Tulang Rusuk Part 13
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Genre : Romance-Religi
Part 13 [Luka]
Dalam kamar, dua insan saling diam di atas ranjang. Sinarnya lampu yang menggantung di dinding tak menambah hawa kehangatan. Warna-warni bunga hias yang tertata di atas rak kaca sama sekali tak menciptakan suasana romantis. Dingin, seolah itu yang hingap dalam hati masing-masing. Entah apa sebabnya, yang pasti, Arumi lah yang terlebih dulu memulai.
"Batik resto itu tempat favoritku dengan anak-anak kuliahan. Selain konsep desain yang bagus, taste makanannya juga tida bisa diragukan lagi. Kapan-kapan deh, aku ajak ke sana."
Dengan tidur menyamping, memunggungi Zuhan, Arum mengingat satu jam kebersamaan dengan Syafiq meski sekedar berbincang. Sejak pulang dari restaurant, gadis itu sedikit murung. Aneh memang. Padahal, Zuhan mati-matian menjaga sikap dan lisan namun hatinya hanya tersentil sedikit dan kembali tertutup. Rupanya, nama Syafiq masih menempati posisi terbanyak di hatinya.
'Pak Zuhan sangat baik, tp kalah dengan cinta Mas Syafiq,' batinnya lirih.
Kali ini, ia bangun dan melangkah ke sebuah lemari. Ia membuka perlahan pintu hingga mendapati tas kecil berwarna hitam. Sesaat, gadis itu melirik, memastikan bahwa Zuhan benar-benar terpejam. Setelahnya, ia kembali menjamah wadah itu dan memgambil kertas kecil yang ia simpan sejak beberapa tahun yang lalu.
'Syafiq Albana'
Ah, ternyata, itu kertas pemberian Syafiq di awal-awal perkenalan dulu. Penyandang nama Arumi memandang deretan kata indah itu dengan mata yang sudah basah. Ah, ia menahan sesak agar tak ada isakan yang keluar. Bjar saja hatinya yang merintih kesakitan asal sosok suami itu tak mendengar.
"Kenapa namamu selalu muncul?"
"Karena kamu belum rela melepasnya."
Deg
Suara itu, lelaki yang telah berstatus sebagai imam halalnya berbisik tepat di telinga kanan. Tubuhnya menegang seketika dengan jantung yang bisa saja lepas kapanpun. Sungguh, ia tak bermaksud melukai lagi hati pria jelmaan malaikat itu. Ah, akankah ada siksaan batin kembali setelah keduanya bersusah payah saling bergenggaman?
"P-pak?"
Tak menjawab, Zuhan menuntun Arum tuk berdiri. Direngkuhnya bahu itu dan berjalan ke arah ranjang. Lihat! Lutut gadis itu terasa lemas hingga marangkak ke bed king size pun tak mampu. Ia hanya berdiri mematung sembari meraba bagaimana hancurnya perasaan Zuhan sekarang. Lagi, pria itu terus menjadi penuntunnya dan keduanya telah duduk berhadapan.
"Dengar ini!" Zuhan meraih tangan Arum dan diletakkan tepat di dadanya. Terasa denyut janting iti begitu kerasa dna cepat. "Bisa merasakan detakannya?" Yang ditanya hanya mengangguk.
"Sekeras dan secepat itulah aku menyimpan namamu di sini. Tak ada apapun selain ketulusan dan itu hanya untukmu."
Air mata itu lolos seketika dari netra sosok Khadijah. Isakan itu mulai terdengar dengan bahu bergetar. "Maaf, Pak."
"Berdoalah semoga aku tidak menyerah secepat itu."
Kalimat singkat tanpa dibarengi senyuman. Arum merasakan tamparan keras apalagi lelaki itu langsung berbaring tanpa aba-aba seperti biasa. Mungkin, itu juga yang dirasakan Zuhan saat harus berjuang sendiri tanpa ada yang mengimbangi. Lelah, sakit, bahkan terombang-ambing.
Tangan perempuan itu terangkat, ingin sekali membelai wajahnya sembari berucap maaf hingga ribuan kali. Ah, nyalinya terlalu ciut hingga ia pun ikut berbaring membelakanginya. Jemarinya bergetar saat mengusap air mata. Bibirnya tertahan agar tak ada lagi rintihan. Salah. Lihat saja bahunya! Getaran semakin nyata pertanda bahwa ia benar-benar meringkuk kesakitan.
"Sesakit ini memaksakan sesuatu yang tak diinginkan." Ia masih terisak dan berucap sangat pelan. "Bantu hamba hapus nama Mas Syafiq ya Allah, agar hanya ada nama Pak Zuhan di hati ini."
Tampak kasur itu bergerak dengan Zuhan berbalik dan memandangi punggung sang istri. Jika kamu berpikir ia tidur dengan mudahnya, maaf, dugaan itu sungguh keliru. Lelaki itu tak bisa tenang dengan keaadaan yang runyam. Tanpa izin dan rasa sungkan, ia segera memeluk pinggang ramping istri sembari mencium bahunya penuh kasih.
"Izinkan aku memelukmu malam ini. Dengan begitu, aku akan kuat dan bertahan."
Rengkuhan yang mengejutkan sekaligus menghangatkan. Arum berbalik dengan derai air mata yang sudah penuh di wajah ayunya. Ia berucap maaf berkali-berkali, berharap sang suami masih menaruh ridho atasnya.
"Sudah, jangan menangis! Tidurlah, ada hari esok yang harus kita lewati bersama," titahnya sembari mengelus rambut Arumi pelan.
💕💕
Yuhuuu.. maaf lama gak update cz sedang kejar setoran 😁😁. Arumi dan Pak Zuhan sedang bersedih, doakan hubungannya segera membaik yaa, karena melupakan cinta pertama itu sangatlah sulit wkwkw
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar