Tulamg Rusuk Part 22
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
#Tulang_Rusuk
Judul : Tulang Rusuk
Part 22 : Menjaga Tulang Rusuk
Penentu narasi serta perjalanan cinta adalah manusia itu sendiri. Setiap insan tentunya memiliki kesadaran untuk memilah dan memilih arah serta alur cerita cinta. Entah kisah simple praktis, melankonlis, atau bahkan yang dramatis. Semua adalah hak kita sebagai si pemilik cinta, meski pada hakekatnya, Tuhan pasti ikut andil di dalamnya.
Malam menyapa, menawarkan suasana syahdu pada sepasang suami istri yang sedang bersendau gurau di depan layar kaca. Keduanya berbincang banyak hal, mulai dari kegiatan harian hingga aktivitas perkuliahan. Namun, waktu harus terpangkas mengingat sang suami harus segera keluar untuk suatu urusan.
"Mau nitip sesuatu, nggak?" tanya Zuhan pada Arum.
"Makanan yang enak-enak saja, Pak," jawab Arum sekenanya membuat pria di depannya tertawa kecil.
"Apa itu? Mau borong semua?"
"Maksud Arum, apapun yang menurut njenengan enak, Arum pasti suka."
"Yakin?"
Arum mengangguk malu sedang Zuhan mengusap kepalanya pelan. Perasaan damai hinggap ke jiwa keduanya, hingga saling tatap, mengembangkan senyuman bersamaan. Sayang, di balik kebahagiaan yang dirasakan menciptakan sebuah penderitaan. Ya, pada dia, seorang pria yang begitu sendu menatap kemesraan sang kakak bersama pasangan.
"Ekhem!"
Sementara Arum dan Zuhan menoleh seketika. Menyadari Syafiq mengamati setiap pergerakannya, Arum menunduk kikuk, pun Zuhan menggaruk tengkuk. Gugup serta malu menyapu seluruh tubuh. Bahkan, rasa bersalah juga ikut menghantui.
"Fiq, mau kemana?" tanya Zuhan sesantai mungkin.
"Ada urusan, kak. Syafiq keluar dulu. Assalamualaikum."
Lelaki itu keluar begitu saja menyisakan Arum dan Zuhan saling tatap heran sembari menjawab salam dengan nada begitu lirih. Agaknya, keduanya sangat paham apa yang dirasakan Syafiq sekarang.
"Kamu nggak apa-apa kan, Rum?" tanya Zuhan menelisik wajah sang istri.
Arum mendongak hendak menjawab. Namun, ia kalah cepat dengan sahutan Abah yang tiba-tiba datang.
"Ayo, Han. Abah tinggal dulu ya, Nduk. Pintunya dikunci," titah Abah yang sudah siap dengan seragam batiknya.
"Nggih, Bah."
Arum mendekat, mencium ta'dzim punggung Bapak mertuanya. Setelahnya, ia berjalan ke arah Zuhan, meraih tangan sang suami dan menciumnya cukup lama.
"Hati-hati, Pak. Pulangnya jangan lama-lama," ucapnya pelan.
"Ini acara temannya Abah, Rum. Jadi, yang menentukan pulang cepet atau tidaknya ya Abah."
Perempuan itu mengangguk paham. Tak ada lagi yang dilakukan. Setelah dua prianya keluar, gegas ia mengunci pintu. Waktu terus berlalu, suasana semakin hening. Rumah besar terasa begitu sunyi, hanya detik jarum jam yang menemani. Arum setia duduk di shofa putih sembari memainkan ponselnya. Sesekali, ia menyalakan televisi untuk menciptakan sedikit keramaian. Tak urung pula, ia mematikannya lagi karena tak menemukan tontonan sesuai selera.
Tetiba lidahnya menyecap rasa, pertanda ia ingin makan atau minum sesuatu. Bukan lapar, nyatanya, ia hanya sedang bosan dan ingin ngemil apapun yang menurutnya enak. Ia pun beranjak menuju dapur, mengambil sepotong brownis di lemari es. Dinginnya malam seolah tak terasa sekarang. Bagaimana tidak? Ia tampak begitu menikmati kue sembari rebahan di shofa.
Klik
Piring kecil di tangan jatuh begitu saja di atas shofa. Ruangan mendadak gelap, menciptakan aroma menakutkan. Sementara Arum kelabakan, bingung harus berbuat apa. Keringat di kening mulai muncul, pun telapak tanganya terasa dingin dan basah. Ah, ia sungguh ketakutan sekarang.
"Lampu mati, ya Allah. Arum takut," cicitnya lemah.
Kini, ia meraba-raba meja, mencari keberadaan ponselnya. Sejenak, ia mampu bernaoas lega saat telah menemukannya. Gegas jemarinya mencari nama Pak Zuhan dan meneleponnya berulang-ulang. Tepat di panggilan ke empat, Arum hampir putus asa dan hendak mematikannya. Beruntung, yang ditelepon mengangkatnya.
"Assalamualikum. Pak Zuhan, cepet pulang!" perintahnya sambil menangis.
"Waalaikumsalam. Ada apa, Rum? Kenapa menangis?"
"Cepet pulang, Pak. Arum takut."
"Pulangnya masih lama, Rum. Kena-"
Arum semakin gusar saat sambungan terputus begitu saja. Rupanya, alam sedang tak memihaknya. Ponsel yang ia anggap sebagai penolong harus off di saat yang tidak tepat. Kini, ia duduk sembari membenamkan wajah di kedua lututnya. Bak anak kecil menangis ketakutan, bedanya, ia tak sampai sesenggukan.
Tok tok tok
Tepat sekali. Arum tersenyum lega mendegar ketukan pintu. Ia pun berjalan cepat meski sesekali harus menabrak sesuatu, entah apa itu karena seluruh ruangan begitu gelap. Tiba di depan pintu, ia membuka dan mendapati sosok lelaki berdiri tegap.
"Pak Zuhan ..."
Arum berkata dengan nada ketakutan dan menyergap tubuh lelaki yang ia panggil sebagai Zuhan. Ia membenamkan wajah pada dada bidangnya sembari menghapus air mata. Sesaat, rasa takut itu hilang perlahan.
"A-Arumi ..."
Rengkuhan itu terlepas begitu saja. Pemilik suara bariton itu bukanlah Zuhan, melainkan adik iparnya. Arum semakin kalut dan merutuki kebodohannya.
"M-mas Syafiq ... maaf, Arum ..."
Tetiba muncul cahaya menyilaukan mata duan insan itu. Arum menoleh sembari menghalangi silau senter yang mengganggu penglihatannya. Tampak lelaki di depannya menatapnya begitu intens, membuat Arum semakin takut.
"Rum, Fiq, kalian ..."
Arum gelagapan, takut terjadi lagi salah paham. Ia pun berlari menyerbu tubuh lelakinya. Entahlah, ia tak bermaksid pura-pura memeluk, karena kenyataannya, perempuan itu begitu membutuhkan suaminya sedari tadi.
"Pak Zuhan, kenapa lama sekali? Arum ketakutan tadi."
Zuhan masih setia bungkam. Tangannya sama sekali tak bergerak untuk membalas pelukan sang istri. Napasnya justru terdengar berat seolah telah lelah dengan segala yang terjadi.
"Pak ..."
Arum mencoba memanggil, tetapi seketika lidahnya tercekat tak mampu melanjutkan. Sementara Zuhan menatap Syafiq, seolah menerka apa yang sebenarnya terjadi.
"Kak, Syafiq bisa jelaskan. Ini nggak seperti yang kakak lihat. Tadi ..."
"Masuk kamar, Fiq!" potong Zuhan cepat.
"Kak ..."
"Masuk kamar!" Suara itu pelan, tetapi begitu tegas. Setelahnya, Zuhan mencekal pergelangan Arum sembari memandangnya begitu dalam. "Jelaskan semua di kamar, Rum!"
***
Lagi dan lagi, Arum lelah jika terus menjalani malam dengan ketakutan dan kegelisahan. Penyebabnya pun tetap sama, yakni kesalahpahaman. Kali ini, perempuan itu diam, tak bermaksud menjelaskan. Katanya, ia sengaja sampai sang suami reda amarahnya dan minta penjelasan. Keduanya duduk bersebalahan, tetapi tak saling berbicara. Hanya deru napasnya yang terdengar.
"Rum ..."
"Pak ..."
Ah, sepertinya, Arum dan Zuhan sama-sama muak jika terus saling diam, hingga sekadar memanggil nama pun harus terucap bersamaan.
"Jelaskan, Rum. Aku siap mendengarkan."
"Pak Zuhan tidak marah?"
Zuhan mengedikkan bahu, pertanda ia pun tak tahu harus marah atau menerimanya begitu saja. "Karena belum tentu yang kulihat itu sesuai fakta."
Ada rasa lega menjalar. Arum pun menjelaskan semua tanpa ada yang ditutupi. Sesekali, ia memegang jemari tangan sang suami, berharap lelaki halalnya mempercayai segala yang diucapkan.
"Sekali lagi, Arum minta maaf, Pak. Arum ketakutan, nunggu Pak Zuhan lama. Tiba-tiba Mas Syafiq datang, jadi ya, Arum pikir itu njenengan."
"Apa itu artinya, kamu benar-benar mengharapkan kedatangku, Rum?"
"Sangat, Pak. Saat takut, Arum cuma ingat njenengan, makanya tadi telepon sambil nangis biar njenengan cepat pulang."
Mendengar itu, Zuhan memandangnya lekat, pun Arum membalas tatapan sang suami begitu dalam. Hingga perempuan itu sedikit terkejut akan dekapan pria halalnya yang secara tiba-tiba. Namun, ia tak bisa memungkiri bahwa dirinya pun merasa bahagia hingga ikut membalas rengkuhan sang suami.
"Trimakasih, Rum."
Diam-diam, Arum menahan tangis. Sungguh, ia begitu tersentuh dengan semua kesabaran dan ketulusan Zuhan. "Trimakasih juga karena selalu memercayai dan menyayangi Arum, Pak."
"Nggak ada alasan untuk tidak mempercayai dan menyayangimu, Rum. Kamu tulang rusukku yang harus kujaga dan kuperlakukan dengan lembut."
- Dapatkan link
- X
- Aplikasi Lainnya
Komentar
Posting Komentar