnya begitu dalam, pun ikut menahan isakan. Tak tahan, Arum kembali menyenderkan kepala pada dada bidang sang suami, mencari kedamaian.

"Trimakasih sudah mau membuka hati untuk suamimu ini, Rum."

"Trimakasih juga karena telah bersabar menanti cinta Arum, Pak."

Lelah menangis, keduanya bersiap untuk tidur. Malam kian larut hingga tak lagi menyisakan waktu panjang untuk bercengkrama. Ah, kantuk benar-benar menyerang sekarang. Zuhan dengan gemulai menata posisi Arum hingga berbaring dengan baik sedang Arum begitu tenang menerima sikap sang suami.

"Selamat tidur, zaujaty."

***

Pagi ini, langit begitu cerah, seceria wajah dua insan yang telah duduk manis di dalam mobil. Tampak Arum begitu bersemangat mengingat hendak kembali ke istana sederhananya bersama sang suami. Sementara Zuhan sibuk memasang seat belt di perutnya juga istrinya.

"Alhamdulillah, akhirnya kita pulang, Pak."

"Kok seneng banget?"

"Kangen juga masakin Abah di rumah."

Ucapannya dibalas kekehan ringan oleh Zuhan. Setelahnya, ia fokus menatap ke depan sembari mendengarkan musik yang diputar. Sementara Zuhan memeriksa barang di ransel hitam, takut ada beberapa barang yang ketinggalan. Tetiba gerakannya terhenti, tubuhnya beku, membuat Arum yang semula menatapnya ikut mengernyit heran.

"Ada apa, Pak?"

Arum semakin bingung saat lelaki di sampingnya hanya diam. Ia semakin kaget saat tangan lelakinya menyodorkan paper bag. Entahlah, ia menangkap aroma mencekam sekarang.

"Dari Syafiq, Rum. Bukalah!"

Benar saja, dadanya kembali sesak, riuh dengan segala rasa resah dan gelisah. Ia mulai muak dengan segala keadaan. Sungguh, dirinya tak sanggup jika harus terkoyak lagi hatinya.

"A--pa ini? Arum nggak mau, Pak. Kembalikan saja."

"Jangan. Terima saja, Rum. Kita buka sama-sama," bujuk Zuhan begitu lirih.

Arum kalah telak. Ia pun menerimanya dengan tangan bergetar. Jemarinya begitu kesulitan sekadar membuka paper bag. Hingga tas terbuka lebar, menampakkan bingkisan plastik. Ah, ia tahu betul apa itu, seset gamis serta hijab berwarna purple.

Belum selesai keterkejutannya, hatinya kembali luluh lantak melihat secarik kertas yang terselip di dalamnya. Tulisan arab Syafiq Albana mengingatkannya pada masa silam, awal mula perkenalan yang menciptakan rasa cinta.

"A--Arum ... Arum nggak bisa baca surat ini, Pak."

Hatinya begitu sakit mengatakan itu, pun mata semakin panas hingga tetes demi tetes air mata kembali membasahi pipi. Sementara Zuhan pun tak kuat, ia sembunyikan segala kesakitan demi menenangkan kekasihnya.

"Nggak apa-apa, Rum. Kita baca sama-sama."


Arum menatap Zuhan begitu lama. Hingga tiga detik kemudian, ia mengangguk dan mulai membuka lipatan demi lipatan kertas.

❤❤❤

Assalamualaikum, Arumi Khadijah. Maaf, aku lancang menulis surat ini. Langsung saja ya, Rum. Ada gamis dan pashmina sederhana untukmu. Sangat sederhana, kan? Tapi, aku diam-diam menyisihkan uang untuk membeli sesuatu yang menurutku sangat istimewa.

Sebenarnya, ini adalah hadiah saat hendak mengkhitbahmu, tetapi takdir berkata lain. Kita sudah berjanji untuk tetap bisa berteman, bukan? Tolong diterima ya, Rum. Anggap saja sebagai hadiah perpisahan. Ah, ngomong apa aku ini? Ini tanda pertemanan. Bener kan, Rum?

Satu lagi, aku sangat menyayangi kak Zuhan, Rum. Sudah cukup kita menyakitinya. Seperti dia yang mencintaimu, tolong cintai kakakku sepenuh hati. Seperti katamu, kamu berhak bahagia. Masalah hatiku, itu urusanku. Maaf kalau terlalu sulit bagiku untuk melupakanmu, tapi aku berusaha ikhlas melepasmu.

Your dearest friend

Syafiq Albana

❤❤❤

Setiap huruf yang tertulis di atas kertas putih itu begitu menyayat hati. Sungguh, kali ini, tangan Arum gemetar, pun tangisannya begitu lepas. Ia tak kuasa hingga menjatuhkan tubuhnya, membenamkan wajahnya ke paha Zuhan. Perempuan itu menangis sesenggukan, merenungi takdir yang telah digariskan Tuhan.

"Kenapa harus ada tangisan lagi hari ini, Pak? Arum capek, Arum lelah."

Diam-diam, Zuhan ikut menitikkan air mata. Gegas ia menghapusnya sebelum sang istri menyadarinya. Sayang, bibirnya bergetar, hingga tiap suara yang dikeluarkan begitu berat.

"Maafkan aku, Rum. Aku telah menghalangi kebahagiaan kalian berdua."

Mendengar itu, Arum kembali duduk, menatap suaminya lekat. Tangannya terulur, menghapus air mata yang sudah mengintip di sudut indera penglihatan Zuhan.

"Jangan bicara seperti itu lagi, Pak. Pak Zuhan tidak bersalah."

Ah, Arum tak pandai memainkan peran. Ia mencoba menghapus jejak kesedihan Zuhan, tetapi dirinya semakin terisak. Pipinya sudah begitu basah akan air mata.

Melihat luka sang istri begitu dalam, Zuhan merasakan sesak. Ia begitu paham bagaimana posisi Arum. Sakit saat dipojokkan sepupu, pun terluka saat harus berpisah dengan cinta pertamanya.

"Rum, apa kita menyerah saja?"

"Wallahi, Arum tidak akan mengingkari janji Arum, Pak. Jangan menggoyahkan hati Arum. Arum sudah tidak punya siapa-siapa lagi. Cuma njenengan yang berhak bertanggung jawab atas hidup Arum."

Kembali dua insan itu saling mengasihi, pun mengucap janji. Entah sudah berapa kali derai air mata menemani, yang pasti, Arum dan Zuhan sama-sama berdoa agar segera mendapat kebahagiaan haqiqi.

"Maafkan aku, Rum. Kamu hidupku. Aku akan memastikan hatimu kembali utuh bersamaku," janji Zuhan sembari mengusap semua cairan bening di pipi Arum.

πŸ’•πŸ’•πŸ’•

😭😭 Mohon maaf, partnya sedikit mengaduk-aduk perasaan. Sesak sekali rasanya pas nulis suratnya Mas Syafiq 🀧.

Oh ya, saya tidak janji besok bisa post atau tidak, tapi saya akan mengusahakan. Ini adalah hobiku, semoga tulisanku adalah candu untukmu. Love U all πŸ₯ΊπŸ₯Ί


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42