Tulang Rusuk Part 19
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 19 : Kebun Surga atau Kubangan Neraka?
Senja menyapa, cakrawala telah terlukis indah oleh warna jingga. Mentari berpamitan untuk pulang, memberi kesempatan rembulan dan bintang-bintang bercengkrama bersama dalam gelapnya malam. Namun, semua itu tak menyurutkan kebisuan dua anak Adam. Ada dua hati yang terluka, sama-sama memendam lara. Ralat. Bukan dua melainkan tiga dalam satu atap rumah.
Sejak kejadian di supermarket siang tadi, Zuhan tak mengindahkan setiap ucapan sang istri, pun Arumi tak mau berusaha lebih keras untuk mendapatkan maaf dan ridho sang suami. Katanya, ia ingin memberikan ruang sejenak pada prianya hingga sama-sama mampu berpikir jernih. Alih-alih menghindari konflik, perempuan itu memilih menyajikan beberapa hidangan untuk makan malam bersama.
"Alhamdulillah, sudah beres." Sejenak, ia menyisihkan piring khusus. "Ini capcay spesial buat pak suami. Semoga amarahnya segera reda."
Allahu Akbar Allahu Akbar
Adzan berkumandang. Gegas Arum menuju lantai atas untuk melaksanakan tiga rakaat wajib. Sayang, di pertengahan anak tangga, langkahnya kembali terhadang oleh Syafiq. Keduanya membeku sejenak, tak mampu bersuara meski sekadar sapaan hai.
"Kenapa bengong, Nduk, Fiq?" tanya Abah Umar yang juga hendak turun ke bawah.
Rupanya, pria 50 tahunan itu mengamati Arum dan Syafiq yang sama-sama diam mematung. Hingga suara itu terdengar dan membuyarkan lamunan keduanya. Tak ada pilihan lain, Syafiq segera turun hendak ke masjid sedang Arum berlari ke kamar, menghampiri imamnya.
Dalam kamar, tampak Zuhan telah rapi dengan koko putih dan kopyah hitam. Lelaki itu duduk di atas gelaran sajadah biru sembari memutar tiap butiran tasbih. Sementara Arum merasa lega bahwa sang suami masih sudi menunggunya. Gegas ia berwudhu dan bersiap menjadi makmum lelaki halalnya.
"Arum sudah siap, Pak," cicitnya pelan yang hanya dibalas anggukan oleh Zuhan.
Allahu Akbar
Gema takbir menggetarkan hati keduanya. Tiap pergerakan shalat terasa begitu lama dan berat. Entah sebab apa, yang pasti ada rasa sakit yang begitu menyayat dalam dada. Hingga shalat Maghrib usai, Arum mencoba menata hati untuk berbicara tanpa menyakiti.
"Pak, boleh Arum menjelaskan semuanya?"
Zuhan berdiri, tak menyahuti pertanyaan sang istri. Ia melepas kopyah dan menaruhnya di laci. Setelahnya, lelaki itu duduk di shofa putih sembari memainkan ponsel. Sementara Arum masih berpikir keras sembari melipat mukenah. Diam-diam, ia teringat semua perlakuan manis sang suami. Bayangan Zuhan membantu melepas mukenah, menyisir rambutnya, begitu nyata hingga membuat dirinya semakin merasa bersalah.
Tak mau memperpanjang masalah, Arum mencoba mendekat dan menyentuh punggung tangan Zuhan. "Pak, ayo turun, kita makan malam. Tadi, Arum masak capcay kesukaan njenengan."
Zuhan bangkit dan melenggang turun begitu saja sedang Arum mencoba menenangkan diri agar tak ikut tersulut emosi.
Di meja makan, candaan sama sekali tak keluar. Semuanya diam dengan wajah suram. Tanpa mereka sadari, Abah Umar begitu detail memperhatikan tiap raut muka serta gelagat ketiganya yang cukup aneh sejak siang tadi.
"Apa kalian bertiga ada masalah?"
Mendengar itu, Arum hampir tersedak nasi serta lauk yang sedang dikunyah. Gegas ia menuangkan segelas air putih setengah gelas dan meminumnya hingga tandas. Dalam hati, perempuan itu berharap salah satu dari kakak beradik itu sudi menjawab. Sayang, tak satupun dari mereka membuka suara.
"Zuhan, Arum? Kalian baik-baik saja, kan?"
Arum masih diam sembari melirik Zuhan berharap pria itu mau menjawab meski harus menyembunyikan kenyataan. Nihil. Hingga lima detik, sang suami tak kunjung berkata ya atau tidak, tak menggeleng ataupun mengangguk.
"Mboten, Bah," jawab Arum begitu lirih.
"Ekhem. Sepertinya memang ada masalah. Segera selesaikan baik-baik, Han."
Ah, Arum hampir lupa bahwa sosok yang dipanggil Abah telah merasakan manis pahit kehidupan rumah tangga. Kebohongannya pun mudah sekali dibaca.
"Nduk Rum, perempuan itu rawan, biasanya suka membeberkan segala permasalahan. Abah harap, hal itu jangan sampai kamu lakukan. Masalah rumah tangga cukup diselesaikan di kamar, jangan sampai merambat ke ranah luar," jelas Abah Umar membuatnya kesusahan menelan saliva.
"Fiq, kamu sudah dewasa, apa sudah ada calon?" tanya Abah Umar lagi yang justru membuat ketiganya saling curi pandang.
Sementara Syafiq bingung harus menjawab apa. Ia mencoba mendongak berkata apa adanya. "Belum, Bah."
"Sepertinya, dulu, kamu pernah bilang ke Abah kalau ingin mengkhitbah perempuan yang kamu sukai."
Mendadak lidahnya kelu, pun Arum merasakan hawa panas menyapu seluruh tubuh. Suasana berubah lebih mencekam, menggambarkan betapa hati semua yang ada dalam ruangan dihantui kegelisahan.
"Fiq?"
Syafiq terkejut hingga menjatuhkan sendok makan yang digenggam. "K-kami tidak berjodoh, Bah."
"Maksudnya?"
"Dia ..." Syafiq melirik ke arah Arum serta sang kakak. "Dia sudah menjadi istri orang lain."
Entahlah, Arum tak kuasa hingga setetes cairan bening meluncur tanpa permisi. Dengan cepat, ia menghapusnya kasar sembari melirik ke arah bawah meja, berharap tak ada yang melihatnya. Salah. Abah Umar sangat jeli akhir-akhir ini.
"Kenapa menangis, Rum?"
Mendengar itu, Arum semakin gelagapan. "Emm, itu, Bah. Arum ... Arum kangen Mbak Zulfa."
"Zulfa? Oh iya, Abah ingat sekarang. Fiq, sepertinya, dia cocok sama kamu."
Kali ini, pertanyaan itu begitu menohok siapapun, entah Arum, Zuhan, bahkan Syafiq. Bagaimana tidak? Perempuan bernama Zulfa pun masih menyimpan luka sejak masa khitbah Zuhan dan Arum. Jika dipikir, kisah cinta mereka memang begitu rumit.
"Fiq?" tanya Abah Umar sekali lagi.
"Syafiq belum siap, Bah. Syafiq ke kamar dulu. Mari, kak ..." lelaki itu terdiam dan melirik Arum. "Mari, Mbak."
***
Dalam ruangan bernuansa putih, Arum dan Zuhan duduk di atas ranjang. Keduanya masih saling diam, hanya menjalankan aktivitas dunia maya masing-masing. Sesekali, deheman keluar dari Zuhan, begitupun Arum yang terkadang mencuri pandang pada arah suaminya. Lelah saling tutup mulut, tetiba keduanya saling berhadapan dan bertatapan cukup lama.
"Rum, aku mau tanya satu hal sama kamu," ucap Zuhan mencoba memecah kecanggungan, alih-alih sembari meredam amarah.
Tak mampu menjawab, Arum hanya mengangguk. Bukan apa-apa, ia hanya takut akan munculnya pertanyaan yang justru memojokkan hingga berujung perdebatan panjang.
"Jika dihadapkan dua pilihan, kamu memilih surga atau neraka?"
Mendengar itu, Arum mendongak dan sedikit menyipitkan mata. "Pertanyaan macam apa itu, Pak? Jelas saja, Arum pilih surga."
"Kalau begitu, apa kamu bener-bener siap meraih surga bersamaku?"
Sekali lagi, perempuan itu tetiba kehilangan kepiawaiannya dalam bertutur kata. Ia benar-benar tak mampu menjawab dengan baik. Ah, ia ingin sekali mengatakan 'ya', tetapi begitu susah. Mungkin, rasa ikhlas belum benar-benar melekat di hatinya. Maka, diam adalah keputusan yang tepat meski pada akhirnya menimbulkan banyak tanda tanya di hati sang suami.
"Kenapa diam, Rum? Sudah sejak dulu, aku tanya hal ini padamu, bahkan sebulan sebelum pernikahan. Aku sudah pernah memintamu membatalkan rencana pernikahan kita dan kembali pada Syafiq, tapi kamu menolak. Sekarang, apa yang kamu lakukan?"
"Maafkan Arum, Pak. Arum tidak ada maksud apa-apa. Percaya sama Arum, Pak. Arum benar-benar berusaha menerima Pak Zuhan."
"Tapi tidak berusaha melupakan Syafiq, bener?"
Kali ini, Arum tak kuat. Ia berbaring sembari menahan tangis. Sayang, air matanya sungguh mendukung hingga isakan pun keluar juga membersamai setiap rasa sakit yang dirasakan.
Melihat istrinya menidurkan tubuh dengan segala lara, Zuhan pun mengikutinya. Ia merebahkan badan dengan kedua tangan berada di bawah kepala. Netranya setia menerawang ke atas sembari berpikir keras.
"Rum, rumah tangga bisa menjadi surga karena usaha dan sentuhan tangan tulus kita. Begitupun sebaliknya, hubungan ini bisa menciptakan neraka akibat ulah laknat kita. Kita yang menentukan apakah menjadikan pernikahan ini sebagai kebun surga atau justru kubangan neraka."
Kalimat itu begitu menampar Arum. Isakannya semakin kentara hingga menembus gendang telinga. Gegas ia beringsut, menyamping dan menghadap Zuhan. Ia mencoba mencium punggung tangan suaminya sembari memohon maaf berulang-ulang.
"Maafkan Arum, Pak. Arum akan berusaha memperbaiki semua. Jangan diamkan Arum lagi." Ah, ia begitu lega saat Zuhan sama sekali tak menolak tiap perlakuannya.
"Tidurlah, Rum, sebelum aku kembali marah. Amarahku belum reda sepenuhnya."
Salah. Zuhan memang mulai menghapus jarak, tetapi ego belum sepenuhnya melebur. Tak mau membuat suaminya bertambah murka, Arum kembali ke posisi semula, membelakangi sang suami. Meski susah, perempuan itu mencoba memejamkan mata, berharap segera bertemu hari esok dengan kisah baru yang lebih indah.
Hingga setengah jam berlalu, elusan tangan terasa di setiap anak rambutnya. Arum begitu menikmati semua itu, bahkan hatinya meminta untuk menghentikan waktu sejenak agar bisa merasakan kasih sayang Zuhan lebih lama lagi.
"Maafkan aku, Rum. Aku bingung harus mempertahankanmu atau mengembalikanmu ke adikku. Jika diizinkan, aku ingin egois untuk selalu memilikimu karena aku pun tulus mencintaimu."
Kec*pan cukup lama di kening pun kembali terasa. Jiwanya mengahangat, menyadari betapa sang suami tulus menyayanginya.
"Selamat tidur," bisik Zuhan setelah menci*m kening Arum.
"Jika boleh, Arum juga ingin egois, Pak, tapi, Arum nggak bisa. Sekarang, surga Arum ada pada njenengan, Pak," batin Arum dengan tangis tertahan.
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar