Tulang Rusuk Part 11
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Tulang Rusuk -> Part 11
Karya: ZahidahHM
Tiap gerakan takbir menggetarkan jiwa Arumi Khadijah. Lantunan ayat dengan merdunya suara Zuhan menembus relung hatinya. Entah hilang kemana rasa khusyu' itu. Yang pasti, ia terbuai dengan bacaan sosok imam yang terdengar lembut lagi fasih. Kali ini, gadis itu menangis dalam setiap irama doa. Usai bermunajat, Zuhan berbalik arah dan menghadapnya sedang Arum mendekat sembari mengulurkan tangan dan diciumnya penuh haru.
"Kalau ngantuk, langsung tidur aja, Rum. Saya mau ke kamar Abah dulu," ucapnya sembari melepas tali mukenah yang Arum kenakan.
Ia mengangguk cepat. Tangan Zuhan masih lihai melepaskan kain suci yang menutupi mahkota indahnya. Hingga terbuka sempurna rambut hitam legam yang sedikit bergelombang, lelaki itu tersenyum manis. Ditatapnya manik mata hitam itu sembari mendekatkan wajah perlahan. Ah, Arum tak bisa berkutik saat kecupan singkat menempel di kening.
Setelahnya, sosok bertubuh tinggi tegap itu berdiri namun Arum segera mencekal tangannya. Seperti drama india dengan iringan musik romantis, sangat indah, bukan?
"Pak!"
Yang dipanggil kembali menoleh dan menatapnya heran. "Kenapa?"
"Arum nggak mau ada drama seperti kemarin malam. Jadi..."
"Jadi?"
Gadis dengan rambut tergerai itu menunduk dalam.
"Kita ... kita sama-sama tidur di situ," ucapnya sembari menunjuk ranjang berukuran sedang.
Zuhan tersenyum hangat dan mengelus kepalanya singkat. "Lihat nanti."
Tersislah Arum yang menatap punggung Zuhan menghilang di balik pintu.
"Dosen nyebelin, dingin kayak kulkas" Rupanya, dia menggerutu akan sikap Zuhan yang begitu pasrah tanpa beban. "Beda banget ya sama Mas Syafiq. Astaghfirullah!" Menyadari itu salah, ia segera membekap mulutnya.
Jarum jam dinding sudah menunjuk ke angka 10. Perempuan yang berbaring tak tenang itu sedikit menyipit menatap celah pintu yang belum tertutup rapat. Sesungguhnya, ia sedang menunggu sedang yang ditunggu tak kunjung datang. Lelah, kantuk semakin nenyerang, matanya tak kuat lagi jika harus terbuka lebar. Kini, ia tertidur dengan posisi terlentang tanpa selimut yang membalut tubuh.
Ditemani dinginnya angin malam, setelah tertidur sekitar 3 jam, mata Arum kembali terbuka. Detik ini, ia membeku saat menyadari bahwa dirinya berada dalam dekapan Zuhan. Tangan kekar suaminya tampak melingkar kuat di area pinggangnya yang ramping. Gadis itu semakin membelalak saat mengetahui bahwa tangannya pun berlaku demikian, membalas dekapan.
'Ya Allah, kenapa posisinya jadi seperti ini?' tanyanya dalam hati sembari berusaha melepas rengkuhan itu. Bukan tak suka, hanya saja, ia gugup luar biasa.
"Tidur, Rum. Masih malam." Ah, rupanya Zuhan merancau dengan mata yang masih terpejam.
Tak ada pilihan, memberontak pun ia tak kuat. Maka, pilihan satu-satunya adalah pasrah dan tidur dengan membenamkan wajah pada dada bidang lelakinya.
Lupakan bagaimana keduanya menjalani tidur malam!
Kini, mentari telah bertengger dengan sinar dan keindahannya. Arum berkutat dengan bahan dan peralatan dapur sedang Zuhan duduk menopang dagu sembari menatapnya dari kejauhan. Sesekali, mata perempuan itu melirik ke arah pria yang tak lelah mengawasi setiap pergarakannya. Gerogi, seolah sedang melaksanakan ujian praktik tepat di hadapan penguji.
Perempuan berumur 21an itu cukup cekatan. Terbukti, hanya dalam waktu singkat makanan telah siap. Kini, ia berjalan ke arah Zuhan dengan membawa sajian. Piring di genggaman hampir terjatuh begitu saja saat manik hitam pria itu semakin masuk.
"Kenapa kok nunduk terus?"
"Nggak apa-apa, Pak. A-arum panggil Abah dulu buat sarapan." Arum beranjak namun berhenti lagi saat suara Zuhan memanggil namanya.
"Rum!" Lelaki itu berdehem. "Sekalian Syafiq."
Dengan jantung berdetak tak menentu, ia menagngguk menuruti perintah suami. Ia berjalan sangat lambat berharap yang akan dipanggil segera keluar. Tepat sekali! Sosok Syafiq datang dengan kaos lengan pendek berwarna cokelat. Arum kikuk saat berpapasan dengannya. Lalu, ia menepis segala pikiran kotor dan berlanjut memanggil Abah Umar.
Kini, 3 lelaki dan 1 perempuan berkumpul di meja makan. Keempatnya menyantap makanan dengan nikmat. Sesekali, Zuhan menciptakan obrolan ringan yang dibalas kekehan-kekehan dari keluarga.
"Han, cuti berapa hari?" tanya Abah Umar saat selesai makan.
"Satu minggu saja, Bah."
Kini, arah pandang lelaki tua itu beralih ke perempuan yanh duduk di samping Zuhan. "Kalau Arum?"
"Arum libur, Bah. Tinggal skripsian saja."
"Baguslah. Kalian bisa manfaatkan waktu itu untuk bulan madu."
"Uhuk."
"Kenapa, Fiq?"
"Maaf, Bah. Nasinya nyangkut." Jawaban yang cukup cringe. Lalu, ia berdiri. "Syafiq ke kamar dulu."
Dalam kamar, perempuan ayu yatim piatu itu melamun di atas ranjang. Kata-kata Abah Umar selalu muncul dalam benak. Ia menopang dagu sembari berpikir apa yang harus ia lakukan. Bulan madu? Bibirnya tersenyum sesaat. Setelahnya, perempuan itu kembali murung.
"Apa kamu memikirkan ucapan Abah?" Arum terlonjak kaget saat Zuhan sudah duduk di sebelahnya.
Sungguh, melamun membuatnya tak sadar siapa yang telah hadir. Ia pun menoleh, menatapnya penuh tanya.
"Memang Pak Zuhan nggak mikir?" tanyanya heran.
"Mikir, lah," jawabnya sangat santai.
"Terus?"
Lelaki itu berdiri sembari membereskan beberapa lembaran buku yang tergeletak di atas meja.
"Terus apanya? Kalau mau ya ayo. Kalau nggak ya di rumah aja. Gampang, kan?"
Mendengar jawaban yang terkesan pasrah akan keputusan, Arum berdecak sebal. "Ternyata Pak Zuhan itu omong doang ya."
"Maksudnya?"
"Dulu bilangnya mau berjuang untuk mendapatkan cinta Arum. Faktanya, Pak Zuhan cuma pasrah."
"Terus maunya gimana?"
Bukan menjawab, Arum berdiri dengan posisi wajah menunduk. Tangannya meremas kain gamis yang dikenakan.
"Pak."
"Ada yang ingin dikatakan?"
"Ada, tapi sebelum itu, Arum mau minta satu hal?"
"Satu hal apa?"
"Bicaranya jangan formal-formal kalau di rumah. Pakai aku-kamu saja, Pak."
"Ya udah. Cepet mau ngomong apa?"
Suasana berubah menegangkan. Jantung Arum kembali tak normal. Ia lebih menunduk dan tak bersni menatap suaminya sama sekali. Sebelum berucap, ia rapalkan basmalah agar tak timbul konflik diantara keduanya.
"Maaf ya, Pak. Arum masih sering memikirkan Mas Syafiq. Menghapus jejaknya itu sulit, Pak."
"Aku bantu." Zuhan sungguh santai menjawab dengan posisi duduk di sofa sedang Arum masih berdiri di samping ranjang.
Mendengar jawabannya yang tak menunjukkan amarah, ada rasa lega tersendiri. "Caranya?"
"Kita mulai dari awal, hanya ada aku dan kamu."
"Tapi, kalau Arum khilaf tolong dimaafkan, Pak."
"Tergantung khilafnya separah apa nanti."
"Kok gitu?"
Kini, Zuhan menatap penuh harap pada Arum. "Rum, cinta itu usaha dan kerjasama. Di sini, aku yang harus berjuang sendiri. Kalau lelah, pasti tidak ada yang menggantikan dan hubungan akan retak. Jadi, kalau kamu mau serius menguatkan hubungan ini, ayo berjuang bersama dan searah, bukan terpisah."
"Sulit, Pak. Tapi, Arum akan berusaha."
"Kamu tau, Rum. Aku suka nama Khadijah yang tersemat di belakang nama Arumi."
"Kenapa, Pak?"
"Nama adalah doa. Aku yakin, Abah pasti berdoa agar putrinya yang cantik ini mewarisi sifat Ummul Mukminin."
"M-maksudnya, Pak?"
"Sini!" Lelaki itu meminta istrinya mendekat. Arum? Tentu saja ia tak mau menolak.
Kini, Arum dan Zuhan berdiri tanpa jarak. Keduanya berhadapan. Tanpa ragu apalagi malu, direngkuhlah perempuan yang telah sah untuknya sembari mengelus kepala yang tertutup hijab berwarna gold.
"Temanilah suamimu dalam suka dan duka dan aku akan menjadikanmu ratu satu-satunya dalam hidupku." Ia berhenti sejenak, menyentuh bahu Arum agar ia bisa menatap matanya lekat.
"Seperti kata Rasul pada Bunda Khadijah, aku pun akan mengatakannya padamu."
"Apa, Pak?"
"Cintaku padamu adalah anugerah," ucapnya sangat tulus hingga membuat Arum langsung menhatuhkan kepalanya lagi pada dada bidang Zuhan.
"Ekhem. Maaf, mau nganter ini dari Abah."
Mendengar suara yang teramat ia kenal, Arum membeku namun masih berdiri kikuk dalam dekapan lelaki halalnya sedang Zuhan tampak salah tingkah dan merasa bersalah.
"Besok lagi pintunya ditutup, kak. Hargai perasaan adikmu!"
Hembusan napas terdengar menampakkan keresahan setelah masuk dan keluarnya Syafiq dari kamar tanpa aba-aba. Arum dan Zuhan saling tatap seolah sama-sama paham apa yang sedang dan akan terjadi.
"Pak..."
"Sudah, jangan dipikirkan! Dia pasti baik-baik saja."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar