Tulang Rusuk Part 23
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 23 : Menjadi 'Kita'
Kenyataannya, dibanding sendirian, hidup berdua itu lebih baik dan membahagiakan. Namun, berdua tidak hanya sekadar bahwa 'aku dan kamu bersama'. Sejatinya, itu semua tentang bagaimana cara menjadi 'kita' yang mampu menciptakan tawa dan memupuk rasa bahagia sekalipun diterjang ribuan masalah, setia tanpa adanya rahasia juga dusta, saling menerima, juga tetap bersama meski seringkali ditemani air mata.
Bagi Arumi Khadijah, melalui semua itu tidaklah mudah, mengingat kebersamaannya dengan sang suami pernah tergantung di ujung bianglala. Hingga ia ingin menyerah karena hidupnya hanya seperti retorika. Hanya saja, ia masih mampu bertahan dan selalu mengukir senyuman. Itu pun karena sosok Zuhan yang selalu setia memberi ketenangan dan kedamaian.
"Nggak ada alasan untuk tidak mempercayai dan menyayangimu, Rum. Kamu tulang rusukku yang harus kujaga dan kuperlakukan dengan lembut."
Kalimat Zuhan terngiang-ngiang, membuat Arum semakin kelimpungan. Bukan apa-apa, ia hanya merasa berdosa karena sering mengabaikan tulang punggungnya. Jam sepuluh malam, perempuan itu masih terjaga sementara Zuhan keluar kamar entah ke mana. Beruntung, listrik sudah menyala hingga dirinya tak perlu lagi merasa ketakutan.
"Pak Zuhan ke mana, ya? Kok nggak balik-balik. Apa jemput Abah? Tapi, katanya Abah sama temannya."
Ceklek
Ia tersentak saat pintu tiba-tiba terbuka. Sejenak, hatinya begitu lega karena Zuhan telah datang. Lelaki berkaos oblong warna abu itu naik ke ranjang dan menyenderkan badan sedang Arum memandangnya heran.
"Dari mana, Pak? Kok nggak balik-balik ke kamar?"
"Kenapa, Rum? Kangen?"
Bukan menjawab, Arum justru bungkam. Entah rindu atau tidak, yang pasti, ia menanti kehadirannya. Sungguh sulit jika harus selalu menerka segala rasa. Sementara Zuhan terkekeh ringan menyadari istrinya begitu tegang.
"Dari kamar Syafiq, Rum. Meluruskan kesalahpahaman saja."
Mendengar suaminya menyebut nama adiknya, Arum mendadak salah tingkah. Entahlah, menyingkirkan debaran setiap kali berhubungan dengan masa lalunya begitu susah. Namun, sebisa mungkin ia menepis dan menunjukkan bahwa dirinya telah mampu menghapus jejak sosok Syafiq Albana.
"Berarti, masalahnya sudah kelar kan, Pak?" tanyanya berusaha santai.
"Sudah. Aku sangat percaya, adikku tidak sepicik itu. Dia lelaki yang sangat baik. Ekhem, pantas saja, dulu, istriku ini ..."
"Jangan lanjutkan, Pak. Itu masa lalu. Sekarang, Arum milik Pak Zuhan," potong Arum cepat sembari mengapit lengan Zuhan.
Sejenak, Arum merasa sungkan atas tingkahnya. Ia pun meregangkan apitan, tetapi tertahan oleh tangan Zuhan. Tatapan suaminya begitu dalam seolah berkata 'jangan lepaskan.' Keduanya diam, merasakan napasnya yang mulai tak beraturan. Hingga lima detik selanjutnya, deheman keluar dari mulut sang pria, pun Arum menunduk sembari menyelipkan anak rambut ke belakang telinga kirinya.
"M-maaf, Pak."
"Rum ..."
"I-iya, Pak?"
Entahlah, Arum begitu gugup saat Zuhan menatapnya tanpa berkedip. Ia mencoba relax, tetapi begitu sulit. Satu hal yang pasti, ia mampu menebak apa yang hendak dikatakan, pun diinginkan sang suami. Perempuan itu memejamkan mata saat belaian lembut menyapu pipi chubbynya. Namun, perlakuan manis itu hanya berlangsung tiga detik dan membuat dirinya kembali membuka mata.
"A-aku keluar dulu, Rum."
"Jangan, Pak. A-Arum paham," cegah Arum sembari mencekal pergelangan tangan Zuhan.
"Paham apa?"
Arum bingung harus berucap apa. Ia gugup juga malu jika harus mengatakannya. Hingga Zuhan terkekeh melihat perubahan pada wajah istrinya yang begitu merona.
"Kamu yakin, Rum?"
Tanpa ragu, Arum mengangguk, membuat suaminya tersenyum bahagia. Selanjutnya, keduanya melaksanakan dua rakaat sunnah dengan dada berdebar hingga usai. Malam panjang pun terjadi, seluruh isi ruangan menjadi saksi pasangan halal itu memadu kasih, melaksanan ibadah terindah untuk menggapai jannahNya.
***
Pagi menyapa, Arum serta keluarga telah duduk di ruang makan. Sarapan hari ini begitu berbeda dari hari biasanya. Bagaimana tidak? Ada dua hati yang merasakan kedamaian, begitu sejuk jika dipandang. Terlihat dari cara keduanya bertutur kata.
Sekilas, Arum menangkap tatapan Zuhan. Tetiba bayangan semalam muncul, membuatnya semakin menunduk malu. Diam-diam, ia tersenyum tipis sembari menyajikan nasi serta lauk di piring untuk sang suami.
"Makan dulu, Pak. Jangan lihatin Arum terus. Malu," bisiknya pelan saat Syafiq dan Abah Umar fokus makan.
Mendengar bisikan Arum, Zuhan terkekeh hingga membuat Abah dan Syafiq memandangnya heran.
"Kenapa, Han?" tanya Abah Umar bingung.
"Oh, ini, Bah, Zuhan sedang membujuk Arum untuk ikut ke Jogja," kilahnya membuat Arum mendelik seketika.
"Ikut saja, Nduk. Sekalian nanti bisa jalan-jalan setelah ngantar Syafiq."
"Tapi, Bah ..."
"Ikut saja, Rum. Biar nanti pulangnya, Kak Zuhan nggak sendirian," sela Syafiq membuatnya semakin tak mampu berkutik.
"Jangan biasakan panggil nama, Fiq. Dia itu kakak iparmu sekarang."
"Nggih, Bah. Maksud Syafiq, Mbak Arumi. Bagaimana, Mbak?"
Sejenak, Arum melirik Zuhan dan dibalas anggukan olehnya. "Baik, Arum ikut Pak Zuhan."
Waktu terus berjalan hingga tibalah pukul satu siang. Sesuai rencana, Arum, Zuhan, serta Syafiq melakukan perjalanan ke Kota Gudeg. Dalam mobil, Zuhan sering mengajak Arum berbicara, memecah keheningan. Sementara Syafiq merasakan nyeri menyaksikan kebersamaan itu. Bagaimana tidak? Ia duduk di belakang tanpa teman sedang di depannya adalah sepasang kekasih yang setia bertukar kisah. Hingga tampak rumah makan outdoor bernuansa alam, Zuhan menepikan mobil. Menyadari itu, Arum mengernyit bingung, pun dengan Syafiq.
"Kenapa, Pak? Kok ke sini? Memangnya, Mas Syafiq mau kuliah di rumah makan?"
Candaan Arum berhasil membuat Zuhan tertawa lepas. Entahlah, perempuan itu begitu lihai merangkai kata sekarang. Katanya, ia ingin membuktikan bahwa dirinya adalah perempuan yang mampu memegang janji untuk sang suami.
"Kamu ini ada aja bicaranya," balas Zuhan sembari mengusap kepala Arum, membuat Syafiq menoleh ke sembarang arah.
"Ekhem!"
Deheman Syafiq menghentikan candaan Arum dan Zuhan seketika. Ah, mereka lupa berhadapan dengan siapa sekarang. Tetiba suasana berubah canggung. Membuat ketiganya menyelami pikiran masing-masing. Ah, bukankah semua sudah baik-baik saja?
"Emm, kita istirahat dulu, Rum. Nggak apa-apa kan, Fiq?" tanya Zuhan berusaha relax.
"Siap, Kak."
Kini, berteman dengan suasana asri, ketiganya duduk tenang. Sesaat, Zuhan berdiri, menyisakan tanda tanya di hati Arum. Diam-diam, hatinya gelisah, takut jika suaminya beranjak dan membiarkan dirinya duduk berdua dengan Syafiq.
"Aku pesen makanan sebentar. Kalian di sini saja," titah Zuhan dan beranjak begitu saja.
Benar sekali dugaannya. Mendengar itu, secepat kilat, Arum mengejar dan mencekal tangan Zuhan, mencegahnya pergi. "Pak, biar Arum. Njenengan duduk saja."
Bukannya menurut, sang suami justru melepas genggaman tangannya. Setelahnya, lelaki itu mendekat, berbisik sangat lirh. "Kembalilah, Rum. Aku sengaja memberi kalian waktu. Selesaikan urusan kalian dengan baik."
"Tapi, Pak ..."
"Tenang saja, Aku yakin, istriku ini wanita sholihah. Bicaralah, jaga kepercayaanku dengan baik."
Tak ada lagi alasan untuk membantah. Arum pun menghela napas berat dan mengiyakan titah sang suami. Kali ini, Arum duduk sedikit tak tenang, berhadapan dengan orang yang pernah bahkan masih mengisi relung hatinya. Sesaat, ia mengucap istighfar, memohon maaf karena hampir saja zina hati dan pikiran.
"Mas, Arum minta maaf."
Yang diajak bicara hanya diam, membuat Arum semakin bingung harus bagaimana lagi merangkai kata.
"Gara-gara Arum, hubungan kalian hampir renggang," lanjutnya dengan menunduk.
"Aku juga minta maaf, Rum. Tapi, kalau boleh jujur, aku belum bisa melupakanmu."
Kali ini, Syafiq menyahuti, tetapi ucapannya kembali menusuk jantung. Entah kenapa, Arum pun ikut merasakan sakit meski ia mencoba menpis berulang kali. Kenyataanya, semua itu tak mudah dan butuh perjuangan panjang.
"Mas Syafiq berhak bahagia. Lupakan Arum, Mas," balas Arum lirih sembari merasakan sesak di dada.
"Bagaimana denganmu, Rum?"
"Arum ..." ah, ia sungguh tak bisa melanjutkan perkataannya. Ia terdiam cukup lama, pun merasakan matanya yang begitu panas.
"Pak Zuhan begitu tulus mencintai Arum. Beliau berhasil merangkul Arum," ucapnya sembari menoleh ke sembarang arah.
"Jadi ..."
Dada Arum bergemuruh. Kali ini, perempuan itu memberanikan diri untuk duduk tegap, menatap lelaki di depannya dengan penuh percaya diri.
"Arum sangat bahagia bersama Pak Zuhan dan akan bertahan dengannya," ujarnya lantang tanpa terbata sedikitpun.
Ada rasa lega menjalar dalam dada Arumi Khadijah, tetapi tidak untuk Syafiq Albana. Pun perempuan itu memahami pasti itu sangat menyakitkan bagi pria di depannya. Tanpa mereka sadari, Zuhan berdiri tak jauh dari keduanya. Ia menatap haru pada sang istri serta iba saat menyadari sang adik begitu terluka.
"Semoga kamu menemukan pengganti Arumi Khadijah, Fiq. Trimakasih, Rum. Aku berjanji akan menghapus seluruh kesedihanmu dan bertanggung jawab atas kebahagiaanmu," ucapnya lirih sembari menghapus embun yang hampir menetes di pipi.
💕💕
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar