Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 18

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 18 : Tak Terduga

Matahari semakin merangkak, memendarkan cahaya ke penjuru kota. Semilir angin bersembunyi entah kemana, menyisakan hawa panas yang semakin mendera. Dalam ruangan, hangat masih terasa di sekitar dinding-dinding rumah, pertanda sang bagaskara begitu sempurna melancarkan tugasnya sebagai pelita alam.

Dahaga ikut andil menemani hari, membuat Arum lihai mengaduk jus mangga. Ia begitu menikmati segarnya minuman hingga tak sadar sepasang mata tengah mengamatinya sedari tadi. Ah, bahkan, perempuan itu meminumnya sambil berdiri hingga deheman membuatnya tersentak dan tersenyum sungkan.

"Perempuan sholihah itu tentunya mampu memperindah akhlaknya. Contohnya, minum sambil duduk, bukan berdiri," ucap Syafiq sembari membaca majalah di ruang depan.

"Trimakasih sudah diingatkan, Mas."

Lelaki itu mengangguk dan berjalan melewatinya begitu saja. Rupanya, Syafiq menuju dapur, membuka lemari es. Entah apa yang dicari, tetapi netranya memindai lemari pendingin itu cukup lama. Arum yang notabene selalu ingin tahu pun ikut mendekat, alih-alih bertanya sekaligus menawarkan bantuan.

"Cari apa, Mas? Apa mau dibuatkan jus mangga?" tanyanya hati-hati, takut menyinggung.

"Bahan dapur habis, kamu nggak belanja?"

"Astaghfirullah. Iya, tadi Abah sudah mengingatkan. Arum permisi dulu, Mas."

Tak peduli bagaimana respon lelaki itu, Arum meletakkan gelas sisa jusnya di atas kulkas dan melenggang pergi begitu saja. Sementara Syafiq tersenyum tipis sembari menggelengkan kepala. Menggemaskan, begitulah batinnya. Sejenak, dia beristighfar mengingat yang dikagumi telah menyandang status sebagi istri dari kakak kandungnya.

"Sadar, Fiq, sadar!"

Back to Arumi khadijah, perempuan itu mengenakan hijab biru muda senada dengan gamis yang dikenakannya. Ia menuruni anak tangga dengan begitu cepat dan menuju kamar Abah Umar. Katanya, ia ingin bertanya apa saja yang ingin dibeli untuk keperluan pribadinya, obat-obatan misalnya.

"Ini, Nduk," ucap Abah Umar sembari menyodorkan secarik kertas bertuliskan segala keperluan lelaki itu.

Usai menemui Abah, ia duduk di shofa ruang tamu. Jemarinya lihai merogoh ponsel dan menekan ikon telepon, tepat pada kontak bernama Pak Zuhan. Hingga dua kali panggilan, sosok pria di seberang sana baru mengangkatnya dan membuat Arum bernapas lega.

"Assalamualaikum, Pak."

"Waalaikumsalam. Ada apa, Rum?"

"Arum izin belanja sebentar, Pak. Emm, Pak Zuhan nitip sesuatu?"

"Biasa, Rum. Roti tawar sama susu. Selebihnya, terserah."

"Siap, Pak. Assalamualaikum."

"Waalaikumsalam."

Diam-diam, Arum tersenyum simpul. Ia tak langsung menyimpan ponsel melainkan memainkannya kembali. Rupanya, perempuan itu sedang mengetikkan rentetan kata untuk sang suami. Dalam benak tumbuh harapan tulus bahwa ia pun ingin hubungannya dengan Zuhan segera membaik. Ah, jika dipikir, tak ada permasalahan di antara keduanya, hanya hati Arum saja yang masih tertaut pada adik iparnya.

[Happy working, Pak suami.]

"Maafkan Arum yang sering membuat njenenengan kecewa, Pak," ucapnya lirih.

"Ekhem."

Deheman pelan, tetapi mampu membuat tubuh Arum beku seketika. Refleks, ia melemparkan begitu saja ponsel di atas shofa. Sementara Syafiq menatapnya cukup lama, pun dengan Arum yang jatuh terlau jauh pada manik hitam pria di depannya. Sesaat tersadar, keduanya membuang muka ke segala arah. Entah disadari atau tidak, debaran tak normal kembali memenuhi tiap sekat dalam hatinya.

"Mari, aku antar."

"Nggak, Mas. Arum bawa sepeda saja," jawab Arum gugup.

"Ini perintah Abah. Lagian, ban sepeda bocor."

Perempuan bergamis biru itu semakin tak bisa berkutik. Jemari tangan kirinya sibuk memilin ujung hijab sedang sebelah kanan sudah basah keringat. Skakmat. Ia sama sekali tak bisa membantah. Bahkan otak yang biasanya cemerlang mendadak hang. Entahlah, ia tak mampu berpikir normal sekarang.

"Tenang saja, aku masih tahu batasan. Mari!"

Arum mengangguk ragu dan berjalan pelan, mengikuti Syafiq menuju arah bagasi. Hingga lima menit, Syafiq telah siap mengemudi, mengantar sang kakak ipar mengitari tempat perbelanjaan. Lain halnya adik dari Zuhan yang terlihat begitu santai, Arum semakin kalut. Tangannya sedikit gemetar meski sekadar membuka pintu mobil. Berulang kali, ia mengucap basmlah sembari beristighfar, hingga kini, perempuan itu telah duduk di bagian tengah, tepat di belakang Syafiq.

Agaknya, awan sedikit memucat. Putih bersihnya mulai melebur, berganti kelabu. Perubahan cuaca terjadi begitu cepat tanpa aba, persis seperti hati wanita yang tak pernah menentu setiap waktu. Seperti Arum, senang dan takut beradu riuh dalam dada. Untuk mengusir semua itu, ia mengamati jalanan berharap ketenangan datang menggantikan. Hingga setengah jam perjalanan, supermarket besar telah berdiri gagah di depan mata.

"Tunggu sini, saja, Mas. Arum masuk dulu."

***

Satu setengah jam berlalu, perempuan penyandang status istri dari Zuhan telah keluar dengan berbagai belanjaan. Sesekali, ia mengusap peluh yang membanjiri kening. Kini, Arum berdiri di depan mobil. Netranya memindai luasnya halaman, mencari keberada Syafiq. Hingga dari kejauhan tampak pria yang dinantinya dari tadi berjalan pelan. Entah apa yang dibawa, yang pasti, mata Arum menyipit, mencoba mencari tahu benda cokelat apakah itu.

"Apa itu, Mas?" Pertanyaan itu lolos juga saat Syafiq telah berdiri di depannya. Ralat, sebenarnya, ia sudah bisa melihat dengan jelas bahwa yang dibawa pria itu adalah teddy bear kecil.

"Boneka."

'Arum juga tahu, Mas. Ya Allah, Mas Syafiq menggemaskan sekali,' batinnya gemas.

"Bagus, nggak, Rum?"

"Bagus."

"Suka, nggak?"

Sesaat, Arum melirik Syafiq, memastikan ia tak salah dengar apa yang ditanyakan lelaki itu. "Su-suka."

"Buat kamu. Simpan baik-baik, Rum."

"Hah? M-maaf, Mas, Arum ..."

"Anggap saja ini hadiah dari adik ipar, Mbak Arumi."

Detak jantungnya seolah berhenti seperkian detik. Untuk bernapas pun begitu susah. Sesaat, Arum tersedar saat boneka cokelat sudah berada tepat di depan wajah. Tangannya teramat berat untuk menerima, tetapi hati begitu riuh memintanya untuk segera mengambil teddy bear lucu itu. Dengan ragu, ia mengulurkan tangan, hendak meraih pemberian Syafiq. Namun, entah alasan apa, tampak lelaki itu menegang, tak berkedip sama sekali. Ia pun mengambil alih paksa boneka itu lagi sembari menunduk.

Sementara Arum masih menerka ada apa, hingga tepukan di bahu kanannya membuatnya mendelik seketika.

"Rum ..."

Suara itu menciptakan suasana mencekam di siang hari. Derap langkah kaki semakin mendekat, berhenti tepat di samping Syafiq, menyisakan Arum yang setia membaca istighfar sembari melirik lelaki berkemeja biru muda.

"Adikku lelaki yang baik dan sholih, aku yakin, suatu saat akan ada perempuan sholihah melebihi Arumi Khadijah yang menyempurnakan separuh agamamu," ucap Zuhan lirih sembari menepuk bahu sang adik.

Arum bersusah payah menelan saliva saat suaminya datang mendekat. Lelaki itu sedikit mencondongkan wajah sembari memegang erat jemari-jemarinya.

"Ayo pulang, aku akan mengajarimu bagaimana sikap istri sholihah yang sesungguhnya," bisik Zuhan pelan, tetapi teramat tegas.

💕💕

Sabar ya, Mas Syafiq 🤗🤗


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42