Tulang Rusuk Part 2
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tulang Rusuk -> Part 2
Karya: Zahidah H.M.
"Tolong, jangan buat Abah kecewa. Abah sudah terlanjur berharap dengan niat baik saya ini, Rum. Hanya saja ... ada kesalahpahaman. Abah mengabari hendak melamar putri Bapak Hasan, yang dimaksud itu kamu, Rum, bukan Zulfa. Maaf."
"Kenapa njenengan begitu memaksa? Bagaimana dengan perasaan saya, Pak?"
"Saya berjanji akan membebaskanmu berlaku apapun setelah menikah nanti."
"Termasuk berhubungan dengan Mas Syafiq?"
Arum berbaring pasrah, membiarkan semesta mempermainkan hidupnya. Sejak pertemuan satu jam yang lalu, bibirnya tidak lagi merekah. Yang ada hanya mata dan pipi yang basah. Sedang percakapan itu terus terngiang-ngiang di telinga, membuat hatinya semakin dijejali rasa sesal.
Ia tak pernah menyangka, bahwa harus kembali melalui episode buruk dalam hidupnya. Masih dengan tema yang sama, kehilangan orang yang dicintainya.
"Sebelumnya mohon maaf, Bah. Arum butuh waktu. Tolong, beri Arum waktu satu minggu untuk istikharah dan mempertimbangkan semuanya."
Ini ... bukan tentang menerima dan menolak, tetapi tentang bagaimama caranya bertahan dan mendewasa dalam setiap pilihan.
Entah, apa yang akan terjadi dalam tujuh hari ke depan. Otaknya tidak mampu menerka apa yang akan Allah takdirkan. Yang dia tahu, dia sama sekali tidak mencintai Zuhan. Keputusannya untuk tidak langsung menolak adalah semata-semata untuk menghargai perasaan Zuhan, juga Abahnya.
"Njenengan sudah membuat hidup Arum berantakan, Pak," lirihnya sembari mengusap air mata di pipi.
"Arum."
Suara parau itu membuat jantung bertalu hebat. Bibir tipisnya kembali bergetar. Pipi yang baru saja mengering harus kembali basah. Dengan pelan, ia mendudukkan tubuh. Ia menatap nanar gadis yang masih berbalut gamis abu berdiri di ambang pintu. Matanya begitu sendu, penampilannya tak lagi ayu.
Zulfa mendekat. D4da Arum semakin bergemuruh hebat. Haruskah ada perdebatan panjang dengan saudara hanya karena seorang ikhwan? Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Arum mencoba tenang, menyapa Zulfa seolah tidak pernah terjadi apa-apa di antaranya.
"Mbak Zulfa."
"Kenapa, Rum? Kenapa nggak langsung kamu tolak lamarannya?"
Zulfa menggoncang bahu Arum dengan kencang sedang Arum hanya diam, menangis tanpa suara. Zulfa luruh, memukuli ranjang yang tertutup spring bed coklat. Dan ... Arum kalah. Gegas ia memeluk kakaknya dengan derai air mata.
Namun, apa? Tidak ada sambutan hangat atas pelukannya. Zulfa bukan lagi kakak sepupu seperti dulu. Gadis itu menepis lengannya kasar, mengumpat tidak karuan tentangnya.
Arum berjongkok menghadap Zulfa, menyentuh bahu kakaknya dengan tangan bergetar. Tatapannya begitu nenampakkan rasa sakit. Ya, sakit akan tuduhan yang terus merobek harga dirinya.
"Mbak, dengarkan Arum dulu."
"Kenapa selalu kamu, Rum? Kenapa?"
"Mbak..."
"Rasanya menghalangi pun percuma, Rum. Terserah dengan keputusanmu."
Arum tidak lagi membantah, karena Zulfa berlalu keluar dengan perasaan kecewa. Rasanya, menangis juga percuma. Masalah tidak akan selesai begitu saja.
Dia ... begitu lelah sekarang. Dia pun menyenderkan kepala dengan posisi terduduk di lantai samping ranjang, lantas mulai memejamkan mata. Dalam diamnya, Arum berharap agar jarum jam segera menunjuk angka 3. Dia ingin segera memberi tahu Tuhannya bahwa dia tidak siap bersanding dengan penyandang nama Arshad Zuhan.
Dan ... beberapa jam berlalu. Waktu bermunajat telah tiba. Arum telah anggun dengan pakaian ibadahnya. Digelarnya sejadah menghadap qiblat. Dengan niat lillaahi ta'ala, gadis itu mengucap takbir, menyelesaikan 2 rakaat sunnah.
Arum tidak tahan. Ia menangis sejadi-jadinya, menceritakan semua deritanya. Ada harap, agar Zuhan tidak menjadi jodohnya, melainkan jodoh Zulfa. Lalu, dengan terang-terangan ia juga meminta, agar Syafiqlah yang akan menjadi pendampingnya.
Dalam tiap irama doanya, gadis itu merasakan getaran dalam dada. Hawa panas dengan mudahnya menyusup ke seluruh tubuh. Sayup-sayup, terdengar seorang ikhwan menyebut namanya dalam munajat bebarengan dengan hembusan angin malam.
Jemarinya semakin kencang memutar tiap butiran tasbih. Bibirya semakin lantang menyuarakan dzikir pada Ilahi. Luruh sudah airmatanya. Dia tidak tahu, suara siapa itu, angin mana yang telah menggiring doa seseorang hingga menembus gendang telinganya. Gegas ia meraup wajah, meyakinkan diri bahwa itu hanyalah angan semata.
"Maafkan hamba, ya Allah! Hamba terlalu mendamba," sesalnya sembari mengusap pelan air matanya.
Ting
Belum sempat melepas mukenah, suara notif ponsel mengalihkan aktivitasnya. Pasalnya, ia hampir tak pernah menerima pesan di waktu beradu pada sang Tuhan. Dengan raut heran, gadis itu membuka ponsel. Tertera nomor asing tanpa nama membuatnya mencebik sebal saat membaca rentetan kata yang tertulis.
+681255xxxxxx
[Assalamualaikum, calon istri.]
Satu kalimat itu membuat perasaannya semakin tak karuan. Bukan benci, namun ada rasa nyeri dalam dada. Rasa bersalah juga ikut menyembul dan mengejeknya.
"Kenapa harus njenengan sih, Pak? Saya itu berharap Mas Syafiq." Ah, rupanya Arum sedang kecewa hingga melempar begitu saja ponsel yang ia genggam.
Ting
Geram. gadis itu kembali mengambil benda pipih berwarna hitam. Ibu jarinya menekan paksa icon hijau untuk membaca pesan selanjutnya.
+681255xxxxxx
[Kenapa hanya diread? Sudah sholat?]
"Maafkan saya, Pak. Mas Syafiq benar-benar sudah melekat di hati," ucapnya penuh sesal.
Drrt drrt
Belum hilang rasa dongkolnya, sosok Zuhan kembali berulah. Dengan terpaksa, Arum menekan icon telpon berwarna merah. Sayang, pria itu tak menyerah dan kembali menghubunginya.
"Kenapa harus telpon sih, Pak?" monolognya sembari memandangi layar kaca dengan deretan angka.
Ada rasa gugup juga takut menyelimuti relung hati. Ia rapalkan bacaan basmalah sebelum benar-benar mengangkat panggilan dari Dosen sekaligus lelaki yang telah meminangnya.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam. Sudah sholat?"
"Sampun."
"Sholat apa?"
Menyebalkan. Begitulah batinnya. "Njenengan sudah tahu jawabannya."
"Tahajjud? Atau istikhoroh?"
Istikhoroh? Ah, Arum lupa akan niatnya. Bukankah dia sendiri yang meminta waktu untuk mencari jawaban atas pinangan Zuhan? Kenapa ia begitu abai dan memikirkan pria lain? Kali ini, gadis yang terkenal banyak bicara itu tak mampu mengucap satu dua kata. Lidahnya terlalu kelu.
"Ya sudah. Saya tau jawabannya. Jika kamu berdoa untuk kebaikanmu dan Syafiq, saya pun berdoa untuk kebaikan kita, Zuhan dan Arumi."
"Pak..." ucapnya begitu lirih.
Sungguh, penyandang nama Arum mampu merasakan betapa tersayat hati seorang Zuhan. Mencintai tanpa dicintai, menyakitkan sekali, bukan?
"Saya serius, Rum. Assalamualaikum."
"Sebentar, Pak." Ah, rupanya Arum menyela dan bersiap bertanya pada Pria di seberang sana.
"Ya? Ada yang perlu ditanyakan?"
Diam. Gadis itu bingung bagaimana cara mengutarakannya. Hingga 5 detik, bibir yang masih basah itu mulai berujar.
"Apa yang Bapak harapkan dari saya?"
"Kita nyaman dan saling cinta, sudah itu saja."
Nyaman dan saling cinta? Bahkan rasa nyaman begitu enggan menyapa saat berdekatan dengan pria itu. Bukan apa-apa, rasa nyaman seperti apa yang harus dimunculkan antara dosen dan mahasiswi? Kini, pria itu dengan lantang memintanya untuk mencari kenyamanan sembari meraba rasa cinta yang bisa saja singgah kapan saja.
"Arum? Tidur?"
Sadar telah lama diam tanpa jawaban. Matanya mengerjap seketika sembari membenarkan posisi duduk.
"Eh, emm, nggak, Pak. Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam."
'Kita nyaman dan saling cinta, sudah itu saja.' Kata itu bergelayut manja membersamai tiap napas yang ia hembuskan. Ia membaringkan tubuh sembari mencoba memjamkan mata. Nihil. Usahanya sia-sia mengingat Adzan shubuh sebentar lagi berkumandang. Dengan raga yang sedikit gontai, Arum mendudukkan tubuh, menetralkan hati dan pikiran.
Ting
Notif pesan membuatnya kembali memandangi ponsel. Hatinya tertik4m seketika saat mebaca deretan kata dari pria yang telah mengharapkannya.
+681255xxxxxx
[Saat sholat, tolong selipkan juga nama saya walaupun itu di urutan paling akhir.]
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar