Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 17

 #Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Part 17 [Tanggung Jawab]

💕💕

Dunia sangatlah indah. Jagat raya begitu mempesona. Sementara, cinta sungguh berkuasa atas segala rasa. Kenyataannya, untuk menyatukan dua insan, yang paling bertanggung jawab adalah rasa. Sangat sulit untuk mengetahui pasti kapasitas hati manusia meski perkiraan secara ilmu biologis sudah tertera. Namun, hebatnya, hati mampu menampung berjuta rasa, yang luasnya melebihi bumi dan seisinya.

Bukan lagi remang-remang karena hari ini, langit begitu terang. Angkasa tampak bersih dan indah. Meski sedikit kabut awan ikut melintas, tetapi kecerahan tetap terjaga. Di sebelah timur, mentari mengintip malu-malu, berkabar bahwa dirinya siap menemani hari seluruh anak adam. Layaknya Arum & Zuhan, keduanya tengah menggugus rencana strategi kehidupan.

"Sidang skripsi kapan, Rum?"

"Bimbingan saja baru mau mulai dua minggu lagi, Pak. Jadi, sidangnya ya masih lama," jawab Arum sembari membenarkan kancing kemeja yang dikenakan Zuhan.

"Belajarnya yang rajin." Sejenak, Zuhan mengacak rambut Arum pelan. "Jilbabnya dipakai. Ayo, sarapan."

Perempuan bergamis ungu muda itu pun membenarkan anak rambut sembari memandang Zuhan yang melenggang keluar kamar. Diam-diam, ia tersenyum malu mengingat segala perlakuan manis sang suami. Tak mau terlalu larut, gegas ia menyambar jilbab instan berwarna abu. Arum berjalan cepat sambil membenarkan kerudung hingga tanpa sadar, dirinya hampir terjungkal di anak tangga. Ah, bahkan ia menubruk suaminya sendiri hingga gelas yang dibawa hampir terjatuh begitu saja.

"Astaghfirullah, Rum! Lain kali hati-hati."

"M-maaf, Pak. Arum buru-buru mau buatin Pak Zuhan teh. Eh sekarang ..."

Arum menggantung ucapannya, mengamati segelas teh hangat sang suami yang harus tandas akibat ulahnya. Menyadari lengan kemeja Zuhan basah akibat tumpahan teh, ia segera mengelapnya dengan tangan. Sesekali, bibirnya meniup-niup sisi kain berharap segera kering.

"Sudah, Rum. Cuma basah sedikit. Mending buatkan teh saja," ucap Zuhan sembari menyodorkan gelas kecil padanya.

"I-iya, Pak."

Tiba di dapur, keterkejutannya bertambah parah. Bagaimana tidak? Ia disuguhkan pemandangan yang justru membuat hatinya semakin meronta-ronta. Syafiq berdiri dengan gagah sembari mengaduk segelas teh hangat. Ah, rupanya, dua lelaki di rumah ini memang terbiasa melakukan segala hal sendiri sejak kepergian Uminya.

"Arumi? Ada apa?"

Arum yang sedari tadi berdiri di ambang pintu tersentak seketika mendengar pertanyaan Syafiq. Ia menggeleng sungkan dan berjalan masuk perlahan. Tangannya sedikit gemetar saat mencuci gelas milik Zuhan. Sesekali, perempuan itu berdehem, mencoba memusnahkan kecanggungan. Kini, ia mulai melarutkan sesendok gula dalam teh panas yang telah dibuat. Terlohat dari cara mengaduknya yang teramat cepat, bisa dipastikan bahwa istri Zuhan itu sedang terburu-buru. Ah, bukan, tepatnya, ingin segera pergi, menghindari lelaki yang masih setia berdiri tak jauh darinya.

"Kak Zuhan itu sukanya teh susu. Gulanya juga sedikit saja, lebih suka manis alami dari susu," jelas Syafiq dan mengambil alih gelas Arum tanpa permisi.

Sementara Arum hanya mampu berdiri kikuk, mengamati tiap pergerakan Syafiq. Ia cermati dalam-dalam tiap takaran gula serta susu yang dilarutkan bersama teh. Sejenak, ia merutuki kebodohannya. Pantaskah seorang istri tak mengerti kebiasaan sang suami?


"Silahkan, kak Zuhan pasti makin suka," ucap Syafiq dan langsung keluar, menyisakan Arum yang semakin menunduk.

"Astaghfirullah, istri macam apa Arum ini?" tanyanya pada diri sendiri.

Ruang makan mendadak hening. Semua yang tengah menyantap makanan tak mengeluarkan suara selain dentingan sendok pada piring. Namun, itu tak berlaku untuk Arum. Perempuan itu memang terlihat makan dengan tenang, tetapi dadanya riuh dengan kegelisahan. Entah sebab apa, yang pasti nama Syafiq ikut terselip di hatinya. Tetiba ia mengingat adegan singkat di dapur tadi, di mana pria yang masih menempati posisi nomor satu hatinya mengajarinya cara membuat minuman untuk sosok suami.

"Yang buat teh tadi siapa, Rum?" bisik Zuhan tepat di telinga kirinya.

Mendadak lidahnya kelu, membuat dirinya tak lagi piawai merangkai kata. Sungguh, ia bingung harus menjawab apa. Maka, diam dan menunduk adalah satu-satunya cara.

"Mesra-mesraannya kalau di kamar aja, Han. Ada jomblo di sini."

Guyonan Abah Umar membuat semua yang ada dalam ruangan terkekeh ringan, pun Arum ikut tersenyum sungkan alih-alih membuang perasaan gugup. Ah, ternyata, Arum cukup pandai menyembunyikan segala hal yang berhubungan dengan perasaan. Namun, sepertinya, Zuhan mampu membacanya tanpa bertanya, terlihat dari caranya menatap dan berbicara pada sang istri.

Usai makan, Arum dan Zuhan kembali ke kamar, guna mengemas keperluan mengajar. Saat tengah memasukkan beberapa dokumen suaminya, ia terkejut saat tepukan pelan mendarat di pundak kirinya. Rupanya, sang suami yang telah melakukannya dan duduk bersebelahan dengannya.

"Sebenernya, aku tahu siapa yang membuat teh tadi."


Ungkapan Zuhan membuat Arum semakin kikuk. Bukan apa-apa, hanya saja, ia takut terjadi kesalahpahaman. "A-Arum, Pak. Memangnya siapa lagi?" kilahnya gugup.

"Selain aku, hanya adikku yang tahu kebiasaanku. Setiap tetes rasa teh yang kuminum tadi ada racikan Syafiq. Bener, kan?"

"Mas Syafiq sendiri yang membuat, Pak. Arum nggak memintanya. Beneran."

"Maksudnya?"

"Tadi, Mas Syafiq langsung ambil gelasnya dan mengajari Arum."

Entah benar apa salah yang diucapkan, yang pasti, kali ini, ia mendapati Zuhan menatapnya sedikit tajam. Sejenak, rasa takut melindas dada. Sungguh, perempuan itu tak mau lagi menciptakan luka di hati suaminya meski kenyataannya hatinya sendiri pun masih menyimpan duka.

"Masuk dan kunci kamarnya, Rum!" titah Zuhan datar, tetapi begitu tegas.

"Hah?"

"Arumi Khadijah, tutup dan kunci sekarang!"

Detak jantungnya tetiba bekerja dua kali lebih cepat. Ia sama sekali tak mampu berbuat apa-apa selain melakukan perintah Zuhan. Usai menutup pintu, Arum berdiri di dekat Zuhan dengan tubuh gemetar. Sejenak, ia menghirup napas dalam dan membuangnya pelan. Relax, Rum, begitulah titahnya dalam hati.

"Ada apa, Pak? Pak Zuhan nggak ngajar?" tanyanya mencoba memecah keheningan.

"Ya, ngajar. Aku mau mengajari istriku banyak hal, termasuk segala hal yang disukai dan tidak disukai suaminya," jawab Zuhan sembari menatap istrinya dalam.

"M-maksudnya?"

"Rum, apa kamu lebih suka diajari Syafiq?"

Pertanyaan biasa, tetapi begitu menyiksa. Kenyataannya, Arum masih begitu menyukai apapun tentang Syafiq Albana. Terlebih saat berdekatan dengan lelaki itu, debaran dalam dada masih begitu kuat.

"Duduklah, aku kasih tahu semua tentang diriku."

Kali ini, Zuhan berperan sebagai penutur segala kisah. Ah, bukan kisah melainkan informasi detail menyangkut kebiasaannya selama ini. Sesekali, Arum menulisnya dalam buku catatan kecil. Katanya, ia takut lupa dan membuat kesalahan lagi.

Sesaat, perempuan itu merasa lega mendengar penuturan suaminya. Ia pun beringsut dan mengecup punggung tangan Zuhan seraya memohon maaf. "Maafkan, Arum, Pak. Arum akan berusaha lagi menjadi istri yang baik."

"Sudah, nggak apa-apa. Yang harus kamu tahu sekarang, dalam diriku ada sebagian tanggung jawab atas orang lain, pun sebaliknya. Ada seseorang yang di dalamnya terdapat keharusan bertanggung jawab atas diriku. Orang itu adalah kamu, istriku," balas Zuhan disertai kecupan singkat di kening Arum.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42