Tulang Rusuk Part 21
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 21 : Hanya Satu
Obat rindu adalah bertemu. Jika jarak merupakan kegelapan, maka temu adalah cahaya penerangan. Seperti sekarang, Arum merindukan sosok kakak sepupu. Ditemani Zuhan, perempuan itu menemui keluarga yang telah merawatnya sejak kepergian Abah dan Ummanya. Tiba di depan hunian sederhana, mata Arum mengembun, memandang sendu gadis bergamis biru.
"Mbak Zulfa, Arum kangen," ucap Arum sembari memeluk Zulfa.
Yang dipeluk tersenyum tipis. Sejenak, Arum merasakan pelukannya terlepas oleh tangan sang kakak sepupu. Dipandangnya dalam-dalam netra bening Zulfa. Rupanya, ia menangkap sedikit luka.
"Mbak Zulfa sakit?"
"Nggak, Rum. Habis ini ke kamarku. Mbak mau ngomong serius."
Ia mengangguk dan mencoba tetap tersenyum meski itu tak terbalaskan. Sejenak, ia memandang Zuhan, mengkode untuk segera masuk ke dalam hunian. Tiba di ruang tamu, Arum memeluk, mencium punggung tangan Budhe dan Pakdhe bergantian. Ia sungguh merindukan kasih sayang orangtua penggantinya itu.
"Maasyaa Allah, Nduk. Bahagia sama suamimu, kan?"
Tak ada lagi yang perlu disembunyikan. Kenyataannya, ia sungguh bahagia sekarang. "Alhamdulillah, Arum bahagia. Pak Zuhan sangat baik dan menyayangi Arum."
"Alhamdulillah. Jaga Arum ya, Nak Zuhan."
"Itu sudah tanggung jawab Zuhan. Insyaa Allah, Zuhan akan selalu menyayanginya."
Prang
Mereka yang mulanya bercengkrama tetiba terkejut akan suara pecahan, entah gelas atau piring. Sejenak, semua menoleh dan mendapati Zulfa yang berdiri shock tak jauh dari belakang Zuhan. Rupanya, gadis itu tengah menjatuhkan dua gelas teh hangat yang mungkin akan diberikan pada adik serta sang suami.
"Ada apa, Zul? Kenapa lemes begitu?" tanya Budhe Salamah panik.
Sementara yang ditanya hanya menggeleng lemah sembari memunguti beling yang berserakan. Melihat pemandangan yang tak mengenakkan itu, Arum beringsut mendekat, membantu sang kakak membersihkan pecahan gelas yang berserakan. Tak ada obrolan, keduanya hanya saling diam, menyisakan banyak kegelisahan di raut wajah kedua orangtuanya. Pun Zuhan mendadak cemas. Katanya, ia takut ada hal-hal tak diinginkan yang bisa menciptakan lubang permasalahan.
"Zulfa ke kamar dulu. Rum, ikut Mbak," ucap Zulfa pelan sembari membawa nampan berisi beling.
Merasa ada yang aneh, hati Arum tak tenang. Ia pun berdiri dan menghampiri Zuhan sedang sang suami mengelus pundaknya pertanda bahwa lelaki itu mengizinkan dirinya untuk menemui Zulfa.
"Arum ke kamar Mbak Zulfa dulu, Pak. Monggo, Pakdhe, Budhe."
***
Dalam ruangan bernuansa pink, tampak Zulfa duduk di atas ranjang, menopang dagu dengan kedua lututnya. Sementara Arum masih berdiri di ambang pintu. Entahlah, ia begitu ragu untuk masuk. Sejenak, perempuan itu mengucap basmalah dan menghampiri kakaknya. Dengan hati-hati, ia duduk tepat di sebelah Zulfa.
"Mbak Zulfa ..." panggilnya begitu lirih.
"Bagaimana caranya ikhlas, Rum?" tanya Zulfa tanpa menoleh.
Mendengar itu, Arum menelan saliva seketika, mulai meraba arah pembicaraan sang kakak.
"M-maksudnya, Mbak?" tanyanya pura-pura tak paham. Arum semakin kalut saat Zulfa menoleh, menatapnya dengan derai air mata.
"Aku sudah berusaha ikhlas, tapi hatiku selalu sakit saat melihat Pak Zuhan memperlakukanmu begitu lembut."
Kalimat itu sukses menohok hati Arum. Bagaimana tidak? Ia mampu merasakan penderitaan sang kakak, tetapi ia tak mampu berbuat lebih untuk menyembuhkan lukanya.
"Mbak ..."
"Aku cemburu, Rum. Aku nggak setegar yang kamu pikirkan."
"Mbak Zulfa, maafkan Arum ..."
"Seandainya, aku minta menjadi bagian dari kalian, apa kamu mengizinkan, Rum?"
Seolah suara petir menggelegar. Tetiba seluruh tubuh Arum gemetar. Air mata yang telah dibendung sedari tadi pun keluar. Sungguh, ia tak menyangka kalimat tak pantas itu lolos begitu saja dari mulut Zulfa, sosok gadis yang menurutnya begitu sholihah.
"Mbak, kenapa bicara seperti itu? Arum tidak bisa."
Tatapan Zulfa semakin menyalang, sama sekali tak menunjukkan keramahan. "Kenapa, Rum? Kamu lupa dengan ucapanku dulu? Sekali saja kamu menyakiti hati Pak Zuhan, aku akan mengambilnya lagi. Sekarang saatnya, Rum. Itu karena kamu sudah melanggar janji."
"Apa maksudmu, Mbak?"
"Nggak usah pura-pura lupa, Rum. Aku melihat semua dengan jelas kejadian di supermarket kemarin."
Lidah Arum semakin keluh. Ia ingat betul apa yang terjadi kemarin, pun semua ucapan Zulfa sebelum hari pernikahannya dengan Zuhan. Namun, ia tak ingin menyerah dan melepas suaminya begitu saja setelah bersusah payah menelan kepahitan sendiri sejak awal. Bukankah dirinya berhak bahagia?
"Astaghfirullah. Itu salah paham, Mbak."
"Tapi, hatimu tak pernah mempermasalahkan itu."
Entah kenapa, perkataan itu sangat mengoyak jiwa Arum. Ia tak tahan hingga menangis tanpa rasa sungkan. Bukan berarti dirinya membenarkan, hanya saja, Arum begitu kecewa kenapa sang kakak begitu tega menamparnya dengan pernyataan menyakitkan. Tetiba perempuan di sampingnya menyentuh pundak dan menatapnya cukup lama.
"Aku nggak ingin berdebat, Rum. Apa kamu mengizinkan?"
Lagi. Arum muak mendengarnya hingga ia menepis kasar tangan Zulfa. "Nggak akan, Mbak. Kecuali kalau Pak Zuhan sendiri yang meminta. Satu lagi, Pak Zuhan bukan barang yang bisa dioper kapanpun."
Sungguh, dadanya seperti terbakar saat mengeluarkan kalimat itu. Bahkan, ia keluar begitu saja tanpa salam. Sembari mengusap air mata, Arum berjalan menuju kamar. Sayang, baru beberapa langkah, Zuhan telah menghadang, merengkuhnya tanpa aba-aba.
"Pak Zuhan ..." tangisnya sesenggukan.
Sedang Zuhan mengelus punggungnya, mecoba menenangkannya. "Sudah, jangan menangis. Ayo ke kamar dulu."
Kini, dalam kamar, Arum tak bisa bernostalgia seperti rencananya. Ia hanya mampu menangis, memikirkan setiap ucapan Zulfa. Semua terasa mengejutkan serta menyakitkan.
"Pak, ayo pulang sekarang," pintanya di sela tangisan.
"Sebentar, Rum. Kita baru saja sampai."
"Tolong, Pak. Njenengan bilang saja kalau ada urusan di kampus mendadak."
"Ya sudah. Ayo."
***
Jam dua belas siang, Arum masih bungkam, pun Zuhan tak ingin bertanya banyak hal. Sejak pulang dari rumah Zulfa, keduanya seolah menjadi asing satu sama lain. Bukan apa-apa, hanya saja, Arum ingin menenangkan diri sementara Zuhan begitu memahami hingga tak ingin menambah bebannya dengan rentetan pertanyaan.
"Pak, tadi njenengan dengar semua?" Rupanya, perempuan itu sudah lelah berdiam diri. Ia ingin mengeluarkan segala unek-uneknya.
"Dengan jelas," jawab Zuhan yang duduk di samping Arum.
"Lalu?"
"Lalu apanya? Kamu mau?"
Arum menunduk sembari menggeleng lemah. Sejenak, ia menghela napas pelan. "Tapi, itu semua kembali ke njenengan, Pak. Sepertinya, Mbak Zulfa benar. Arum sering menyakiti Pak Zuhan."
Mendengar jawaban Arum, Zuhan terkekeh dan mengacak rambutnya pelan. "Otak dan hatimu harus dibersihkan dulu, Rum. Ayo sholat. Nanti, kita bicarakan lagi, termasuk keputusanku."
Tak ada pilihan, Arum menurut titah sang suami, berharap Allah segera menenangkan hati dan jiwanya. Namun, ia tetaplah wanita biasa. Ya, usai sholat berjamaah, ia masih menangis sembari menunduk.
"Kenapa menangis?" tanya Zuhan sembari mendongakkan wahah Arum dan mengusap air matanya.
"Katakan keputusan njenengan, Pak. Arum siap mendengarkan."
Sentuhan lembut kembali menyapu pipi Arum. Lelaki itu dengan tenang mengatakan segala keputusan. "Seperti yang kukatakan kemarin, sampai kapanpun, aku adalah suamimu dan kamu adalah istriku, satu-satunya, tidak ada yang lain meskipun itu Zulfa."
Mendengar itu, Arum merasa lega. Tanpa ragu, ia menatap sang suami begitu lama, menunjukkan betapa dirinya sedang bahagia.
"Trimakasih, Pak. Tolong bersabar sebentar. Arum sedang berusaha membahagiakan njenengan."
Kekehan Zuhan terdengar sembari mengelus pucuk kepala Arum. "Kebalik, sayang. Aku yang harusnya membahagiakanmu. Ada-ada aja. Sudah, tidur, gih."
Diam-diam, Arum tersenyum tipis mendengar penuturan sang suami. "Arum akan tidur kalau Pak Zuhan juga tidur."
"Ada apa?"
Perempuan itu berdiri, melepas mukenah dan segera merebahkan diri di atas ranjang. "Arum masih shock, Pak. Tolong peka sedikit."
Ah, kali ini, Arum tersenyum saat Zuhan menurut. Lelaki itu ikut naik ke atas ranjang dan tidur menyamping, menghadapnya. Sementara Arum sedikit salah tingkah. Ia kelabakan hingga harus berguling-guling. Bahkan, ia mencoba memejamkan mata, tetapi begitu susah.
"Kenapa guling-guling dari tadi sih, Rum?"
"Nggak bisa tidur, Pak."
Zuhan duduk, membenarkan selimut sang istri. Setelahnya, ia mengelus pipi Arum pelan. "Baca doa, Rum. Merem. Sudah besar, masa' iya minta dinina boboin. Tapi, kalau mau juga nggak apa-apa sih," ucap Zuhan dibarengi dengan kekehan ringan dan langsung membaringkan badan lagi.
Sementara Arum tersenyum dan menutup wajahnya dengan selimut tebal. 'Njenengan nina boboin juga nggak apa-apa, Pak. Barangkali, ini awal yang baik,' batinnya terkekeh.
💕💕
Jeng jeng ... masalah dengan Syafiq belum selesai, muncul lagi Zulfa menambah pelik permasalahan. Mampukah Arum & Zuhan bertahan? Hayoooo 🤗🤗
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar