Tulang Rusuk Part 12
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tulang Rusuk -> Part 12
Karya: ZahidahHM
Sabtu pagi, Arumi duduk di kursi depan laci sambil menimang-nimang kertas pemberian Abah. Ditatapnya lekat gambar candi Prambanan beserta tempat wisata lainnya yang tampak indah. Perempuan itu mendengus sebal. Bukan tak suka, hanya saja, tempat itu hanya akan memperkeruh keadaan hatinya. Apalagi kalau tidak berhubungan dengan cinta dalam diamnya?
"Pak, yakin mau ke Jogja?" tanyanya pada Zuhan yang sedang asyik mengepak pakaian dalam koper kecil.
Disela kegiatannya, pria itu memandangnya sebentar dan kembali lagi memasukkan baju-baju yang hendak dibawa ke Jogja. "Mau gimana lagi, Rum? Abah sudah menyiapkan semua."
Merasa bingung, istri Zuhan mendekat dan membantunya merapikan pakaian serta kebutuhan travelling lainnya.
"Kenapa harus Abah? Kenapa nggak kita sendiri?" tanyanya heran.
"Mungkin Abah tau kalau kita nggak mungkin mikir sejauh itu."
Ah, jawaban itu sangatlah santai namun berhasil mengoyak hati penyandang nama Khadijah. Ia menutup koper dengan kasar sembari menggerutu sebal.
"Bukan kita, tapi Anda, Pak Dosen."
"Kenapa jadi aku yang disalahkan?"
"Ada tidaknya bulan madu itu tergantung inisiatif suami."
"Ada tidaknya inisiatif suami itu tergantung dukungan istri."
Saling bantah namun keduanya beku seketika. Jaraknya teramat dekat, tak ada lima centi meter. Canggung. Itu yang Arum rasakan. Sesaat, ia tersadar dan memundurkan wajah ke belakang. Dengan susah payah, perempuan itu berdiri sedang Zuhan memasang wajah sungkan.
"Arum keluar, Pak," ucapnya sedikit ketus.
"Kenapa?"
"Gerah." Benar saja, tanpa babibu, Arumi Khadijah melenggang keluar menyisakan Zuhan yang tersenyum penuh kemenangan.
"Kenapa jadi gila begini sih kalau sama Arum?" monolognya sembari tersenyum dan menggeleng-gelengkan kepala.
Kembali lagi pada Arumi, kini, dia sedang berjalan menuju taman belakang. Asyik menggerutu karena kekonyolannya dengan Zuhan, gadis bergamis hitam itu tak sadar menabrak sosok kekar idamannya. Matanya membelalak saat dirinya hampir terjungkal namun Syafiq sigap menopangnya.
"Eh, m-maaf, Mas." Arum segera berdiri tegak sembari membenarkan pakaiannya yang sebenarnya masih terlihat rapi.
Sadar akan kenyataan bahwa yang ada dihadapannya bukan lagi gadis yang bisa ia khitbah, Syafiq berusaha menetralkan hati.
"Nggak apa-apa. Kamu mau ngapain? Kak Zuhan mana?"
"Di kamar."
"Rum, nanti be-"
Teriakan yang mulanya terdengar keras dari dalam langsung berhenti mendadak saat telah sampai di teras belakang. Bisa dipastikan, lelaki yang memanggil Arum itu berdiri kaku karena mendapati sang istri yang berbincang-bincang dengan pemuda lain.
"Pak, tunggu! Permisi, Mas." Arum berlari masuk ke dalam saat melihat Zuhan melenggang begitu saja tanpa melanjutkan perkataannya.
Tiba di kamar, ia melihat Zuhan yang sudsh duduk di sofa dengan beberapa map hijau. Rupanya, lelaki itu sedang merapikan berkas-berkas penting para mahasiswa. Dengan segera, gadis yang sedang resah itu duduk di sebelahnya. Ia gugup mau berujar apa. Setelahnya, tangan yang terasa dingin itu menepuk bahu Zuhan singkat.
"Pak, maaf," cicitnya pelan.
"Hmm."
Sudah bersikap baik tapi balasannya cuek, menyakitkan sekali, kan?
"Jangan hmm aja, Pak! Sariawan?"
"Ngomong apa sih, Rum? Suamimu lagi sibuk ini."
Zuhan menjawab sekenanya tanpa memandang. Lelaki itu masih asyik menata lembaran-lembaran dalam map yang sedikit berantakan.
"Tadi itu nggak seperti yang Pak Zuhan pikirkan."
Seketika suaminya menoleh heran. "Emang aku mikir apa?"
Takut salah, Arum menunduk kikuk. "Ya mikir yang tidak-tidak, Pak."
Usai sudah aktivitas menata berkas. Kini, dosen itu memandang Arumi lekat. "Maksudnya?"
"Pak Zuhan cemburu, nggak?" tanyanya to the point.
Gemas. Zuhan mengacak hijabnya dan berbisik pelan.
"Sangat." Lelaki itu langsung keluar sembari mengembangkan senyuman.
***
Sesuai kesepakatan, detik ini, Sabtu, jam 1 siang, Arum dan Zuhan telah duduk di sebuah mobil hitam milik Abah Umar. Keduanya berangkat menuju kota pendidikan, Jogja. Bukan untuk urusan study melainkan bulan madu. Ah, mengingat itu, Arum ingin tertawa. Selama perjalanan, musik menemani sehingga tak ada keheningan. Zuhan terlalu fokus mengemudi sedang gadis itu dilanda bosan.
Kali ini, ia lelah, disenderkan kepalanya pada bahu suami yang masih diam tanpa kata. Ia tak peduli bagaimana respons lelakinya nanti. Yang pasti, ia butuh tempat untuk bersandar. Tak selang lama, Arum memejamkan mata dengan wajah yang sangat menenangkan. Menyadari itu, Zuhan mengelusnya pelan. Tanganya menyelipkan anak rambut di belakang telinga.
"Ternyata, kalau tidur, kamu cantik juga, Rum." Ia terdiam dan fokus ke depan. Setelahnya, ia kembali lagi menoleh dan mengelus kepalanya pelan.
"Semoga setelah ini, hanya ada namaku di hatimu."
Hampir 5 jam berlalu, tepat jam 17.30, Zuhan telah menepikan mobil di depan bangunan megah bertuliskan Hotel Neo Malioboro. Shanum masih nampak pulas sedang lelaki itu turun mengurus segala adminitrasi. 10 menit, waktu yang singkat untuk mengatur segala keperluan hotel.
Kini, ia begitu bingung saat perempuan yang masih terbuai di alam mimpi tak kunjung bangun. Tak ada pilihan selain menggendong. Dengan jantung yang tak normal detaknya ditambah getaran-getaran halus di tiap jemarinya, ia meraih tubuh sang istri dan segera membopong menuju kamar.
"Lho, dimana ini, Pak?" tanya Arum setelah tertidur di ruang baru selama 15 menit.
"Di kamar."
"Oh, hotel. Kok nggak bangunin Arum? Artinya... tadi Pak Zuhan gendong Arum sampai sini?"
Lelaki itu mengangguk mantap sedang Arum menunduk dalam. "Malu, Pak."
"Sama suami sendiri kok malu."
Zuhan mendekat, membangunkan istrinya dengan pelan. Ia memposisikan Arum memandang ke depan, memunggunginya sedang tangan Zuhan lihai mengikat rambut yang sudah tergerai acak-acakan.
"Sudah rapi. Cepet mandi, habis itu keluar setelah sholat maghrib."
Lihat! Arum melongo tak berkedip. 'Kenapa sikapnya begitu lembut? Arum jadi baper,' batinnya terkekeh.
Sesuai janji, kini, keduanya memasuki sebuah restaurant yang tak jauh dari Hotel juga Malioboro. Tertulis Batik Resto pada bangunan depan. Benar sekali, konsep unik dengan desain batik. Arum masuk dengan mata liar yang tak berhenti memandang ke sana kemari. Keduanya duduk tepat di samping jendela dengan kesan yang sangat epic.
"Wow, unik ya, Pak. Semua tertata rapi dengan desain batik."
"Ada banyak tempat indah di sini. Aku akan mengajakmu keliling sepuasnya selama liburan ini."
Diam menunduk. Ucapan itu menohok dan mengingatnya pada seseorang yang teramat ia cintai sebelumnya. Menyadari raut wajah istrinya, Zuhan menatap dalam dan bertanya pelan.
"Ada apa?"
"Eh, nggak, Pak," kilahnya dengan wajah yang menampakkan kegugupan.
"Kamu ingat Syafiq?"
Arum membelalakkan mata sesaat dan kembali menunduk. "Kenapa harus menyebutnya, Pak?"
"Katakan apa yang membuatmu ingat padanya sekarang."
Ah, perintah dari Zuhan membuat gadis itu berjelajah dengan janjian pertamanta dengan Syafiq di taman kota. Ya, pada saat itu pula, ia terpaksa mengubur mimpi indah bersama orang yang dicintai karena terlanjur menerima pinangan Zuhan.
"Jogja itu indah ya, Mas?"
"Sangat. Kamu belum pernah ke sana?"
"Belum."
"Suatu saat, aku ingin mengajakmu berkeliling ke kota pendidikan itu."
Mendengar kisah yang dituturkan sang istri, ada rasa perih dalam hati. Tak apa, setidaknya, Arum masih sudi berbagi meski hanya rasa sakit. Ada harap bahwa suatu saat mereka akan berbagi rasa bahagia.
"Masih belum ikhlas?" tanya Zuhan lirih.
"Berusaha, Pak," jawab Arum sembari menunduk.
Setelahnya, ia kembali mendongak dan berusaha memasang wajah sumringah. "Sudah, kenapa jadi mellow? Ayo, makan terus jalan-jalan!"
"Aku tau kamu sedang pura-pura, Rum."
Tangan Zuhan yang mulanya berada di pangkuan kini terulur di atas meja. Tanpa ragu, ia mengenggam erat jemari Arum sedang yang dipegang menerima tanpa berontak.
"Satu-satunya hubungan yang dijamin tidak akan membuatmu tersakiti adalah hubungan yang terjalin antara kamu dan Allah. Hubungan itu adalah pernikahan. Arum paham?"
Hatinya menghangat seketika ditambah genggaman Zuhan yang semakin menenangkan. Entah hilang kemana rasa sakit itu. Yang pasti, ada rasa damai walau sedikit.
"Paham, Pak. Maafkan Arum."
"Bismillah, kita pasti bisa meraih surga bersama."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar