Tulang Rusuk Part 43

  #Tulang_Rusuk Judul : Tulang Rusuk Part 43 : Forever Dalam ruangan seeba putih, Zuhan memandang sendu Arum yang terbaring lemah. Ia usap lembut pipi istrinya, pun mengecvp keningnya. Ada rasa haru serta sakit menyeruak, membuatnya ingin sekali menangis. Ah, bukan hanya ingin, karena kenyataannya, cairan kristal sudah mengintip di sudut mata. Gegas Zuhan mengusapnya sembari menoleh ke sembarang arah. "Yaa Fattaah ..." ucap Zuhan menahan tangis hingga tujuh kali pengulangan sembari mengusap perut Arum. "Pak, Ibu sudah terlalu lemas. Kita harus segera melakukan tindakan operasi caesar." Zuhan semakin panik, ditambah ia mengingat akan bahaya plasenta previa jika Arum memaksa untuk lahiran normal. Berkali-kali, ia membujuk, tetap gelengan kepala yang ditunjukkan Arum. "Izinkan Arum berusaha sekali lagi, Pak," mohon Arum dengan suara yang teramat pelan. "Aku mohon, Rum, jangan memaksa. Please, dengarkan aku." "Sekali ini saja...

Tulang Rusuk Part 10

 Tulang Rusuk -> Part 10

Karya: ZahudahHM


Pagi pertama Arumi Khadijah dengan status sebagai istri Arshad Zuhan. Detik ini, jemarinya memegang erat sebuah sendok abu tuk melarutkan gula serta kopi untuk suami. Sedikit uap itu menguar menembus indera penciuman. Diciumnya aroma itu dalam-dalam sembari membayangkan betapa nikmatnya meneguk secangkir kopi hitam ditemani orang terkasih.


Well, kali ini, dia benar-benar keterlaluan dalam berhalu bahwa sosok Syafiq yang telah bersanding dengannya. Kembali dikuasai rasa bersalah, gadis itu segera membereskan dapur dan menghampiri suami sahnya, Zuhan, yang sedang asyik membaca di teras setelah sarapan bersama.


"Kopinya, Pak. Biar tidak ngantuk," tawarnya sembari meletakkan cangkir putih di atas meja.


Pria itu menatap dengan senyuman hangat.


"Trimakasih, Rum. Duduk sini dulu!"


"Kenapa, Pak?"


Sejujurnya, ia sudah menduga bahwa kata itu akan keluar dari mulut Zuhan. Itulah sebabnya, Arum sudah mempersiapkan hati sedari tadi.


"Nggak apa-apa, temani saya di sini."


Arum menurut dan duduk bersebalahan dengan meja cokelat melingkar sebagai pembatas. Zuhan asyik memindai tiap kata yang tercetak dalam buku sedang gadis itu sibuk mengamankan keadaan hatinya. Percayalah! Suami Arum bukanlah pria picik hingga membiarkan sang istri duduk diam sementara dialah yang memintanya menemani. Ia hanya ingin tahu seberapa tahan sosok cantik itu mengunci mulut di hadapannya. 


Sesekali, suara deheman lolos begitu saja dari tenggorokan penyandang status dosen di Universitas Swasta ternama. Ah, gadis itu semakin menunduk sembari memainkan jari-jemarinya. Hingga beberapa menit, rasa bosan melanda hingga ia harus mendongak dan angkat bicara.


"Pak," cicitnya pelan.


"Ya, Rum?"


"Jadi pulang nanti sore?"


Entah dari mana ide pertanyaan itu muncul. Yang pasti, Arum hanya ingin berbicara dan mengusir kecanggungan.


"Kalau Arum mau. Gimana?"


"A--Arum .... manut, Pak."


Dari pertanyaan, terciptalah obrolan-obrolan ringan meski sekedar bertukar kisah seputar pendidikan. Sesekali, Zuhan tertawa lebar begitupun Arum meski itu hanya kepura-puraan. Setidaknya, ada rasa lega yang melebur separuh dari kegundahaan yang sebelumnya telah mengendap dalam jiwa. 


Satu jam berlalu, sepasang kekasih halal itu pun memutuskan masuk ruangan bernuansa ungu muda. Sosok istri itu duduk dengan gelisah sedang sang suami lihai membuka benda hitam persegi dengan lambang apel kroak. Terdengar dengusan sebal dari mulut Arumi. Merasa bingung harus berbuat apa, ponsel menjadi andalannya untuk membunuh kejenuhan. Dibukalah aplikasi biru berlambang F. Matanya mengerjap berkali-kali saat mendapati gambar seorang pria yang mencium kening wanita berhijab putih. 


"Kenapa, Rum?" 


Sontak Arum berjingkat saat Zuhan telah duduk mengintip apa yang ia lihat. Sesaat, lelaki itu tsrsenyum simpul sembari menunjuk layar ponsel milik istrinya. Sedang pemilik benda pipih itu hanya beku sembari menahan keterkejutan serta kegugupan. 


"Bagus, kan? Kalau kamu keberatan, saya ganti saja foto profilnya."


"Eh, nggak usah, Pak. Arum suka."


"Yakin?"


"B--boleh dikirim fotonya, Pak?"


"Ponselnya di laci, Rum. Ambil saja!"


Sedikit sungkan dan tak sopan memang jika mengambil dan membuka barang yang bukan merupakan miliknya. Namun, Arum tak salah karena memang Zuhan telah mengizinkan. Dengan pelan, ia menjelajahi galeri yang menampakkan deretan gambar. Matanya sibuk memindai tiap gambar dan segera menekan tombol share saat menemukan pict yang diingankan.


Setelahnya, ia mengatur wallpaper ponsel miliknya. Perfect! Kini, sekali saja dirinya atau siapapun menekan tombol on, dua anak Adam dan Hawa yang bergandengan tangan akan memanjakan mata. 


"Bagus. Saya suka."


Suara seseorang berhasil menciptakan letupan keras di dadanya. Ia terperanjat saat wajah Zuhan muncul begitu saja dari belakang punggungnya.


"Astaghfirullah, Pak Zuhan!"


"Kenapa, sih?"


"Arum kaget, Pak."


Lelaki itu terkekeh dan kembali dengan aktivitasnya. Moment singkat namun cukup mengesankan bagi Zuhan. Sesederhana ini kah cara meneguk kebahagiaan? Selama berkutat dengan laptop, bibir pria itu terus mengembang mengingat wajah menggemaskan Arum. Sesekali, ia melirik istrinya yang asyik rebahan sembari memainkan handphone.


Well, waktu berjalan tanpa jeda. Kini, siang berganti sore dengan ditandai munculnya senja. Dalam kamar sederhana, dua insan saling berbagi energi untuk mengepak berhelai-helai gamis dan himar. Sungguh tak sopan, peluh ikut andil di sela-sela kegiatan keduanya. 


"Sudah, Rum. Pakaiannya sudah banyak ini."


"Nanggung, Pak."


"Nurut, Rum! Besok kita kesini lagi ngambil yang dirasa perlu. Sekarang, bersiaplah!"


Untuk mempersingkat waktu, Arum pun segera bersiap dan berbenah diri. Hingga kumandang adzan menggema, keduanya bergegas melaksanakan 3 rakaat wajib. Sholat sudah, koper siap, kamar bersih, sempurna, kan? Kini, Arum dan Zuhan turun ke bawah tuk berpamitan pada seluruh anggota keluarga.


Lihatlah! Keponakan Hasan itu tampak murung. Ada rasa tak rela di hati meninggalkan jejak kenangan bersama orang tercinta setelah kedua orangtuanya.


"Pakdhe, Budhe, Arum pamit. Trimakasih selama ini telah merawat Arum dengan baik." 


"Cah ayu, Pakdhe pasti kangen masakanmu, nduk. Sering-sering main kesini, lho!" Hasan tampak mengelus kepalanya penuh kasih. 


Salamah ikut mendekat dan menepuk bahunya. Gadis itu beralih menatap wanita yang ia sebagai ibu penuh haru.


"Betul, Rum. Satu lagi, jadilah istri yang nurut sama suami!" pesan Budhe Salamah.


Lagi, ia hanya mengangguk. Netranya pun jatuh pada sosok berparas ayu yang memancarkan tatapan sendu. Direngkuhlah gadis itu dengan isakan kecil.


"Mbak Zulfa..."


Bukan hanya Arum, Zulfa ikut menitikkan air mata tanpa sengaja. "Sudah, Rum. Aku tidak akan berpesan apa-apa lagi. Kamu pasti ingat dengan semua nasehat-nasehatku kemarin."


"Trimakasih, Mbak."


Tak ada lagi perbincangan panjang. Keduanya mulai melakukan perjalanan menuju rumah Abah Zuhan dengan ditemani motor hitam kesayangan. Hanya butuh waktu 35 menit, hunian sedang dengan kesan asri telah nampak di depan mata. Sosok yang disebut sebagai Abah Umar telah berdiri menyambutnya hangat.


"Maasyaa Allah, Nduk. Barakallah. Langsung ajak ke kamarmu, Han."


"Nggih, Bah."


Zuhan berjalan menuju arah kamar. Sayang, langkahnya harus terhadang pemuda yang menjadi dambaan hati sosok Arumi. Mata pria itu sedikit menyalang, mendapati manik mata hitam itu benar-benar jatuh pada wajah ayu gadis yang beku di tempat. 


"Kak, A-rumi..." sapanya dengan nada lirih, menggambarkan betapa ia sedih saat ini.


"Mau kemana, Fiq?" tanyanya berusaha santai. 


Syafiq memperlihatkan beberapa kertas yang ia genggam.


"Mau ngurus berkas skripsi, kak. Aku pamit, Assalamualaikum." Tutur katanya mungkin terdengar santai namun sesungguhnya lelaki itu mati-matian menahan kegundahan. 


Sedang Arum masih membeku. Sesaat, ia sadar kala tangan kekar Zuhan menautkan jemarinya dan menggandengnya pelan munuju ruangan dengan sentuhan maskulin. Bed putih dengan selimut abu tebal yang tertata rapi menambah kesan hangat. Perpaduan abu dan putih pada dinding tanpa motif mampu menciptakan gaya epict di setiap sudut ruang. 


Bibir Arum mengembang sembari mengedarkan pandangan. Ada rasa takjub betapa suaminya mencintai keindahan dan kerapian. Ditaruhlah pouch bag kecil yang ia bawa di atas laci samping ranjang. Lelah melanda, kini, gadis itu duduk bersandar sembari tak henti-henti menatap tiap benda yang bertengger dalam kamar. 


"Kenapa, Rum?"


"Eh, nggak apa-apa, Pak. Kagum saja, Pak Zuhan sangat handal menjaga kerapian kamar," jawabnya dengan lancar.


"Saya tidak suka sesuatu yang berantakan, Rum."


Zuhan duduk dan mengeluarkan beberapa lembar kertas yang tersimpan di tumpukan map hijau.


"Percaya saja, lah."


Lihat! Lelaki itu menoleh dan mesem ke arahnya.


"Harus itu. Jangan sampai ada keraguan di hati pada suamimu."


"Eh, emm, Arum percaya, kok." Gugup, bingung, itu yang ia rasakan sekarang. "Pak Zuhan mau sesuatu?"


Masih dengan posisi yang sama, duduk dengan mata lekat menatap sosok Arumi. "Kamu mau jalan-jalan keluar? Makan atau beli apa gitu?"


"Nggak, Pak. Maksud Arum, mungkin Pak Zuhan pengen teh hangat atau apa biar Arum buatkan."


"Teh hangat saja, Rum."


Ah, membuat secangkir teh hangat untuk Zuhan akan menjadi kebiasaannya mulai detik ini. Bukan sedih, ia sungguh senang dan merasa dihargai saat yang ia perbuat diakui dan menjadi candu tersendiri. Ada harap bahwa cara ini adalah media baginya untuk menjalin hubungan yang baik dengan lelaki yang telah halal dalam hidupnya.


Teh hangat dengan aroma mewangi telah siap. Arum memasuki kamar dan menghela napas berat saat terlihat Zuhan masih sibuk dengan lembaran-lembaran di tangan. 


"Ini, Pak."


Ia meletakkan segelas teh itu di samping tas hitam sang suami. Setelahnya, ia ikut duduk di sofa abu bersebelahan dengan Zuhan. Kepalanya mendekat dengan mata melebar ingin tahu apa yang dilakukan pria itu.


"Lagi ngerjakan apa, Pak?"


"Ngurus berkas-berkas bimbingan mahasiswa."

"Kan ... lagi cuti, Pak. K--kenapa harus sibuk ngurus itu?"


Lelaki itu menoleh, menatapnya intens. "Terus mau ngapain? Coba kasih tau!"


"Eh, itu, Pak. Emm..." Ah, Arum tak mampu merangkai kata dengan baik. 


"Kenapa, Rum? Kok tegang gitu?"


Merasa tersindir,  ia berdiri.


"Arum mau tidur, Pak." 


Kakinya melangkah namun harus terhenti seketika saat tangan Zuhan telah melekat di jemarinya.


"Jangan tidur dulu, Bu Dosen!"


"A-da perlu apa lagi, Pak?"


"Sholat Isya' berjamaah. Nggak amnesia, kan?" Bisikan halus itu menyapu gendang telinga Arum sedang Zuhan asyik melangkah ke mamar mandi, meninggalkan sang istri yang tak mampu mengontrol jantungnya sendiri.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tulang Rusuk Part 43

Tulang Rusuk Part 14

Tulang Rusuk Part 42