Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 20

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 20 : Layaknya Pakaian

Cahaya remang menghiasi langit luar pun langit rumah dalam kamar. Kokok ayam menghasilkan nada indah, memecah kesunyian. Ditemani cuitan burung, rerumputan begitu tenang sembari menguarkan aroma khas. Sesekali, angin berhembus lembut, memasuki kamar melalui celah-celah cendela rumah. Hingga sapuan lembut terasa, membuat Arum yang sedang mengadu pada Tuhannya memejamkan mata.

Sementara Zuhan memandangnya begitu sendu, mengingat setiap tingkah laku sang istri yang begitu menyakitkan. Ia pun berdiri, berjalan ke arah laci milik Arum. Diambillah Al-Quran berwarna pink. Jemarinya  begitu gemulai membuka tiap lembar mushaf sedang bibirnya tak  berhenti membaca setiap nama surat serta ayat yang tertera. Sejenak, Zuhan bernapas lega dan menyodorkan Al-Kitab pada istrinya.

"Bacalah penggalan ayat ini, Rum!" titahnya sembari menunjuk penggalan ayat Al-Quran.

Arum pun mengambil kitab suci tersebut. Dalam hati, ia mencoba menerka apa maksudnya. 'An-Nisa ayat 34,' batinnya lirih.

"Baca yang lantang, Rum."

Ia terkesiap saat perintah Zuhan begitu tegas meski tak keras. Tanpa senyuman hangat, tanpa tatapan damai, bukankah itu sangat menyakitkan?

. فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ "


(Fa shoolihaatu qoonitaatun haafidhotun lil ghoibi bimaa hafidhollah).

Diam-diam, dada Arum terasa sesak saat melantunkannya. Meski hanya satu ayat, tetapi maknanya begitu menyayat.

"Baca terjemahnya, Rum!"

Ia mencoba menetralkan hati, berharap air mata tak menetes. "Maka wanita-wanita yang sholihah ialah yang taat (kepada Allah dan kepada suami) lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara (mereka)," bacanya begitu lirih.

Ah, usahanya gagal. Lagi-lagi, cairan bening lolos begitu saja. Ia tahu betul apa yang akan terjadi selanjutnya, pun ia menyadari betapa berdosa dirinya pada sang suami. Sesaat, ia merasakan sentuhan pada dagu lancipnya. Rupanya, Zuhan tengah duduk di depannya, sengaja menyentuh dagunya, hingga mendongak dan keduanya bertatapan cukup lama.

"Kamu tahu, Rum. Di ayat tadi, Allah dengan jelas mendefinisikan bagaimana sifat wanita sholihah yang sesungguhnya."

Arum menunduk, tak kuat memandang wajah suami yang menampakkan banyak gurat luka. Namun, Zuhan kembali mendongakkan wajah Arum hingga ia pun tak bisa menghindari tatapan mata sang suami.

"Qanitat dan Hafidzah. Kamu paham maksudnya?"

Arum mengangguk lemah, tanpa berkata ya.


"Apa arti Qanitat dalam ayat tersebut?" tanya Zuhan kembali.

"Ta-taat, Pak."

Hening. Tak ada sahutan dari prianya setelah Arum menjawab pertanyaan itu. Hingga lima detik, tetiba deheman keluar dan muncul lagi pertanyaan dari Zuhan.  "Apakah selama ini kamu taat, Rum?"

"I-insyaa Allah, Pak."

"Baik. Lalu, apa arti hafidzhah?"

"Menjaga."

"Menjaga apa maksudnya, Rum? Coba jelaskan!"

Ah, dugaan Arum sangat benar. Ya, ia telah mengira bahwa kalimat semacam ini akan keluar dan memojokkan dirinya. Bukan apa-apa, hanya saja, yang ia jawab sungguh tak sesuai fakta.

"Menjaga diri, khususnya ..." ia membuang muka ke arah kiri sembari mengusap air mata di pipi. "Saat tidak bersama suami."

"Apa kamu sudah menerapkannya?"

Empat kata Zuhan itu bagai sembilu. Dada Arum begitu sakit seolah tercubit berulang kali. Dalam hati, ia sungguh mengakui kesalahannya, tetapi dibrondong dengan rentetan pertanyaan menampar membuatnya semakin terjebak dalam penyesalan tak berkesudahan.

"A-Arum ... Arum ..."

"Sudah, Rum. Nggak usah dijawab. Aku tahu jawabannya."

Ia semakin terisak melihat sang suami beranjak keluar. Tak mau terkungkung terlalu lama dalam permasalahan, Arum berlari cepat dan tersungkur ke lantai sembari memegangi kaki suaminya.

"Pak, Arum mohon. Jangan seperti ini. Maafkan, Arum. Wallahi, Arum nggak ada maksud apa-apa."

Diam. Zuhan masih setia dengan kebisuannya. Lelaki itu tak menyahuti sekalipun sang istri memohon-mohon dengan segala isakan. Sementara Arum tak menyerah, ia terus merancau hingga suaranya kian melemah. Sungguh, ia pun bisa lelah meskipun dia sendirilah si penyebab masalah.

"Bangun, Rum. Ayo turun ke bawah. Jangan sampai Abah sedih melihat putra-putrinya kacau seperti ini."

Agaknya, Zuhan luluh saat Arum tak lagi mengucap kata maaf selain tangisan. Lelaki itu menuntun istrinya untuk berdiri sedang Arum menurut, tanpa berontak. Sejenak, Zuhan kembali melangkah hendak keluar. Namun, lelaki itu berhenti dan kembali menghampiri Arum.

Sedang Arum tak menyangka akan sikap suaminya. Rupanya, Zuhan tetaplah lelaki baik yang ia kenal. Bagaimana tidak? Dalam keadaan marah pun, ia masih sudi mengusap air mata sang istri.

"Tersenyumlah. Setidaknya, semua orang akan tenang, termasuk suamimu," ucap Zuhan lirih.

***

Dalam ruang makan, Arum dan Zuhan berperan cukup bagus. Keduanya sesekali saling lempar pertanyaan seolah tak terjadi apa-apa di antaranya. Diam-diam, dalam hati masing-masing berharap sang Abah tak mengetahui segala pelik permasalahan, keduanya pun menyemogakan hubungannya membaik seperti semula.

"Bah, habis ini, Arum izin ke rumah Pakdhe Hasan."

"Sudah izin suami kan, Rum?"

Ah, Arum sungguh lupa akan satu hal itu. Alih-alih memecah keheningan, perkataannya justru memancing kecurigaan. Sejenak, terasa tepukan halus di punggung tangan. Arum pun melirik ke bawah, mendapati Zuhanlah yang telah melakukannya. Tampak lelaki itu tersenyuk sekilas dan kembali fokus menatap sang Abah.

"Sudah, Bah. Arum sudah izin Zuhan tadi. Sekalian nanti Zuhan yang antar." Ah, rupanya, perlakuan Zuhan bermaksud untuk menenangkan serta melindungi istrinya.

"Alhamdulillah. Abah seneng lihat kalian akur terus.

Mendengar itu, Arum dan Zuhan saling pandang, saling lempar senyuman meski tertahan dan hanya sebatas kepura-puraan. Ah, tidak! Kenyataannya, hati keduanya berbunga.

Usai sarapan, sesuai rencana, Arum bersiap pulang untuk bertemu Pakdhe Hasan, Budhe Salamah, juga kakak sepupu yang begitu dirindukannya, Zulfa. Kini, ia tengah berada dalam mobil bersama Zuhan. Canggung, begitulah suasana yang tergambar sekarang.

"Pak, kenapa njenengan menutupi kesalahan Arum?" tanya Arum hati-hati, berharap tak ada kesalahan.

"Karena aku pakaianmu dan kamu pakaianku," jawab sembari fokus mengemudi.

Sejenak, rasa bahagia membuncah dalam dada. Entahlah, ia begitu lega saat sang suami sudi berbicara dengan baik meski tak sekali pun menatapnya.

"Pak, apa ini artinya njenengan sudah memaafkan Arum?" tanyanya lagi.

"Belum. Masih berusaha."

Mendengar itu, hatinya kembali sakit. "Izinkan Arum keluar, Pak. Arum mau pulang sendiri."


Gegas Arum melepas seat belt dan bersiap membuka pintu mobil. Padahal, kendaraan masih melaju kencang, entahlah, ia sungguh tak mampu berpikir jernih.

"Tetap duduk, Rum," perintah Zuhan sembari menahan pergelangan tangan Arum.

"Tap-"

Ciiiit

Ucapannya berhenti seketika saat decitan roda mobil begitu memekak pendengaran. Ah, Zuhan menghentikan kendaraannya secara tiba-tiba hingga keduanya hampir tersungkur ke depan.

"Duduklah dengan tenang. Jangan membuatku tambah murka."

"Justru Arum sedang memberi njenengan ruang agar tenang, Pak. Arum mau pulang sendiri."

Dada Arum bergemuruh. Sungguh, ia pun sedang menahan amarah. Tetiba Zuhan memegang pundaknya. Keduanya pun berhadapan, tanpa jarak.

"Rum, sampai kapanpun, aku tidak akan pernah melepas tanggung jawab ini. Aku suamimu, dan kamu adalah istriku ..." Zuhan melepas sentuhannya, kembali menatap jendela depan. "Selamanya."

Lolos sudah air matanya. Arum beringsut mendekat, membenamkan wajah pada paha sang suami. Ia mengucap hamdalah berulang-ulang, pertanda dirinya begitu bahagia mendengar ucapan Zuhan.

"Pak Zuhan ..." ah, ia tak bisa berkata dengan baik, selain mengeluarkan isakan. Hanya saja, tangisan kali ini adalah wujud kebahagiaan.

Zuhan mendudukkan tubuh Arum. Kini, ia memegang erat jari-jemari sang istri.

"Sudah, Rum. Jangan nangis lagi. Maafkan aku. Kita mulai dari awal lagi. Tolong berjanjilah untuk selalu menghargai suamimu, atau kamu akan kehilangan kasih sayang ini lagi selama-lamanya."

"Arum akan berusaha, Pak. Trimakasih atas kesabarannya." 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42