Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 16

 

#Tulang_Rusuk

Judul : Tulang Rusuk


Genre : Romance-Religi


Part 16 : Back to Jakarta

Pagi yang indah, Arum dan Zuhan duduk berdampingan dalam kendaraan hitam. Seperti rencananya, keduanya telah siap membelah kota Jogja, menyusuri tiap likukan jalan menuju kota Jakarta. Alunan lagu nasyid menggema, menggetarkan jiwa. Perempuan berkerudung peach itu begitu menikmatinya sembari mengangguk-anggukkan kepala.

Zuhan yang sibuk mengemudi itu sesekali terkekeh pelan sedang Arum mencubit lengannya saat menyadari siapa yang ditertawakan. Ah, keduanya mulai memainkan peran seperti dalam drama-drama korea meski tak seromantis yang mereka pertontonkan. Kembali ke aktivitas awal, perempuan itu hanyut bersama nyanyian.

"Mau mampir makan, Rum?" tanya Zuhan membuatnya berhenti bersenandung.

"Nggak usah, Pak. Tadi, Arum sudah menyiapkan bekal buat kita berdua."

"Terus?"

"Kita makan di mobil saja."

Ide cemerlang. Selagi ada tempat gratis untuk menciptakan suasana romantis, kenapa harus cari yang lain? Lelaki itu tersenyum dan menepikan mobil. Benar saja, tangan Arum lihai menjajahi box putih berukuran sedang yang tersimpan di kursi belakang. Tampak rantang merah tersusun rapi. Dibukanya setiap wadah itu dan menampakkan beberapa sajian lezat. Sambal terasi ala Arumi, nugget ayam, tumis kangkung, dan dua bungkus nasi yang dibeli di sekitar hotel.

"Seadanya ya, Pak. Di kulkas cuma nemu ini," ucap Arum sembari menunjuk semua hidangan.

"Lagi pula, kamu bisa beli, kenapa harus masak?"

"Ini bukti baktiku padamu, Pak." Lihat! Arum menjawab malu-malu.

Melihat itu, Zuhan hanyut dalam senyumnya. Menggemaskan sekali, begitulah batin lelaki itu. "Maasyaa Allah, ternyata istriku sweet sekali."

Pembukaan indah untuk mengawali hari dan mengisi amunisi. Keduanya pun melahap hidangan tanpa beban. Udara di sekitar jalanan kota gudeg menjadi saksi bisu kebersamaannya. Rupanya, impian Zuhan berbuah nyata, meninggalkan kota pendidikan dengan jejak kenangan indah.

Usai makan, mereka melanjutkan perjalanan hingga 8 jam lamanya. Kini, keduanya telah berada dalam ruangan bernuasa putih abu. Arum dan Zuhan duduk berhadapan dengan pria baruh baya berusia 50 tahunan. Tampak sosok yang dipanggil Abah itu menatap keduanya bergantian.

"Kenapa mendadak pulang, Han?"

"Ada urusan, Bah."

"Pasti cuma alasan. Sabar ya, Rum. Zuhan memang gila kerja."

"Nggih, Bah." Arum bangkit dan mengambil beberapa bingkisan dari koper. "Ini ada oleh-oleh untuk Abah. Yang ini..." ia melirik Zuhan sebentar dan dibalas anggukan. Setelahnya, Arum memberikan sebuah box kecil berbalut kertas cokelat pada Syafiq. "Ini untuk Mas Syafiq."

Tampak lelaki itu menatapnya lekat sedang Arum seketika menundukkan pandangan. Deheman Zuhan menyadarkan sang adik dari lamunan dan segera mengambil bingkisan di tangan perempuan di depannya.

Lupakan bagaimana pelik pikiran tiga anak Adam itu. Sore ini, udara di taman belakang begitu syahdu. Istri dari Zuhan duduk di gazebo sembari menyedu cokelat hangat. Katanya, hati dan pikiran butuh dihangatkan. Ah, pikiran macam apa itu? Entahlah, hari-hari Arum mulai berubah, banyak warna yang membersamainya.

"Arumi, sedang apa?"

Lihat! Perempuan itu tersedak begitu saja saat suara seorang lelaki terdengar menggelegar. Ada getaran dalam dada, tetapi ia mati-matian menepisnya. Dalam suasana pelik seperti ini, ia berusaha mengingat nama Zuhan agar tak lupa daratan.

'Astaghfirullah, relax, Rum! Kamu udah punya suami ganteng,' tenangnya dalam hati.

"Eh, M-mas. Ada apa?" Sesantai apapu Arum berusaha, ucapan itu tetap terdengar terbata.

"Udaranya dingin, Rum. Masuk, gih!"

"Iya, Mas."

Tanpa pikir panjang, Arum melenggang masuk begitu saja, menyisakan Syafiq yang mungkin sibuk mengusir sesak di dada. Ah, bahkan hatinya jauh lebih sesak. Namun, sekali lagi, istri dari Zuhan berusaha keras untuk mengikis jarak. Tak hanya jarak melainkan juga menghapus kenangan-kenangan yang masih membekas.

Dalam kamar, pria yang menyandang status sebagai suami Arum fokus menatap layar benda persegi berwarna hitam. Jemarinya begitu lihai memainkan keyboard hingga tak sadar sang istri telah berdiri tak jauh dari hadapannya. Sedang perempuan itu menetralkan hati dan pikiran. Ia menghirup napas dalam dan mengeluarkan perlahan.

"Pak, lagi sibuk?" tanyanya sesantai mungkin.

"Hmm."

Bolehkah ia marah sekarang? Saat ia benar-benar berusaha mencari perhatian dan kenyamanan, justru kata singkat dan mengecewakan yang didapat. Ah, konyol sekali!



"Kok jawabnya gitu, Pak?"

Zuhan menatapnya datar dan kembali lagi berkutat dengan laptop. "Terus mau gimana?"

"Ya.. yang manis seperti biasa."

Kali ini, Arum begitu kikuk dan malu mengatakannya seolah memelas dan memohon kasih sayangnya. Lihat! Ia semakin menunduk saat Zuhan berdiri, memperpendek jarak.

"Kalau begitu, jangan bersikap terlalu manis pada pria lain selain suamimu."

Ucapan itu begitu menohok. Namun, sekarang terasa menenangkan saat tangan kekar sang pria menyentuh bahunya, menuntunnya untuk duduk bersebelahan.

"Maaf, Pak. Tadi, Arum duduk-duduk saja. Tiba-tiba, Mas Syafiq datang."

Melihat wajah Arum yang memelas, Zuhan justru tertawa lebar dan merengkuhnya penuh cinta. "Nggak usah mellow, Rum. Aku cuma bercanda."

"Pak Zuhan ngeselin."

Diam-diam, Arum mengucap syukur dalam hati. Ada harap bahwa nama pria di sampingnya segera tersimpan rapat, menggantikan posisi Syafiq. Dua insan itu asyik bersendau gurau, menceritakan segala hal yang menimbulkan tawa. Bising suara kipas menambah keramaian dalam ruangan, membersamai segala candaan dua insan.

"Ekhem."

Tetiba Arum terdiam, mencoba menormalkan nafas yang terasa sesak dan tertahan. Ah, kenapa sesulit itu meneguhkan pendirian? Ia ingin menoleh, tetapi begitu sulit sedang Zuhan menggenggam erat jemarinya, mencoba menenangkan. Gagal. Usaha lelaki itu gagal. Nyatanya, ia tetap terkungkung dalam kegelisahan.

"Maaf, kak. Syafiq butuh bantuan sebentar."

"Masuk saja, Fiq!"

Arum melongo seketika mendengar ucapan suaminya. Jantungya sudah tak karuan saat penyandang nama Syafiq masuk dalam kamar, tempatnya beradu kisah dan kasih bersama Zuhan. Kali ini, ia mencoba berdiri dan beranjak keluar.

"A-Arum keluar sebentar."

Langkahnya terhenti saat pergelangan tangannya dicekal paksa oleh Zuhan. Lutut terasa lemas sedang nafasnya sudah tak beraturan.

"Jangan kabur, Rum. Duduklah!"

Skakmat! Arum tidak bisa membantah. Bahkan untuk berkata tidak pun begitu susah. Rasanya, dunia runtuh. Namun, tak bisa disangkal, perempuan itu menikmati setiap getaran yang menyelinap di hati. Sejenak, ia beristighfar, merutuki segala kekonyolannya. Arum pun duduk, begitu dekat dengan Zuhan. Ia mencondongkan wajah dan berbisik begitu lirih pada suaminya.

"Njenengan sengaja ya, Pak? Arum bisa mati pelan-pelan di sini."

"Tenang, relax! Sebut saja namaku dalam hati," bisik Zuhan begitu santai.

💕💕

Yeaayy.. Arum & Zuhan datang sebagai penawar rindu kalian. Maaf ya, teman-teman, baru bisa post. Mohon sabar juga ya, karena cerita ini masih slow update. Mungkin dua hari sekali 🤭. Trimakasih telah merindukanku, eh Arum & Zuhan 🥰.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42